Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Gila, kamu Rul!


"Hari ini, ke pesta Amrul?" tanya Tono pada sang istri yang tengah membereskan kamarnya.


"Males, ada Nenek lampir. Lagian, titip aja sama Mei. Beres."


"Masa gitu?"


"Ya, harus gimana? Kan memang gitu? Males, kalau mereka ngomongin  Mas lagi. Ini lah, itulah." celotehnya.


Tono menatapnya senyum, menarik tangan mungil itu agar Aida menatapnya. Lalu, Ia memegangi pipi Aida dengan kedua tanganya.


"Ngapa?" tanya Aida, datar.


"Aku yang dibully, kenapa kamu yang sakit hati?"


"Wajarlah, suami."


"Kalau kamu percaya denganku. Maka jangan pernah dengar kan apa kata orang lian. Jangan larut hanya dengan kata seandainya. Karena yang tahu tentang aku, hanya kamu." ucap Tono.


"Tapi... Tapi males, ada dia."


"Hindari. Masa hanya karena Satu orang, kamu menghindari banyak orang. Mereka yang ada disana, juga tahu bagaimana kalian."


Hati teras lega mendengar nasehatnya. Terasa begitu sejuk setiap untaian kata yang terucap dari bibir manisnya. Aida hanya bisa mengangguk, dengan apa yang dikatakan suaminya saat ini.


" Yaudah, ayo bersiap. Tapi, kalau Aida udah males, kita pulang, ya?"


"Iya," balas Tono, mengusap bahu sang istri.


Kedua nya lalu mengganti pakaian dengan yang lebih pantas. Meski tak semewah yang lainnya. Tapi, keduanya tampak serasi saat ini.


"Aida nanti jaga makanan. Mas duduk aja, gabung sama Mang usman. Kalau capek, pulang aja." ucap Aida, sembari merapikan kemeja Tono.


"Assalamualaikum," Mei pulang. Ia pun langsung masuk dan menggelar sarapan mereka di meja makan.


"Beuuuh, udah rapi aja." tatapnya pada pasangan itu.


"Lagian kamu, belanja sarapan lama amat."omel Aida, yang kemudian menyiapkan air minum.


" Ish, apaan, Mei? Tabok loh. " ancam Aida pada sahabatnya itu.


Tono hanya menggelengkan kepala. Tak heran lagi, meski kadang masih aneh dengan keduanya. Persahabatan, yang terasa lebih dari saudara. Dan bahkan, saudara sendiri justru meninggalkan dia saat itu.


" Apa, aku punya saudara seperti ini?" fikirnya melayang jauh.


Sarapan berlanjut dengan tenang. Mei selesai lebih dulu, untuk segera mengganti pakaiannya. Ia seragam dengan Aida, memakai gamis mekar berwarna coklat susu. Itu mereka beli ketika lebaran tahun lalu.


Mereka berangkat bersama dengan motor masing-masing. Aida dengan Tono tentunya, berjalan di depan Mei yang mengiring di belakang sembari bernyanyi.


"Tes vocal dulu. Nanti mau orgenan." gumamnya.


Tiba di pesta. Acar pun sudah akan dimulai. Aida berpisah dengan Tono untuk pergi ke pos masing-masing.


"Inget, pesen Aida."


"Iya," jawab Tono.


Aida pun masuk, menuju meja yang penuh makanan. Tak perlu acara resmi, karena Ijab qabul sudah di rumah Tasya beberapa hari lalu.


"Bu Ma, Aida ambil rendangnya dulu."


"Iya, Da. Ini tamunya sudah mulai banyak." jawab Bu Mar.


Aida melenggang kebelakang, memperhatiakan yang ada disana. Tak ada Tante Rum, dan Ia merasa lega. Tapi, seseorang menarik tubuhnya dan membawa ke sebuah ruangan.


"Eeeh, apa-apaan?" tukasnya. "Amrul! Apa-apaan kamu? Ngga sopan dilihat orang."


"Da, aku butuh bicara sama kamu."


"Apalagi? Kamu udah nikah, kamu udah mau punya anak. Jangan urusin aku lagi."


"Aku ngga cinta sama Tasya. Aku cintanya sama kamu. Aku ngga mau, sama gadis yang udah ngga perawan."


"Ngga cinta, tapi kamu udah hamilin dia. Gila kamu, Rul!"