
"Mona, ini semua laporan keuangan bulan ini." panggil Dev.
"Berikan saja pada Pak Ray. Kenapa harus aku, pekerjaanku...."
"Mau, atau tidak?" tatap Dev tajam.
"Kau kenapa? Ada sesuatu?" tanya Mona, yang mendongak kan kepalanya menatap Dev.
"Kau tak perlu tahu."
"Aku tahu, meski kau tak memberi tahu aku, Dev. Mama bilang,"
Dev hanya mengehenduskan nafasnya sejenak. Ia pun merasa aneh, ketika Ray bahkan tak berusaha sama sekali untuk mengambil sang istri darinya. Dari sana, Ia meragukan makna cinta yang selama ini Ray agung kan untuk Aida.
" Apa itu cinta? "gerutunya, sembari terus berjalan meninggalkan kantor itu dengan tergesa-gesa. Dev merasa, semua orang menatapnya penuh rasa benci dan segala caci maki dalam hati. Ya, Ia begitu peka dengan anggapan orang lain, karena memang itu kenyataannya.
**
Hari ini, semua orang mulai merancang untuk hari pernikahan Mei. Lusa, adalah hari yang dipilih mereka. Bukan hanya karena tanggal cantik, tapi mereka ingin segera menikah demi lepasnya Aida dari Dev.
Semua pelayan merapikan rumah, mulai menyusun tenda dan segala yang diperlukan. Hanya, tampak Mami Bian yang duduk dengan santai di kursi kebanggannya seperti biasa. Begitu tenang, apatis dengan apa yang sedang terjadi disana.
"Beliau, bahkan tak sama sekali bersuara hari ini. Kenapa?" tanya Laila pada Mei.
"Udah, Kak Laila. Diemin aja, ngga usah diganggu. Ntar malah kumat, kita yang repot." tegur Mei.
"Ah, iya... Baiklah," Laila pun pergi kembali ke tempat kerjanya.
Mei kembali ke kamar. Ia mengecek Hpnya, menunggu kabar dari Aida. Tapi Ia lupa, jika Hp Aida telah dibuang Dev. Ray yang mengatakannya malam tadi. Ia pun beralih, memanggil sang Ibu yang juga tengah bersiap hendak menghampirinya kesana.
"Apa aja, yang perlu di bawa buat Aida?" tanya sang Ibu.
"Ada, udah Ibu ambil. Apalagi? Akte, atau segala macam, engga?"
"Ngga usah, Bu. Satu cincin itu aja, sudah menjawab semuanya." balas Mei.
"Kamu yakin, itu Bu Nur? Nanti kalau salah gimana? Di dunia ini, banyak wajah yang mirip, Mei."
"Mei yakin loh, Bu. Persis, Mei ngga akan lupa. Foto masa muda nya itu loh."
"Tapi... Kenapa sama sekali ngga faham sama Aida? Ingatannya hilang, kayak si Tono?"
"Mei ngga tahu, Ibu... Yang penting, bawa aja dulu. Eh iya, kalau Ibu ada nemu... Tolong minta fotonya."
"Iya, Ibu usahain," jawab Bu Lastri. Ia pun menutup telepon, dan harus kembali berkutat dengan dokumen lama peninggalan Nek Mis dan keluarga Aida. Sesuatu yang telah usang dan berdebu, berharap ada sebuah petunjuk lagi untuk mereka.
**
"Pak Ray, ini dokumen dari Pak Dev." lapor Mona.
"Mana Dia?" tanya Ray, dengan wajah datarnya. Mona faham betul, jika Ray tengah menahan emosinya saat ini.
"Kau boleh pergi," pinta Ray. Mona hanya mengangguk, dan keluar dari ruangan itu tanpa satu pertanyaan pun keluar dari mulutnya. Menutup pintu dengan perlahan, sembari sedikit melihat respon Ray dari celah yang Ia buat.
"Ya, itu yang aku herankan. Istrinya dibawa sepupunya pergi. Tapi, kenapa Ia begitu tenang? Wajar kan, jika aku bertanya-tanya." gumamnya.
Selembar surat dari Dev. Mungkin bermaksud memberi tahu Ray jika Aida baik-baik saja disana.
"Kenapa? Kau tak tega denganku?" tawa Dev dalam hati. "Apa kau fikir, aku sedang tertekan saat ini?"