Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Tak akan pernah rela


Rayan gelisah. Ia terus saja memegang dan membolak balik hpnya di depan Sam. Sesekali menekan nomor, tapi tak juga ada jawaban.


"Kau rindu?" lirik Sam.


"Tidak, hanya saja... Entah, aku gelisah. Apa, perjanan kita akan jauh?"


"Tidak. Hanya di kota ini saja. Ada Tiga cabang yang akan kita datangi."


"Baiklah. Perasaanku, aneh. Dan Nur, tak bisa aku hubungi sama sekali." timpal Ray. Melonggarkan dasi yang terasa semakin menyesak kan lehernya.


**


"Mei, mau kemana? Buru-buru bener?" tanya Pak Soni. Salah satu tetua di kampungnya.


"Lagi cari Aida, Pak. Bapak mau kemana, rapi bener?" balas Mei. Apalagi, Pak Soni tampak begitu resmi dengan sarung dan pecinya. Seperti, akan menjadi saksi dalam sebuah pernikahan.


"Amrul, ada acara. Katanya, minta Bapak jadi saksi pernikahannya yang kedua.".


"Eh, bentar. Pernikahan kedua? Sama siapa?" kaget Mei, langsung gemetar terfikir Aida.


"Bapak juga, kurang tahu. Nanti, jam Dua siang akadnya. Ini, Bapak mau kesana dulu." pamitnya.


Mei berfikir keras. Langkah kakinya langsung mengarah ke rumah Amrul, dan mengikuti Pak Soni. Disana memang seidikit ramai, dan Mei menyelinap ke bagian belakang.


" Haish, ini gimana? Ngga ada jendela, gimana mau masuk? "keluhnya.


Ia terus berfikir, hingga terdengar suara, dimana Amrul tengah bersitegang dengan istrinya. Obrolan penuh amarah, tegang, dan memekak kan telinga. Dan jelas terdengar oleh Mei, nama Aida disebut dalam pertengkaran itu.


" Astaghfirullah! Ini bener-benar. Berarti, memang Semprul yang nyulik Aida. Brengsek!" gerutunya dalam hati.


Mei langsung berlari pergi. Ia mencari jalan, agar ijab qabul bisa dibatalkan. Tapi, tak bisa hanya dengan warga disana saja. Karena, mereka sudah terlanjur tunduk pada Amrul dan keluarganya.


" Ngga bisa ini. Ngga bisa. Mas Tono ini, yang harus dateng. Tapi, gimana caranya? Aku ngga punya nomornya."


Mei pun gelisah. Mulai berfikir keras akan semua yang bisa Ia hubungi. Selama ini, Tono menghubungi Aida dengan nomor yang selalu berbeda.


"Astag! Mba Mona. Aku ada kartu namanya." Mei kembali berlari sekuat tenaga. Ia kembali kerumah Aida, dan mulai mencari di semua tas nya. Ia mulai cemas, karena hanya diberi waktu Dua jam untuk membatalkan pernikahan terlarang itu.


Mei pun mulai menekan nomornya, menghubungi Mona yang berada jauh disana.


"Ha-hallo, Mba Mona. Ini, Mei. Mei sahabatnya Aida, istri Mas Ton, Eh... Pak Rayan."


"Iya, selamat siang Mba Mei. Ada apa?"


"Bisa bicara dengan Pak Rayan? Tolong, ini penting."


"Pak Rayan sedang pergi. Beliau sedang mengadakan kunjungan...."


"Mba Mona, please. Mei mohon. Hubungi Pak Rayan, ini mengenai Nurnya. Tolong," mohon Mei dengan sangat.


"Okey, standby dan saya akan hubungkan kalian." ucap Mona.


Mei pun mengangguk, dengan gelisah menunggu permintaannya di kabulkan oleh Mona.


"Selamat siang, Pak."


"Ya, Mona?"


"Mei menghubungi, dan meminta di sambungkan pada Anda. Dia ingin membicarakan tentang Nur."


"Sambungkan sekarang." ucap Rayan dengan wajah yang Ia paksa tenang.


"Mei?" panggilnya.


"Ha-halo, Mas Tono. Eh, Pak Rayan."


"Ya, Mei. Ada apa? Kenapa gugup." tanya Rayan.


"Mas Tono! Tolongin Aida. Aida diculik Amrul, dan mau dinikahin paksa sama dia. Jam Dua, mereka menikah. Tolong, Mas." tangis Mei akhirnya pecah dalam permohonan nya.


Rayan menatap arlojinya. Waktu hanya menyisakan Dua jam kurang, dan Ia harus segera tiba di sana. Memang, pernikahan tak akan sah. Tapi, Ia tak akan pernah rela, jika Amrul menjamah istrinya sedikit saja.