
"Nenek lampir, kemana?" tanya Mei, yang merasa rumah itu begitu sepi.
"Selamat siang, Tuan Dev..." terdengar seorang pelayan menyapanya dengan ramah.
"Siang... Tak ada orang, dirumah?"
"Nyonya Aida, sama Non Mei. Tapi mereka di kamar nya." tunjuk Pelayan itu ke kamar Mei.
Dev mengangguk, langkahnya mantap menuju kamar Mei. Tapi, Aida keluar menyapa dan menyambutnya.
"Mas Dev, ada apa? Ngga ke kantor?" ramahnya. Meski sedikit aneh dengan tatapan yang diberikan oleh Dev kali ini.
"Hay, Kak Dev...." Mei ikut keluar menghampirinya. Dev menatap keduanya, bagai tengah memilih siapa yang akan Ia bawa saat itu. Cinta, atau adiknya?
"Mei, ikut aku..." tarik Dev pada lengan Mei. Gadis itu terkejut, apalagi genggaman Dev terasa begitu kuat mencengkramnya. Aida pun tersentak dan mencoba melepasnya dari Dev.
"Ma! Kenapa ini? Kenapa bawa Mei?" tanya Aida, berusaha melepas tangan Dev darinya.
"Dia milik Sam, dan Sam telah menghancurkan hidupku. Jadi, Dia sebagai penebusnya. Impas?" Dev dengan tatapan datarnya.
"Ngga begitu konsepnya. Semua orang tahu, jika Fany meninggal kecelakaan!" sergah Aida.
Dev pun terkejut menatapnya. Bahkan, Aida tahu masa lalu mereka, sejak kapan? Dan kenapa Ia merahasiakan jika Ray sudah ingat sejak lama.
"Maaf, Aida hanya tak ingin menambah huru hara, Mas. Tapi, Aida tahu semuanya. Sam tak sepenuhnya salah. Bahkan, Ia pun depresi dan sempat ingin bunuh diri. Mei menyelamatkannya."
"Kenapa tidak? Nyawa, dibalas nyawa."
"Egois!"
"Semua akan egois pada waktunya, Aida! Aku kehilangan adikku... Bahkan Mama ku. Ia sempat frustasi karena Fany. Siapa yang bisa menyembuhkannya? Tak ada, Aida." tutur Dev, dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Suaranya pun mulai berat, menandakan sebuah rasa sakit yang mendalam disana.
" Kalau begitu...." Aida melepas genggaman Dev dari Mei. "Aida yang akan ikut Mas Dev. Aida akan rawat Mama Lia. Tapi, biarkan Mei dan Sam menikah."
"Aida merawat siapa?" tanya Aida dengan tatapan nya begitu haru.
"Iya, Mei tahu. Tapi...."
"Mas Ray ngga akan marah." ucap Aida, membelai rambut Mei dengan lembut. Bahkan, sesekali memeluknya erat. "Panggil Ibumu, ajak dia datang kemari." bisiknya.
"Iya, Ai..." angguk Mei.
Banyak pelayan disana. Namun, mereka tak mampu berbuat apapun. Mereka hanya takut, Dev semakin brutal dan justru menyakiti Nyonya mereka. Hanya diantara mereka, nekat menghubungi Ray di kantornya.
"Dia gila? Kenapa membawa Nur?"
"Tuan... Dev ingin membawa Mei awalnya. Tapi, Nyonya memberikan dirinya. Kami... Kami hanya takut jika Dev justru brutal dengan amarahnya. Ia sangat marah tampaknya," jelas sang pelayan.
Ray menjatuhkan dirinya di sofa. Menjambaki rambutnya dan tampak begitu frustasi. Dev, seolah mencari masalah besar padanya, dan membuka jalan peperangan semakin besar.
*
" Kenapa mengorbankan dirimu? "
" Tidak mengorbankan. Hanya ingin membuka jalan untuk mereka bersatu."
"Lantas... Kau dengan rela meninggalkan cintamu?" tatap Dev pada Aida, dengan terus menyetir.
"Tinggal menunggu. Antara di kembalikan, atau Ia mengambilku padamu." jawab Aida dengan begitu santai, menyandarkan tubuhnya di bahu jok mobil. Ia pun memejamkan mata, sembari berdoa untuk Ray agar tetap tenang disana.
"Mengembalikan? Hhhhh... Sesuatu yang ku ambil, aku tak pernah mau mengembalikan nya." cebik Dev.
"Apalagi kau tahu... Aku menincintaimu sejak lama." Dev kembali terus terang dengan segala rasanya. Aida hanya tersenyum, tanpa membuka matanya hanya sekedar menatap ekspresi dari Dev.
"Andai kau tahu siapa aku, Kak." batinnya. Namun belum bisa menjelaskan, menunggu semua bukti yang ada datang.