
Hay gaes. π Sebelum nya otor minta maaf, dengan label end yang mengganggu, padahal cerita masih lanjut. Kalau untuk readers lma, pasti faham. Tapi kalau untuk readers baru, cuma mau bilang kalau itu kemaren sengaja. ππKarena memang otor ngga enak badan dan lumayan parah π.
Lanjut yuk, ah. ππ
**
Mami Bian tersentak. Ia langsung mencengkram tangan Ray, dan berusaha menyingkirkannya dari leher yang mulai terasa nyeri.
"Ray, lepasin Mami. Kamu, kenapa seperti ini?" nafasnya tersengal, begitu sulit karena cengkraman itu memang begitu kuat.
"Aku diam ketika kau mengajaknya berdebat. Karena aku tahu, dia mampu jika hanya melawanmu. Tapi, jangan hina Nur di depanku. Jangan pernah."
"Mami... Hanya mengatakan kebenarannya, bukan? Apalagi sebutan yang tepat untuknya, ketika Ia pergi...."
"Dia tak pergi... Dia tetap disini." Ray melepas cengkramannya kali ini. Menyeret lengan Mami Bianca hingga jatuh terhempas dan tersungkur di lantai.
"Kamu kasar, Ray."
"Itu perlakuan yang pantas untukmu. Seorang yang harusnya menjadi Ibu yang mengayomi dan pantas di hormati. Namun, justru ingin menjadi penghancur untuk keluarga putranya sendiri."
"Rayan!" pekik Mami Bianca begitu kuat. Dengan segala rasa kecewanya, ketika putra yang selama ini menurutinya, kini bisa berprilaku begitu kasar padanya.
"Kamu berubah... Kamu tak seperti dulu, yang sayang sama Mami!" Sergahnya.
"Sayang yang bagaimana maumu? Sayang yang bagaimana! Bukan kah dengan masih membiarkanmu disini, itu menunjukkan jika aku menyayangimu?" bentak Ray, seolah tengah melampiaskan segala rasa emosinya pada sang Mami.
Air mata Mami Bian mulai tumpah kala itu. Menetes mebasahi pipi hingga jatuh ke tangan yang masih menopang dirinya di lantai. Mengingat kejadian itu, kala Ia kehilangan calon anak yang Ia kandung demi menolong Rayan. Namun, sebenarnya Ia memang tak terlalu mengharapkan anak itu lahir dari rahimnya.
"Kau, bahkan ingat itu?" Mami Bianca mengusap air matanya.
"Aku sangat mengingatnya. Karena aku lah yang menguburkannya, ketika Papi tak dapat melakukannya. Kau seharusnya beryukur, karena kau masih membiarkanmu disini, dengan semua kemewahan yang masih bisa kau nikmati. Aku tak mengusirmu, meski semua anggota dewan perusahaan bahkan sudah mencorengmu dari daftar pemilik saham..."
Bukan berhenti. Mami Bian justru menangis sejadi-jadinya. Mengundang Mei naik dan akhirnya melihat kejadian itu meski dari balik pintu.
Mami Bian tersungkur di lantai keramik itu, dan nyaris tampak bersujud di hadapan Ray. Ia tak ingin berburuk sangka pada sang Nenek Lampir. Tapi, Ia kasihan melihatnya dalam keadaan begitu.
"Seorang yang seperti itu pun, akan tampak lemah pada waktunya. Apalagi, ketika mendapat lawan yang benar-benar tepat." gumam Mei.
"Aku anak sambungmu, dan akan seperti itu seumur hidupmu."
"Tapi Mami mencintai kamu! Dari sebelum Papi mu datang dan meminta Mami menjadi istrinya. Semua perhatian yang Mami beri, bukan karena perhatian menjadi seorang Ibu." isaknya dengan nafas yang tersengal.
"Tak akan pernah bisa..." jawab Ray, dengan begitu tenang saat ini. "Dan sejak hari ini, dan setelah kejadian ini. Tahtamu dirumah ini ku hapus. Hanya tinggal memilih, bertahan atau pergi demi dirimu sendiri."
"Kamu mengusir Mami? Ray... Kamu ngga bisa lakukan itu sama Mami. Mami ngga akan pernah pergi dari rumah ini." tolaknya. Yang ingin masih disana, meski dengan tahta yang berbeda.
Ray hanya diam ditempatnya. Tak melakukan apapun, hingga Mami Bianca pergi dengan sendirinya dari sana.
" Kau tak memanfaatkan rasa hormatku padamu. Justru malah menyalahgunakan semuanya. Dan kini, ku berikan pilihan untukmu..." gumam Ray, dalam segala kesendiriannya.