
Aida menatapnya, terharu dengan perlindungan yang Tono berikan padanya. Selalu saja, berusaha melindungi Aida, ditengah semua keterbatasannya.
"Engga," geleng Aida.
"Sudah, jangan perlihatkan lagi kesedihan itu. Cerialah seperti biasa." ucap Tono yang mengusap air mata Aida dengan lambut.
Aida kembali pada senyumnya. Membersihkan diri untuk menyambut sang nenek yang sebentar lagi akan pulang. Makanan enak pun sudah tersedia, hasil masakan dari keduanya.
"Aida, ini tolong bawain ke dalam." panggil Nek Mis, yang membawa beberapa belanjaan di tasnya.
"Iya, Nek." Aida menghampirinya.
Nek Mis memperhatikan gadis kecilnya itu. Ia tersenyum gemas, melihat tanda merah yang ada di tengkuk leher cucunya.
"Ya, harap maklum saja. Katanya kaget, belum cinta, atau apalah itu. Tapi mereka adalah suami istri, dan sudah sama-sama dewasa." gumamnya, cekikikan dalam hati.
"Nenek kenapa?" tanya Aida yang merasa aneh.
"Engga. Panggil Tono, kita makan malam bareng. Nenek udah lapar. Dia, juga pasti lapar kan?"
"Ah, iya." Angguk Aida, yang kembali membereskan ruang tamu dan memasukkan belanjaan ke kulkas di dapur.
Tanpa di panggil, Tono pun keluar dan menghampiri Aida. Ia langsung sigap membantunya. Diam-diam nenek memperhatikan tingkah mereka yang menggemaskan. Harapannya begitu jauh, bahkan hingga mendambakan cucu buyut dari keduanya.
"Aida, ambil pakaianmu ke rumah Om Edo. Tak enak, kamu disini tapi pakainmu disana." pinta sang nenek, disela makan malam mereka.
"Aida males kesana. Ada nenek sihir." jawabnya datar.
"Hah, siapa nenek sihir?" sahut Tono yang juga tengah melahap makan malamnya.
"Ngga perlu tahu," jawab Aida dengan ketus pada suaminya itu.
Tono hanya memanyunkan bibir dan meneruskan makan malamnya yang nikmat itu. Rasanya, sudah begitu lama Ia tak merasakan makanan enak. Entah kapan, atau hanya perasannya saja.
"Lahap banget makan nya? Nanti kekenyangan, perutnya sakit." tegur sang istri.
"Pergilah, ajak Tono kesana. Perkenalkan mereka berdua. Bukan Tante Arum, tapi Om Edo."
"Mereka satu paket, Nek. Dimana ada Om, ya disana ada Tante. Apalagi dirumah mereka. Biarin ah, biarin itu pakaian mau di apain. Dibuang, di hanyutin ke pantai."
"Aida," nenek menatap dan memohon padanya. Ia tak ingin, hanya karena sang Tante, maka rusak hubungan persaudaraan mereka. "Anggap Tantemu ngga ada disana. Bisa?"
"Susaaah. Orang badannya segede itu kok. Gimana mau pura-pura ngga ada, nek?"
Nenek terus berusaha membujuk nya. Karena meski tugasnya sebagai wali telah selesai, Om Edo tetap keluarga mereka.
"Iya, Aida kesana." pasrahnya.
"Bagus. Ajak Tono juga."
"Kekmana mau ajak? Dia aja makan ngga selesai juga daritadi." lirik kesalnya pada sang suami.
"Udah, Nur. Udah selesai ini," Tono menunjukkan piringnya yang telah bersih.
"Udah.... Berangkat sana. Biar ini nenek yang beresin."
Aida dan Tono kompak masuk kamar. Ia memberikan pakaian ganti pada suaminya, agar lebih pantas dilihat orang. Meski, memang yang ada semuanya pakaian kusam dan lawas.
"Besok, kita beli baju baru, ya?"
"Aku ngga punya uang, Nur. Aku belum kerja."
"Biar aku yang beliin. Aku punya uang kok. Tapi jangan yang mahal."
"Nur, aku ngga enak."
"Kalau ngga enak, cepetan sehat, terus kerja. Gantian deh, beliin aku baju baru."
"Iya, Nur. Aku usahakan. Terima kasih," usap Tono pada rambut indah itu. Aida hanya membalasnya dengan senyum. Menahan karena takut salah tingkah nantinya.