Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Ngga usah kepo


"Yakin mau kerja?"


"Iya, seperti rencana awal."


"Nanti, kalau badai lagi, gimana? Mas kambuh lagi. Kalau hujan, aku akan disana hingga berhenti."


"Atau, Aida jemput pakai motor Mei? Kita beriringan jalan nya."


"Boleh," angguk Tono. Pakaiannya semakin rapi, dengan naiknya jenjang pekerjaan yang Ia miliki. Tak penuh debu dan bekas semen lagi, wajahnya pun tak terlalu kusam dan kumal lagi seperti biasanya.


"Ay, sarapan siap nih." panggil Mei dari ruang makan.


"Iya, Mei. Bentar," balasnya. Ia kini tengah menyisir rambut suaminya. Entah, seperti memang ingin memberi perhatian lebih padanya.


"Nur," panggil Tono, yang tiba-tiba membungkukkan tubuhnya dan menatap sang istri begitu dekat.


"Apa, Mas?" Aida menjawab dan membalas tatapannya. Tono hanya tersenyum, dan menunjuk bibirnya dengan kedipan genitnya.


"Udah ditunggu, Mei." lirihnya.


"Satu aja, ayolah." mohon Tono. Ia meraih pinggang Aida, dan membuat mereka semakin dekat. Bahkan, begitu erat. Tono memiringkan kepalanya, meraih bibir Aida yang tampak ranum. Lalu mengecupnya beberapa kali.


"Masss," tolaknya pelan. Tapi, Tono bukan menghindar, melainkan meraih dagu Aida agar semakin dapat mendominasi permainannya. Aida akhirnya mengalah, dan membuka rongga mulutnya agar Tono dapat menjelajah dengan bebas disana.


Mereka saling membeliit lidah untuk beberapa lama, dan berhenti ketika Aida terasa menarik nafasnya.


"Udah," ucapnya manja. Ia pun meraih tisue yang ada di dekatnya, dan membersihkan bibir Tono yang sedikit tertempel lipstiknya disana.


"Nakal." omelnya. Aida pun terlebih dulu keluar, untuk menghampiri Mei.


Mei di meja makan, menatap makanan dengan begitu lapar. Apalagi, dengan gulai ikan yang Aida masak tadi. Tampak begitu menyelerakan, harumnya pun memancing cacing dalam perutnya bergerilya.


"Kalau laper, makan duluan aja." tegur Aida.


"Udah, makan. Ngga usah kepo-kepo." jawab Aida. Ia lalu mengambilkan nasi untuk suami dan adiknya itu. Disusul Tono yang juga keluar dari kamar mereka.


"Keren bener, Mas?" tanya Mei.


"Ada penyambutan Pimpinan, Mei. Jadi harus rapi. Meski, nanti berantakan lagi." balas Tono, dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans nya.


Mereka sarapan dengan tenang. Hingga akhirnya kembali pada aktifitas masing-masing. Tono, berangkat ke proyek dengan ciuman pengantar dari istrinya.


***


" Semua siap, Pak. Orang di sana pun sudah mempersiapkan diri menyambut Bapak." ucap Mona.


"Kenapa harus di sambut? Saya bukanĀ  presiden. Biarkan saja, seperti biasa. Rayanlah yang harusnya di sambut seperti itu." jawab Sam yang tengah merapikan dasinya.


Mona dengan sigap melangkahkan kaki, menuju Sam lalu merapikan dasi yang tengah Ia pasang. Itulah kegiatan yang selalu Ia lakukan dengan Rayan sebelumnya. Spontanitas yang membuat mereka cepat dekat menuju sebuah kekompakan kerja.


"Sudah, ayo berangkat." ajak Sam, dan Mona pun mengangguk. Mereka mengayunkan langkah bersama, meninggalkan vila itu dan menuju mobil yang telah di persiapkan.


Perjalanan sengaja diperlambat. Bukan untuk mengulur waktu, tapi Sam yang sesekali mencari di sepanjang jalan mengenai Rayan. Ia merasa begitu dekat saat ini. Entah, dekat dengan siapa. Tapi, hatinya begitu berdebar.


"Jika dihayati, malah rasanya aku ingin menangis. Tapi entah karena apa." fikirnya.


"Itu, Pak, lokasinya." ucap Mona, mengagetkan segala lamunan Sam.


"Ah, iya. Maaf aku melamun."


"Baiklah, mari turun. Semua orang sudah menunggu di ruang pertemuan." ajak Mona.


Mereka turun bersama, dan Sam menatap Rumah sakit yang kini tampak megah itu. Sebuah investasi yang di lakukan oleh Rayan atas dasar kemanusiaan. Akibat langkanya fasilitas kesehatan yang mumpuni untuk warga sekitar.