Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Tolong belikan aku sesuatu ya, Nur?


"Yah... Andai Aida tahu, jika Ayah menyimpan uang itu untuk Aida. Aida pasti akan meminta hak Aida dari awal. Aida akan kuliah yang jauh dan pergi dari sini sementara. Mengghindari kejamnya Tante Arum. Aida sakit, Yah. Sakit Aida di perlakukan seperti ini. Semua serba di atur, harus kesana dan harus kemari. Bahkan, kuliah pun harus menuruti maunya. Dan sayangnya, hanya bisa kuliah disini saja karena biaya dan sebagainya. Aida tertekan, Yah." lamun Aida, memikirkan semua nasib buruk yang telah Ia alami.


Cita-cita seorang Aida adalah menjadi Designer. Ia ingin berkeliling indonesia untuk memperkenalkan semua karyanya. Tapi harus pupus, ketika di paksa masuk kebidanan oleh Tantenya.


" Ngga pantes jadi Designer. Bidan aja, udah. Bisa jadi pegawai kontrak disini." hina Tantenya kala itu.


Sebuah motor matic berhenti tepat di depan warung. Tono turun, dan Om Edo langsung saja tanpa mau menyapa Ibunya terlebih dulu. Aida langsung berdiri, menyambut dan mencium tangan suaminya.


"Gimana kerjanya?"


"Capek, Nur. Apa aku yang lemah, apa memang ini bukan basic ku. Tapi lumayan, buat tambah-tambah bayar hutang cincin ke Tante Rum." jawab Tono.


"Ada sih, uangnya....."


"Jangan, Nur. Itu kan maskawin ku. Masa iya, kamu yang bayar. Biarin aja, aku udah ngomong sama Om Edo. Tunggu beberapa hari." balas Tono.


Nek Mis pun ikut keluar, setelah shalat Ashar. Ia melihat ke halaman, dan kembali tertunduk ketika yang Ia cari tak ditemukan. Ya, siapa lagi kalau bukan anak kesayangannya. Ia sangat berharap, untuk dapat bertegur sapa dan bahkan memeluk putranya itu.


"Katanya, Om lagi banyak kerjaan, Nek." ucap Tono, yang memperhatikan air muka Nek Mis saat itu.


"Ya, selalu saja itu alasan yang Ia berikan." jawab Nek Mis, kembali ke dalam dengan wajah sedihnya.


Aida keluar ketika Nek Mis masuk. Ia membawa secangkir teh untuk Tono dan memberikannya. Tanpa bertanya, Ia tahu apa yang terjadi pada sang Nenek. Memaklumi, meski tetap kesal pada Om Edo yang belum juga berubah sejak dulu.


"Mas, pergi yuk?" ajak Aida.


"Kemana?"


"Semua pantes, Nur. Aku juga cuma kuli. Jadi ngga perlu bagus-bagus banget. Tapi....." Tono menoleh ke sekitar, dan berbisik pada istrinya dengan begitu pelan. "Belikan aku ****** *****, Nur. Dari kemarin ngga pakai."


Aida melotot dengan begitu lebar. Nyaris saja tersedak, meski tak sedang memakan apapun.


"Ya Allah, Mas. Aida ngga kepikiran sampai kesana. Maaf, Mas. Maaf banget," sesalnya, dengan wajah merah seperti tomat yang kematangan. "Kasihan, pasti ngga nyaman."


Ia kemudian berlari, meminjam kunci motor Mei dan memberikannya pada Tono untuk menyetir.


"Kepasar, ya? Aida tunjukin jalan nya. Nanti, pilih aja apa yang Mas perlu."


"Iya, terimakasih," jawab Tono, yang mulai start.


Sore hari yang indah untuk dinikmati berdua. Berjalan menyusuri pinggiran pantai, dengan cahaya matahari yang berwarna ke emasan. Hangat diterpa deburan ombak yang tinggi mengiringi perjalanan keduanya.


Mereka telah tiba di pasar tradisional, tempat Nek Mis biasa berbelanja. Banyak baju murah di sana, dengan kualitas yang lumayan bagus. Sesuai dengan ekonomi masyarakatnya.


"Kita, belanja disini?"


"Iya, Mas. Kenapa? Ngga cocok?"


"Ngga tahu, Nur. Serasa asing ketika diajak masuk ke pasar."


"Apa, Mas biasanya belanja di Mall besar?"


"Enggg,  ngga tahu, Nur. Ngga inget juga." garuk Tono di kepalanya.