Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Cahaya terindahku.


"Lah, Mang Usman udah dateng? Kenapa ngga masuk?" gumam Aida, yang menemukan semua barang di teras warungnya.


"kayak gini, kerja dua kali lah," gerutunya, mulai mengangkati semua barang yang ada di depan. Sementara Tono, justru terlentang santai tempat tidurnya.


"Mas! Bantuin. Malah rebahan," liriknya sinis.


"Hah? Iya, iya." Tono langsung berdiri dan keluar mengikuti perintah sang istri. Aida mengikuti nya lagi, berjalan berdua keluar dan sama-sama mengangkat bebannya.


"Lah, ngapain melongo? Ini angkat. Banyak loh." tegur Aida lagi, dengan beban beratnya. Tapi, Tono justru mengambil kardus kecil yang paling ringan disana. Aida hanya melotot, lalu berkacak pinggang melihat tingkah suami dadakannya itu.


"Loh, Nur kok malah diem. Kan udah dibantuin angkat. Ini kan, barangnya?" sapa Tono, yang melenggang jauh di depannya.


"Astaghfirullah," elusnya di dada.


"Udah, kan?  Yuk, pulang." ajak Tono dengan muka senyumnya yang manis. Manis, tapi menjengkelkan. Ingin sekali rasanya Aida memukulnya sekali lagi, untuk meluapkan segala rasa kesalnya.


Perjalanan mereka kembali damai. Melalu pinggiran pantai dengan pemandangan seperti biasanya. Aida mendadak menggandeng lengan Tono, dan membawanya masuk kedalam air nya yang jernih.


"Nur! Nur jangan macem-macem Nur. Aku takut, Nur." tolak Tono yang menahan diri dari tarikan Aida.


"Bentar, dikit aja. Kenalan sama pantai. Nanti, lama-lama biasa, terus kenalan sama air laut."


"Berenang?"


"Nur... Aku, Aku ngga bisa."


"Mas, sebentar." tatap Aida. Tapi, Tono justru melepas genggaman itu. Ia menutup telinganya, terpejam seolah mendapat sebuah kenangan buruk dari sana. Nafasnya kembali tersengal, dan wajahnya di penuhi keringat dingin yang menetes.


"Nur, ngga bisa, Nur. Aku ngga bisa!" Tono memekik, lalu mencari sebuah batu besar untuknya duduk dan meringkuk. Di hantui semua rasa takut dan cemas yang membayangi. Seperti ketika Ia terombang ambing di lautan yang luas dan dingin.


"Gelap... Aku... Aku tenggelam. Aku ngga. Bisa," gelengnya.


Aida merasa bersalah dalam hal ini. Tapi sesuatu yang telah Ia temukan, jika kemungkinan Tono hanyut pada malam hari. Gelap, dan begitu dingin. Sesuai dengan penggambaran yang Ia takutkan saat ini.


" Mas, maafkan Aida. Aida hanya ingin, agar sedikit rasa trauma itu hilang." Aida melangkah pelan, menghampiri suaminya yang terdiam memeluk lututnya disana.


"Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa, Nur. Ini terlalu menakutkan untukku. Aku berusaha melawan, tapi terlalu sakit rasanya. Bahkan, untuk nafasnya sesak dan serasa tercekatnya kerongkongan karena rasa yang teramat dalam itu.


Aida semakin sedih menatapnya. Ia semakin mendekat, meraih tubuh Tono dan memeluknya erat. Di usapnya rambut penuh keringat itu, dan juga pundaknya agar sedikit merasa tenang.


"Ya, tenggelam dalam air dalam kegelapan, memang benar-benar membuatmu sesak. Seperti halnya aku, yang juga merasakan hal yang sama kala itu. Dan bahkan, Ayah pun meninggal gara-gara aku." batin Aida, kembali terkenang dengan kejadian pahit tempo dulu.


Tono sudah tak menangis lagi. Tampaknya pun sudah sedikit tenang kali ini. Ia. Aida menggandeng tangan itu dengan erat, sepanjang perjalanan kepantai. Rasa kesal yang sejak tadi memuncah di hatinya, seakan hilang berganti dengan segala canda dan tawa berdua.


"Nur, terimakasih selalu menjadi cahayaku. Meski aku, akan selalu tampak redup jika tanpamu. Aku seolah tak bisa jauh lagi, Nur."