Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Mengembalikan cincin Tante Arum


"Omonganmu, Rul!" bentak Aida. Dan hanya Aida, yang berani bicara keras pada pria itu.


"Nur, Nur... Udah, Nur. Jangan cari ribut disini. Mending kita pulang, takut ada tamu dirumah Nenek." lerai Tono, yang juga ngeri ketika Aida mengeluarkan taringnya.


"Maka nya, jangan ngatain orang." ledek Amrul. Bertingkah bak anak kecil yang baru saja memenangkan permaianannya.


Aida semakin melotot, tapi Tono dengan cepat menutup matanya dan membalik tubuh Aida untuk membawanya pergi. Tak perduli, jkka Amrul terus saja meledeknya dari kejauhan.


" Iiih, apaan sih?" Aida melepas telapak tangan Tono dari wajahnya.


"Nur yang ngapain. Kenapa juga bernatem sama dia? Lagian, ngurusin tabungan orang."


"Emang Mas tahu, tabungan apa itu?" tanya Aida, dengan lirik mata sinisnya.


"Ya, tabungan duit lah. Kan bagus, kalau sebelum nikah, banyakin tabungan." jawab Tono dengan begitu polosnya.


Aida lagi-lagi menghela nafas panjang. Begitu panjang, dengan tangannya seolah ingin meraih kepalaย  Tono dan mencakar-cakarnya sepuas hati. Tapi, kembali Ia tahan.


" Mas?" panggil nya, dengan suara yang amat Ia tahan.


"Itu bukan nabung uang, Mas."


"Terus?"


"Itu, si cewek, si Tasya...."


"Iya?"


"Hamil duluan, Mas. Makanya Aida bilang nabung. Maksudnya, nabung itu," tangan Aida membentuk bulatab di perutnya.


"Tapi belum gede, Nur. Nanti bisa jadi bahan fitnah loh." ucap Tono lagi.


"Mas Tono!" pekiknya. "Ah, au ah.. Kesel jadinya."


Aida memutar tubuhnya, lalu meninggalkan Tono dengan segala kebingungannya.


**


"Aida! Kemana kamu. Suasana duka malah minggat!" pekik suara nyaring itu.


Mei memutar kedua bola matanya, ketika tahu siapa yang datang kali ini.


"Haruskah, aku membuka pintunya? Haruskah? Haruskah?" gerutunya sendiri. Ia pun meletakkan sapunya, lalu menghampiri sang tamu diluar sana.


"Nah, kan bener." ucapnya.


Ialah Om Edo dan Tante Rum. Denganย  bersedekap, menatap sinis pada Mei dan keseluruh rumah itu. Ia pun masuk, meski Mei tak mempersilahkannya.


"Mana Aida?" tanya Tante Rum, ketus.


"Lagi pergi, sama Mas Tono."


"Pergi? Ngga sopan! Masih akan banyak tamu yang datang. Kenapa malah asyik pacaran. Keterlaluan!" sergahnya.


Ol Edo hanya tampak diam, memijat kepala dan pelipisnya. Matanya bengkak, seperti orang yang baru menangis semalaman.


Mei tak mau menjawab lagi. Ia bahkan hanya diam, dan tak menawarkan atau memberi apapun pada keduanya. Jelas saja, membuat Tante Rum makin sinis padanya.


"Numpang, belagu." ledeknya, dengan meneguk air putih yang Ia bawa dengan botol gemoy nya.


"Mending, Mei. Numpang, tapi udah dianggep anak sendiri. Tapi yang anak kandung, udah kayak orang asing. Ibu nya meninggal, datengnya kayak orang melayat doang." tatap tajam Mei pada Om Edo.


Om Edo hanya tertunduk dalam diam. Tak berani, menjawab sepatah katapun ucapan Mei. Dalam hati dan fikirannya, selalu terbayang-bayang sang Ibu ketika masih hidup bersamanya. Dan jelas, ketika masih belum bersama sang istri.


Suara motor kembali berhenti. Mei faham itu motornya yang di pakai Aida dan suami. Ia tak menyambutnya, hanya diam dan berharap mereka segera masuk.


"Assalamualaikum," ucap keduanya kompak. "Om Edo?" panggil Aida lirih, dengan tatapan penuh amarah yang tertahan


Om Edo langsung berdiri. Berjalan begitu cepat memeluk keponakannya itu. Menangis meraung-raung. Seolah, Ia dan Aida kini tengah saling menguatkan.


*Happy week end guys. Terimakasih atas dukungannya buat karya otor yang 1 ini. Terimakasih yang sudah sabar, dan teriamakasih yang selalu nanyain Mas Tono kapan sembuhnya.


Dan jawabannya, adalah sabar ya., ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜ otor bakal sembuhin kok. Tapi perlahan. Otor mau tumbuhin cinta mereka dulu. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘