
"Jangan asal ngomong kamu, Da!"
"Sama seperti Tante, yang selalu asal ngomongnya."
"Aaaaakkkhh! Nur... Tolong, kepalaku sakit lagi." pekik Tono, yang menggenggam erat bahu Aida.
"Mas, Mas kenapa?" Aida tampak khawatir lagi padanya.
Tono terhuyung, bahkan jatuh tersungkur memegangi kepalanya. Berdenyut, dan telinganya berdenging begitu keras. Kegelapan kembali membayanginya.
"Lelaki yang bahkan tak bisa membelamu sendiri, Aida. Tak pantas dipertahankan." Tante Rum kembali mencibir.
Aida sudah mengepalkan tangannya dengan begitu kuat, menahan segala amarah yang ada. Ingin rasa Ia menghampiri dan memberi sentuhan lembut pada bibit bergincu merah itu. Agar, gincu merahnya semakin merona.
"Plaaaak!" Bu Ningsih, rupanya datang mewakilinya.
"Tetep ngga bisa jaga omongan!" Omelnya. Tante Rum tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya menatap Bu Ning dengan tatapan nyalang, penuh dengan kebencian.
"Mau apa? Mau lawan aku? Ayo, sini. Berani kamu?" tantang Bu Ning, yang sudah menggulung lengan gamisnya.
Tante Rum menghentakkan kakinya. Ia pun berlari keluar meninggalkan mereka semua. Entah kemana Om Edo, hingga tak hadir dalam huru hara itu.
"Pak Usman, tolong bawa Mas Tono pulang."pinta Nur, pada supir angkot langganannya itu.
Pak Usman memapah Tono. Serasa Tono tak ingin lepas dari genggaman Nurnya.
"Aida nyusul, mau mampir cari obat Mas dulu." ucapnya.
Aida keluar. Ia menatap motor tua itu sedih. Akhirnya, setelah sekian lama Ia tahan, Ia akhirnya kembali memakainya dengan tangan sendiri. Menghilangkan semua rasa sakit teringat sang Ayah, demi sang suami yang terkapar disana.
"Bismillah," ucapnya lirih, lalu mulai menghidupkan motornya. Sedikit bergetar hatinya, karena seketika mengingat semua kenangan masa kecil itu. Ketika Ia sering di bonceng sang Ayah kesekolah. Hingga Ia bisa mengendarainya sendiri.
"Tahan, Da, Tahan. Ingat, Mas Tono nunggu kamu dirumah." gumamnya, dan mempercepat laju motornya.
Aida tiba di apotek terdekat. Apotek Rumah sakit, persisnya. Ia meminta obat Tono yang biasa Ia beli, dan langsung pulang ketika telah mendapatkannya.
"Ton, Mamang mau ke acara, gimana?"
"Mamang pergi aja, ngga papa. Tono bisa, dirumah sendiri. Nanti, Nur pulang."
"Baiklah, Mamang pergi dulu. Jaga diri baik-baik, jangan memaksakan berdiri." pinta Mang Usman. Dan Tono hanya mengangguk padanya.
"Apa benar aku membunuhnya? Apa benar jika aku lah yang membuat Nek Mis kehilangan nyawanya? Andaikan aku bisa meraih tubuh itu dengan cepat, apakah benar, Nenek akan selamat?" batin Tono berkecamuk. Ia selalu terkenang dengan ucapan Tante Rum. Dan memang bukan Tante Rum saja, tapi banyak orang mengatakan itu padanya. Terlepas, hanya candaan atau serius.
Air mata Tono keluar, Ia memeluk lutut menangis dan meratapi nasibnya. Ia bahkan menjambaki rambutnya, berharap terus agar sedikit memiliki ingatan yang kembali.
"Setidaknya sedikit saja. SEDIKIT SAJA!" pekik Tono yang nampak frustasi.
Untungnya, tak lama setelah Mang Usman pergi, Aida datang. Ia bergegas masuk, ketika mendengar teriakan Tono dengan begitu keras. Ia langsung menghampirinya.
"Mas, Mas kenapa? Ngga boleh begitu? Jangan memaksa jika ngga mampu." peluk Aida padanya. Tono bersandar di bahu Aida, berharap dirinya semakin tenang dengan itu.
"Baru tadi, Aida nangis. Kenapa sekarang gantian? Ngga malu, sama Aida?" ledeknya. Tapi, itu bukanlah waktu yang tepat untuk saling ledek sekarang.