Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Aku menyerah


Aida tahu, dan melihat kesungguhan Sam sebenarnya pada Mei. Namun, Ia juga tahu bagaimana rasanya belum ikhlas melepas masa lalu. Apalagi, dengan segala rasa sakit yang Sam hadapi. Sakit, tapi masih bisa menyakiti yang lain demi menebus rasa sakitnya.


"Aida ngga bermaksud mematahkan harapan kalian. Atau bahkan, mematahkan semangat Kak Sam untuk berubah. Mei itu Aida anggal adik sendiri, dan tanggung jawab Aida disini. Aida juga ngga pernah bisa, ikut menghakimi Kak Sam. Aida sadar, jika Aida bukan siapapun."


Sam hanya menundukkan kepalanya. Ia pun sadar diri, bahwa kesalahannya itu baru saja terkuak. Ibarat berucap, bahkan air ludahnya saja belum mengering dari bibirnya.


" Aku akan menunggu. Aku akan buktikan, jika aku serius pada Mei." jawab Sam dengan begitu antusias.


Aida hanya diam, masih tampak begitu jengah. Dan itu tak dapat disembunyikan lag8 dengan senyum palsunya. Ia pun mengajak Mei pulang, agar Ia dapat beristirahat di kamarnya.


" Ai, Mei serius. "


" Tentang apa? "


" Tentang Kak Sam. Bukankah, harus nya kita beri suport untuk dia? Jangan sampai dia makin down, dan berbuat yang aneh-aneh."


"Lalu, bagaimana? Kamu bersedia karena memang cinta, atau hanya sekedar simpati? Pernikahan itu ngga main-main, Mei."


"Mei, tahu. Mei faham, Ai. Mei ngga pernah ada niat main-main kok. Mei akan rawat Kak Sam, seperti Aida rawat Mas Tono. Meski, ini bukan penyakit fisik." bujuk Mei.


Aida tak menjawab. Kepalanya terasa sakit dan berkunang kunang. Bahkan, wajahnya tampak pucat kali ini. Ia hanya menyandarkan kepalanya di jendela mobil, dengan sedikit memejamkan matanya. Mei pun tak berani melanjutkan ucapan atau pun argumennya. Diam dan sesekali mengusap lukanya yang terbalut dengan kain kasa yang begitu rapi.


Mereka telah tiba dirumah. Disambut dengan pelayan yang memang tengah membersihkan bagian teras rumah itu. Satu menghampiri Aida yang pucat, dan satu lagi menghampiri Mei yang terluka.


"Engga, cuma ada insiden sedikit. Saya ke kamar, beri saya Satu jam tanpa gangguan. Termasuk kamu, Mei." ucap Aida, yang sontak membuat Mei merasa cemas.


"Ai... Ai marah sama Mei?"


"Engga, cuma capek aja." jawabnya, lalu melenggang menaiki tangga, menuju kamarnya. Aida pun langsung menghenpaskan tubuhnya diatas ranjang, berusaha memejamkan mata untuk menahan sakit yang ada. Ia bahkan begitu malas, hanya sekedar untuk melaporkan kondisinya pada sang suami.


***


"Aku sudah ngga sanggup. Aku ngga bisa lagi berpura-pura. Dia sudah memiliki tambatan hati, aku tak bisa terus disana."


"Bodoh kau Bi! Kami sudah memperjuangkanmu masuk ke dalam keluarga itu. Hanya begini saja kekuatanmu! Tak bisa diandalkan."


"Aku masuk dan bertahan, hanya karena ada Ray disana. Karena dia, aku menguatkan diriku sendiri. Dan sekarang, aku tak bisa lagi. Aku menyerah."


Mami Bian bahkan bersimpuh dan memohon. Orang itu adalah Ibunya, Ibu yang menyetirnya dari belakang. Menggantungkan hidup dari sang Anak yang masih memanfaatkan posisinya di istana besar itu.


" Ma, Bianca ngga bisa. Sakit jika terus melihat mereka bersama. Bian ngga bisa, Ma. Ngga sanggup rasanya." tangisnya histeris.


"Lalu, kau akan pergi? Lalu, kau akan menjadi janda miskin diluar sana? Kau fikir, siapa yang mau denganmu. Bahkan untuk memiliki anak pun tak bisa."


Ucapan yang begitu menyakitkan, dari seorang Ibu untuk anaknya. Begitu perih, meski sudah berulang kali Ia ucapkan dengan kata yang sama.