
Cling! Sebuah pemberitahuan dari Hp Aida berbunyi. Ia yang tengah sarapan, langsung membuka dan membaca notifikasinya.
"Astaghfirullah." kagetnya dengan mata melotot. Bahkan air yang baru saja Ia minum, nyaris Ia semburkan lagi.
"Kenapa, Ai? Apa yang terjadi?" Mei tak kalah kagetnya.
Aida hanya diam mematung. Ia menunjukkan isi notifikasi dari M-Banking nya pada Mei.
"Wow, Amazing." tatap Mei dengan tajam. "Ini banyak banget, dari siapa?"
"Dari Mas Tono." jawab Aida, dengan tangan gemetaran kembali meraih minumnya.
"Ngasih sebanyak ini, buat apa?"
"Katanya uang bulanan, tapi.... Mei, aku cemas." ucap Aida dengan wajah pucatnya.
"Lah, cemas kenapa? Dikasih duit kok cemas?"
"Cemas, Mei. Nanti, kalau setelah ngasih duit, Mas Tono ngga pernah hubungin lagi, gimana? Dan kalau ternyata uang itu adalah uang tanda..."
"Hustt! Ngaco kamu. Mas Tono ngga akan begitu. Kalau pun begitu, itu uang kita pakai, buat nyamperin dia di rumah besarnya itu." tukas Mei. Ia mengembalikan Hp itu pada Aida. Dan wanita itu menerima nya lagi, dengan tangan yang begitu dingin.
Tiga Ratus juta. Bahkan Aida tak pernah bermimpi memiliki uang sebanyak itu. Ia cukup sadar diri, untuk tidak membenani fikirannya dengan keinginan yang terlalu besar.
"Tunggu nanti sore. Kalau Mas Tono hubungin lagi, kamu tanya aja." Mei kembali menenangkan sahabatnya itu. "Ngga usah buka warung lagi, kalau sebulan dapat segitu." tawanya genit.
*
"Ray, ada laporan Mona jika kau baru mentransfer uang. Untuk apa sebanyak itu?" tanya Dev.
"Untuk istriku."
"Hah, apa? Kau punya istri?" Dev memicingkan mata..
"Astaga, aku keceplosan."lirih Ray dengan menepuk mulutnya.
" Okey, begini saja. Aku butuh kejujuranmu, agar aku dapat mengaudit semua pengeluaran dengan jelas. Uang ini, untuk siapa?" Dev sekali lagi bertanya.
" A-aku.... "
"Aku tak menekan, aku hanya bertanya. Uang Tiga ratus juta, harus jelas keluarnya kemana. Aku hanya tak ingin, jika Ray dimanfaatkan karna sakit nya ini." tukas Dev.
"Ya, aku mengerti maksudmu. Tapi... Ray mengirim uang itu untuk istrinya. Semua atas persetujuanku." jawab Sam.
Dev kembali terbelalak. Ia memijat pelitpisnya dengan sedikit kasar, hingga menimbulkan tanda merah disana.
"Apa yang kalian rahasiakan dariku? Kalian sama seperti mereka. Selalu menganggapku tak berguna."
"Dev, bukan begitu, tapi...."
"Ya, itu rahasia, Sam. Apalagi dari Tante Bian. Sebodoh itu kah aku, menurut kalian?" semua rasa kecewa, Dev tumpahkan saat ini.
"Dev, Sam, maaf. Aku tak bermaksud." potong Ray.
Akhirnya Sam mengalah. Ia mengajak kedua sepupunya untuk duduk bersama dan membicarakan semuanya. Mengenai Nur, dan pernikahan itu.
"Bisa-bisanya. Aku mencarimu disana dengan susah, tapi kau memadu cinta dengan wanita."
"Dia yang merawatku selama ini. Aku berhutang nyawa padanya." jawab Ray, dengan wajah yang memang serius, ketika Ia membahas Aida.
"Baiklah. Semua laporan akan ku buat. Kita bertiga akan...."
"Ber Empat. Mona mengetahui rahasia ini." potong sam.
"Haish, dia memang begitu setia dengan rahasianya." gerutu Dev.
"Baiklah. Kita ber Empat akan merahasiakannya. Asisten, sekretaris, dan manager keuangan. Kami sama-sama melindungimu dan isyrumu." ucap Dev. "Tinggak bagaimana, dengan omelan wanita itu lagi."
"Terimakasih, Dev. Sekali lagi, maaf." ucap Rayan. Dev pun pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kau percaya padanya?" lirih Sam.
"Dalam hatiku, aku yakin jika Ia dapat di percaya." balas Ray. "Entah bagaimana masa lalu kami. Tapi naluriku bilang jika Ia baik."
"Ya, terserah kau saja," tepuk Sam di bahu Ray.