Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Apa fungsi asoi itu?


"Kita naik... Naik pesawat?"


"Iya, kau mau naik apa lagi?"


"Me-Mei mabok. Mei ngga bisa." tolak Mei dalam galau nya.


"Lalu, kau mau naik bus sampai ke sana? Apa kau tak lebih mabok lagi? Dua hari Dua malam, kau baru akan tiba."


"Hah! Mengsedih," Mei menunduk kan kepalanya. "Yaudah, Mei ikut Mas Sam. Tapi...."


"Jangan minta macam-macam, kita baru kenal."


"Iya," angguk Mei, pasrah.


Sam menemaninya mengambil pakaian. Tak begitu banyak, karena pakaian Aida tak juga Ia bawa. Hanya sebentar lagi, menuju rumah Mang Usman untuk menitipkan rumah Nek Mis padanya.


"Jaga diri, Jagain Neng Aida. Cuma kamu, keluarganya dari sini. Hanya kamu, yang dapat Ia percaya." peluk Istri Mang Usman padanya.


"Bik, rumah. Nanti, Mei sesekali akan pulang, untuk...."


"Mei, hari semakin sore." Panggil Sam, dengan terus menatap arlojinya.


"Iya, bentar sih. Ngga sabar." tukasnya.


"Bukan aku yang tak sabar. Tapi pesawat, tak akan menunggu yang telat." omel Sam.


Mei hanya mengecap kesal. Lalu berjalan cepat menghampiri Sam. Mereka pergi bersama, menggunakan mobil yang di kirim dari proyek Rumah sakit mereka. Perjalanan melelahkan. Terutama untuk Mei.


"Mas! Mei pusing. Mabok ini." keluhnya sepanjang jalan. Wajanya pucat, lemas, dan hanya bersandar di kaca jendela mobil.


"Belum ada Satu jam, kita jalan. Kenapa sudah begini?" tanya Sam, yang mulai cemas.


"Tadi, Mei sempat mau sesuatu. Tapi Mas tolak. Bukan salah Mei." racaunya.


"Ini, untuk apa?" Sam terheran-heran.


"Sini... Ini buat Mei." rebut nya pada Sam. Pria itu masih bengong, apalagi melihat Mei yang memakainya dengan cara di sangkutkan di kedua sisi telinga. Hidung dan mulut, berada tepat di lubang asoi itu.


"Begini, pakainya." ucap Mei. Sam hanya bengong, berkali-kali mengedipkan matanya. Aneh, karena Ia baru menemui hal yang seperti itu.


Perjalanan berlanjut, sampai mereka tiba. Berjalan dalam keadaan diam, tanpa bertegur sapa sama sekali. Tapi, Sam masih penasaran apa fungsi asoi itu.


"Itu tadi, sebenarnya apa?" tanya Sam, masih penuh tanda tanya.


"Astaga, masih nanya rupanya." Mei menepuk jidat. "Itu, kalau Mei mabok. Muntah. Jadi larinya langsung ke asoi. Ngga kemana-mana." jawab Mei jujur.


Sam mual. Ia menutup mulut dan menahan rasa eneg di perutnya.


"Mas Sam. Terkadang ke kepoan itu, tak perlu mendapat jawaban. Atau, lebih baik diam daripada menyakiti diri sendiri." tepuk Mei di bahu Sam.


"Gadis itu." cebiknya kesal.


Mereka telah di Bandara. Sam pun mendaftarkan penerbangan mereka. Sedangkan Mei, sibuk mencari apotek terdekat untuk mencari obatnya.


"Bisa ngga sih, diem. Daritadi keliling, pusing tahu ngga?" tegur Sam, bernada sedikit keras.


Mei seketika diam. Matanya nanar dan bibirnya bergerak-gerak sendiri. Air matanya sedikit mengalir, dan Sam langsung merasa bersalah padanya.


"Ma-maaf." ucapnya.


"Mas Sam ngga tahu, rasanya kalau orang mabok kayak mana. Mas Sam ngga tahu, Mei berusaha agar ngga ngerepotin. Supaya Mei ngga malu-maluin Mas, sebagai pendamping Mei naik pesawat. Kenapa, Mas Sam galak banget?"


Tangis Mei membuatnya menjadi pusat perhatian. Sam langsung malu setengah mati, spontan membuka jas dan memasangkan nya pada Mei. Terutama, untuk menutup wajahnya.


" Hey, tenanglah. A-aku minta maaf. Ayo, pesawat sudah menunggu. Dan... Pasti Rayan dan Aida sudah tiba disana."