Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Dibalik semua musibah


"Dev, maafkan aku. Maaf." tangis Sam beralas genggaman Dev kali ini.


"Hey, aku faham. Meski kau salah, tapi kau telah memperjuangkan Fany ku. Fany kita."


"Aku begitu mencintainya. Aku buta, bahkan aku nyaris rela mati menyusulnya, Dev." jawabnya, dengan nafas dan suara yang terputus-putus.


Ray pun menyusulnya. Duduk tepat di sebelah Sam dan Dev, mengusap bahunya dengan segala kasih sayang yang Ia miliki. Tak lupa, Ia memberikan sebuah surat kecil untuk Sam.


"Kau kencintainya? Andai kau tahu, jika dia... Sudah menumbuhkan rasa itu padamu."


"Ray?" dengan gemetar, Sam menerima surat kecil itu dari nya. Memang terdapat bercak disana, pertanda jika Ray benar. Itu adalah surat dari Fany di saat terakhirnya.


"Usai mengantar surat untuk ku, aku membaca surat itu tepat di hadapannya. Wajahnya tampak gugup, berpeluh di penuhi rasa cemas. Aku tahu, itu bukan ucapan nya. Aku tahu, Fany bukan gadis yang bisa merangkai kata-kata." ucap Ray.


Sam membukanya, membaca semua isinya di temani Dev yang masih tetap memeluknya daritadi. Air mata kembali berlinangan, terutama Dev yang memang kembali begitu terpukul dengan kepergian sang adik.


Fany tak bunuh diri, Melainkan kecelakaan ketika pergi menghampiri Sam yang tengah di kantor kala itu. Perusahaan tengah berkembang, hingga mereka semua membagi waktu dengan pekerjaan masing-masing.


"Ray, mau mu bagaimana dengan ku? Aku siap, mempertanggung jawabkan semuanya padamu, pada Fany, dan semuanya." sesal Sam, dengan semua kesalahan yang Ia lakukan.


Dalam kondisi ini, Ray mulai ragu untuk memutuskan. Sam memang begitu mendukungnya, meski Ia masih dihantui rasa terlalu cintanya pada Fany. Ia yang tak pernah membiarkan wanita mana pun dekat dengan Ray selama ini. Tapi, karena kejadian itulah Ray akhirnya bertemu dengan Aida disana.


"Aku harus marah, sedih, atau bersyukur, Sam? Dibalik semua musibah itu, aku bertemu dengan cahayaku, Sam." ucap Ray, yang kini berbalik menitikan air mata.


"Tuan!" Mona menghampiri, dan dengan sigap memberi tisu padanya.


"Kau lah yang mengerti, Ray. Aku tak faham dengan semua ini. Hanya berada di tengah kalian, dan menjadi orang yang selalu di bandingkan denganmu." ucap Dev.


"Aku yang membuatnya seperti itu, Dev. Begitu banyak dosaku pada kalian. Aku yang selalu ada di dekat Ray, selalu dapat membuatmu salah dimata mereka. Ketika kau mulai berpendapat, maka aku mulai melakukan pembantahannya untuk Ray. Agar apa? Agar Ray, akan selalu di depanmu. Maaf. "


Dev hanya bisa menghela nafas dengan begitu panjang mendengarnya. Apalagi, semua itu Sam lakukan hanya untuk menjauhkan mereka berdua. Agar Sam dapat terus menguasai Ray untuk Fany, yang bahkan telah melebur menjadi tanah disana.


Pria itu mengepalkan tangannya, dibalik semua sedih dan tangis yang ada. Rasa sakit, ketika merasa selalu tak di dengar, di anggap remeh dan seolah tak pernah dianggap dalam setiap keputusan yang ada.


"Setidaknya, itu bukan murni aku yang bodoh atau pun mereka tak menyukaiku. Semua, hanya permainan." fikirnya dengan begitu dalam.


"Sam, kau harus bertanggung jawab dengan semua yang harusnya menjadi milikku." ucap Dev, melepaskan pelukan nya dari Sam. Pria itu kini tergeletak lemah, meringkuk dengan segala rasa sesal yang ada. Bahkan, Ia seolah telah kehilangan muka dan tak sanggup menatap Ray dan Dev saat ini.