
"Ooppps! Sory," lirihnya. Menutup pintunya kembali, dan menguncinya dari luar.
"Mas, itu Mei. Dia lihat kita." ucap Aida. Melepas pangutaannya.
"Biarin, Dia udah dewasa. Nyatanya keluar lagi."
"Tapi...." Bingung Aida, tak enak hati dengan sahabatnya.
*
"Kak Mei, ada apa? Kok balik keluar lagi?" tanya Mona.
"Hehe, ngga papa. Kerumah Ibu Mei aja yuk, Kak Mona? Nanti Mei ajak ngopi disana." tawar Mei.
"Tapi, saya ngga ngopi."
"Udeh, ayok ah." tarik Mei ke lengan Mona. Disusul suara Tono memanggilnya dari dalam.
"Mei, beri aku Dua jam. Ajak Mona bermain." pinta nya.
"Dua jam? Lama bener?" gumam Mei.
"Iya, Mei ajak kerumah Ibuk." balasnya keras. Mei mengajak Mona kembali naik mobil, lalu berjalan menuju rumahnya yang sedikit jauh dari rumah Aida dan Tono.
"Kenapa pergi?"
"Mba Mona, harap maklum, ya? Namanya mereka pengantin baru, lagi anget-angetnya. Malah, mau di pisahin sementara. Kan kasihan,"
"Oh, iya." angguk Mona. Entah mengerti, entah tidak dengan ucapan Mei. Yang jelas, Ia harus menelpon Sam untuk memundurkan waktu mereka berangkat ke kota.
"Baiklah, aku faham. Nanti, bawa istrinya juga kemari. Aku ingin mengenalnya." pinta Sam. Dan Mona menyanggupinya.
Tono masih bergerilnya di bibir Aida. Menikmaati setiap panguutan manisnya dengan saling membeelit liidah disana. Aida pun semakin intens, dengan melingkarkan kaki nya di pinggan Tono dengan erat.
"Aku mau Kau, saat ini juga." bisik Tono, melepasnya sejenak untuk menghela nafas.
Tak ada kata lain yang di ucapkan Aida. Hanya meraih tangan Tono, dan mengecupi telapak tangannya. Sebuah jawaban berarti bagi pria yang penuh damba itu. Ia langsung mengangkat tubuh Aida yang sedari tadi memang tak lepas darinya. Membawanya ke dalam kamar dan menurunkan nya di ranjaang mereka yang seolah memanggil dan memanaskan suasana.
Aida segera meraih dari Tono, melepas jasnya dan menarik dasinya secara brutal. Naafasnya naik turun dengan cepat. Lalu, dengan cepat membuka kanciing kemeja Tono. Tono pun tak tinggal diam, melakukan hal yang sama pada istrinya.
Nafas Tono kian memburu, menyesap tiap jengkal keindahan yang ada di hadapannya. Aida hanya menggeliat, menerima setiap yang Tono berikan. Permainan semakin pa naas, ketika Tono mulai mendominasi dirinya. Membuat Aida seolah frustasi dengan apa yang Ia terima. Ia meraih jari jemari sang suami, dan melumaatnya untuk menahan suara yang serasa akan pecah.
Aida membalik posisi. Ia duduk dan kembali melingkarkan kakinya di pinggang Tono. Mulai bergerak lembut disana. Pria itu tak tinggal diam, apalagi ada sesuatu yang begitu indah di depan matanya. Mengikuti irama cinta yang mereka ciptakan dengan begitu indah
Dua jam, rasanya tak cukup untuk mereka melepas rindu. Tapi, itu sudah janjinya pada Sam dan Mei. Ia harus melepas semuanya dengan cepat, dan menunaikan janjinya.
Hawa semakin panas, di iringi suara-suara mereka yang saling bersahutan. Hingga akhirnya, sama-sama menarik nafas lega mengakhiri semua permainan. Tono mengecuupi bibiir Aida bertubi-tubi, setelah penyatuan mereka.
"Sebentar lagi, mereka menjemputku. Tak ada yang perlu dibawa kesana." ucap Tono..
"Mau bawa apa? Barang disini, semuanya barang murahan. Ngga pantes juga dibawa kesana." balas Aida, sembari menyisir rambutnya yang basah.
"Tapi kamu berharga, lebih dari segalanya." rayu Tono.
Aida cemberut, lalu menghampiri Tono untuk kembali memasang dasinya.
"Bisa?" goda Tono.
"Jangan meremehkan. Aida yang buka tadi, masa Aida ngga bisa masang." tukasnya. Dan Tono hanya tersenyum, ketika Nur nya itu kembali galak seperti mode utamanya.