
"Kamu suami Aida?" tanya seorang pria yang bekerja bersama Tono saat ini. Ia yang paling ramah, dan mau mengarahkan semua pekerjaan untuk Tono. Ia juga, yang sangat memaklumi semua kesalahan yang di lakukan Tono.
"Iya, Pak. Saya suami Aida."
"Hmm... Aida itu anak baik. Saya pun ngga percaya ketika kejadian itu ada. Tapi saya ngga bisa ngomong apa-apa. Maaf, ya?"
"Iya, Pak. Ngga papa. Mungkin memang udah jalannya begini. Doa kan saja, Pak. Semoga hubungan kami langgeng."
"Ya, amin. Kamu masih hilang ingatan?"
"Iya, bahkan sedikitpun tak ada yang tersangkut di dalam kepala saya. Mencoba mengingat, justru malah sakit."
"Loh, jangan di paksa. Jalani aja dulu, sekalian sembuhin lukanya. Nanti, lama-lama akan kembali." jawab Si Bapak ramah itu. Ia pun tak segan menjelaskan bagaimana sistem pembayaran gaji di sana. Harian, tapi di bayar seminggu sekali. Dan itu, sangat di syukuri oleh Tono yang memang baru awal bekerja.
" Segitu, kalau disimpan bisa belikan cincin buat Nur." harapnya dalam hati. Ia semakin semangat bekerja, dan semakin merasa kuat untuk sekarang.
*
"Mei, anter aku ke ATM lah."
"Hah, emang punya duit?" tanya Mei yang membulatkan matanya. Wajar, karena memang sebagai tenaga kerja suka rela, mereka jarang sekali mendapat gaji yang cukup. Bahkan, untuk sekedar menabung.
"Ternyata, Ayah ninggalin uang di Om Edo. Tapi jangan bilang siapapun loh," ancam Aida pada sahabatnya itu. "Mau beliin baju buat Mas Tono. Kasihan, baju bekas semua yang ada."
"Uuuh, so sweet. Ngga papa, meski dunia terbalik, tapi semoga hanya sementara." harap Mei. Ia kembali mengambil motornya. Penjagaan pantai tengah di ganti oleh beberpa rekan. Apalagi, suasana sedang sepi tanpa pelancong yang datang.
Tiba di ATM. Aida langsung masuk ke dalam dan mengambil beberapa uanv disana. Seperti yang Ia duga, jika paswordnya adalah hari ulang tahunnya sendiri.
"Banyak juga, peninggalan Ayah." kagumnya, melihat nominal yang ada disana. Ia hanya mengambil sedikit, cukup untuk memenuhi keinginannya membelanjakan Tono, dan keperluan sehari-harinya saja.
"Udah?" sambut Mei yang menunggu di motornya.
"Katanya belanja?"
"Ya tunggu Mas Tononya pulang lah, Mei. Aku ngga faham, ukuran badannya."
"Ukuran yang lain?" celetuk Mei.
"Apa itu?" kaget Aida yang nyaris melotot padanya.
"Ah, engga. Ayo balik," Mei menyetarter motornya, lalu kembali ke warung Nek Mis untuk ikut berjaga disana.
"Ai?" panggil Mei yang tampak menoleh kesana dan kemari.
"Ya, Mei. Ada apa?"
"Aku udah hampir seminggu, kok ngga lihat Amrul, ya? Dia kemana?"
"Kok tanya aku, Mei? Ngelindur kamu." balas Aida. Padahal, mereka bertemu beberapa hari yang lalu, dan bahkan Amrul nyaris melecehkan nya.
"Kali aja, masih penasaran sama kamu."
Aida hanya menggeleng. Ia sangat enggan mengingat kejadian itu. Meski, Tono telah menutupinya dari siapapun.
Hari semakin sore. Aida menunggu di teras warung, di tempat duduk yang terbuat dari bambu itu. Melamun, menatap indahnya lautan yang luas. Entah apa yang Aida fikirkan saat ini.
"Paling nungguin Tono," tatap Nek Mis padanya.
"Siapa lagi? Jam segini kan jamnya pulang. Biasanya lewat sini, jadi bisa pulang barengan. Iya kan, Nek?" balas Mei.
Nek Mis hanya mengangguk. Ia melempar senyum, dan juga di balas senyum oleh Mei. Entah apa isi kepala mereka. Agaknya satu frekuensi dan membayangkan hal yang sama.