
"Make upnya sudah, Nyonya." ucap seorang pelayan yang diminta mendandani Aida. Ia kini tampak semakin cantik, dengan make up yang terpoles di wajah nya itu.
"Ini, ngga ketebelan?" tanya Aida pada sang suami.
"Engga, itu masih terkesan natural. Kemarin, lebih menor dari itu." jawab Ray, yang datang dan membantu Aida menarik resleting gaun nya.
"Kapan?" tanya Aida.
Ray hanya tersenyum, lalu mengecup bahu Aida yang terbuka. "Bisa-bisanya, Mona memberimu gaun seperti ini. Terlalu terbuka," gerutunya.
"Aida nanya, kapan Aida menor?"
"Kemarin, waktu hampir di nikahin Amrul." jawab Ray. Kali ini Ia meraih heels Aida, dan berlutut memakaikan nya.
"Aida bisa sendiri," Aida menunduk, berusaha meraih sepatu itu dari Ray. Tapi, itu justru membuat Ray menatap pada anak kembarnya nya yang terbuka. Aida pun langsung menutupnya.
"Maaf, Mas. Aida duduk deh, Mas aja pakein sepatunya." ucapnya pasrah.
Kedua sepatu itu tak terlalu tinggi. Hanya saja, memiliki tali yang sedikit rumit melingkar hingga ke betisnya. Cup! Ray mengecup sekali betis itu, usai memakaikan nya pada sang istri. Ia pun mengulurkan telapak tangan nya.
" Ayo," ajaknya lembut. Aida meraihnya, beberapa kali mengatur nafasnya yang bergemuruh tak karuan.
"Aida, baru pertama kali dateng ke pesta orang kaya." ucapnya.
"Banyak yang akan menjagamu disana." Aida mengangguk, lalu menggenggam tangan Ray dengan erat. Mereka berdiri, dan berjalan berdua untuk turun kebawah menemui yang lain.
"Mana, lama banget?" gerutu Mami Bian, yang telah menunggu daritadi.
"Sabar lah. Yang mendandani saja baru keluar." jawab Sam, sibuk dengan jam tangan barunya.
"Tak pernah dandan. Pasti sangat sulit untuk meriasnya." Mami Bian mencebik.
"Mas Sam," panggil Mei, yang juga keluar dari kamarnya. Dengan gaun putih yang tadi siang dipinjam kan Mami Bian padanya.
"M-Mei?" tatapnya takjub.
"Gaun itu? Kamu apakan gaun nya?" tanya Mami Bian. Dalam hatinya takjub, meski bibirnya tetap saja mencibir.
"Iya, Ai yang modif, tadi. Cantik kan?" tanya Mei, dengan mengembangkan gaun itu dengan cerianya.
Suara langkah kaki menyusul. Aida dan Rayan turun bersama dengan rona yang begitu bahagia.
"Wow, Ai cantik banget." takjub Mei.
"Ya, Aida memang sangat cantik. Bahkan, sempurna." puji Sam. Mei langsung menginjak kaki Sam, hingga pria itu terpekik kesakitan.
"Kau gila!" tukasnya pada Mei.
"Huusssst! Itu istri sepupu. Ngga boleh lirik-lirik." tegur Mei padanya.
Sam hanya menatapnya sengit, sembari terus meringis mengusap kaki perih di dalam sepatunya itu.
"Ayo, berangkat." ajak Ray.
Sam mengangguk, lalu mendahului semuanya. Ia mengambil mobil di garasi, dan mengeluarkan yang besar agar muat untuk semua.
"Ayo sayang, masuk." gandeng Mami Bian. Namun, Ray menahan tangan nya.
"Mami masuk duluan." ucap Ray.
"Tapi kita biasanya di tengah. Biarkan Aida di belakang bersama Mei."
"Biar, Mei aja di belakang. Mami sama Mas Sam di depan." tawar Mei, berusaha menengahi.
"Bagaimana, Mam?" tanya Ray.
"Atau engga, Mami di tengah sama Mei. Aida dibelakang sama Mas Tono ngga papa. Iya kan, Mas?" tatapnya manja pada sang suami.
"Saya jijik, ketika kamu memanggil Rayan itu Tono. Hentikan!"
"Mam, Please," kedip mata Ray pada nya.
"Baiklah. Mami di depan. Tempat Mami memang di depan. Mami, tak akan pernah pindah ke belakang. Ingat itu." kesalnya.
Ray hanya mengangguk kan kepalanya ke samping. Membuka kan pintu untuk sang Mami duduk di sebelah Sam. Begitulah isi susunan mobil Alphard yang di kemudikan Sam saat ini. Dan Mei pun, begitu tenang duduk di belakang tanpa mau bicara sama sekali.