
Hari demi hari terus berlalu. Kesedihan Aida sudah semakin memudar. Apalagi, terganti dengan kekesalannya pada sang suami, Tono. Ia yang selalu membuat Aida kesal dengan segala tingkahnya itu.
"Hari ini, sepertinya lembur, Nur."
"Lembur ya lembur. Kerjanya baik-baik, jangan telat makan."
"Nur jadi, keluar dari tugas relawan?" tanya Tono, karena Aida memang pernah berniat seperti itu.
"Pengennya. Tapi..."
"Kalau mau resign, ya ngga papa. Kan bisa ganti jaga warung Nenek. Kasihan, kalau ngga lanjut."
"Ngga papa, kalau Aida cuma jaga warung?"
"Kenapa? Jaga warung pun menghasilkan." ucap Tono. Aida tersenyum tipis dengan ucapan itu, dan lanjut untuk menyiapkan semua keperluan suaminya untuk bekerja.
Malam itu, Mei tak menginap. Ia ada urusan dengan keluarga nya yang lain. Dan beberapa orang bilang, jika pamali kalau Mei terus disana. Karena mereka adalah pasangan baru. Entah, apa maksudnya. Mei hanya menurut agar tak jadi bahan omongan orang lain.
Semua siap. Sarapan pun sudah dilakukan. Aida hari ini akan membantu memasak di pesta pernikahan Amrul. Sekali lagi, Ia menggantikan neneknya disana. Tono yang mengantarnya, lalu lanjut berangkat ke tempat kerja setelahnya.
Di tempat Amrul, sudah berkumpul banyak tetangga. Mereka bergotong royong memasak untuk pesta tersebut. Tampaknya mewah, dilihat dari tenda dan pelaminan yang terpasang.
"Bagus ya, Da." sapa Bu pipit.
"Iya, Bu. Cantik," puji Aida, dengan mengiris beberapa bahan makanan di sana.
"Kamu sih, nolak Amrul. Coba kalau engga, udah hidup enak kamu."
"Ngga usah bahas itu ya, Bu. Kan memang Aida ngga mau. Terus, Aida sudah punya suami." balas Aida.
Kadang bukan karena iri. Tapi, wanita mana yang tak ingin pesta mewah seperti itu. Dandan cantik, dan duduk di pelaminan yang indah dengan gaun yang wah. Tapi, nasib berkata lain. Bersyukur, karena Tono setidaknya masih bersamanya saat ini, meski mereka belum juga saling memadu kasih seperti seharusnya.
"Da, Tono apa belum ingat juga?"
"Belum, Bu. Tapi, kadang-kadang ada yang nyeletuk. Seperti, ketika Mas Tono gambar di canvas Om Edo. Dan beberapa ingatan yang sepertinya spontan, meski kecil."
"Ibu hanya ngeri, kalau ternyata dia itu udah menikah dan punya anak. Macam di sinetron burung terbang itu.."
"Hah? Sinetron, burung terbang?" Aida bengong. Ia pun galau lagi, memikirkan ucapan para tetangga nya itu.
"Kalau ada keluarga, setidaknya ada yang mencari. Kenapa ini engga?" fikrnya dalam hati. Dan lagi, jika memang Tono telah berkeluarga, pastinya Ia tak akan tahan jika terus berduaan dengan Aida dirumah itu. Apalagi mereka sekamar dan satu ranjang.
Aida hanya mengangguk, mendengarkans setiap obrolan mereka. Obrolan yang selalu berganti dan berubah, sesuai mood dan tema yang ditemukan. Aida kadang tak nyamnbung, tapi berusaha meng'iyakan cerita tersebut.
**
"Sam! Sam!" panggil Mami Bianca dengan keras. Wanita berusia Tiga puluh lima tahun itu, selalu saja mengejar Sam untuk mencari tahu info tentang anak tirinya.
"Tante, kenapa?" Sam berlari karena cemas.
"Kami bilang mau ke kota kecil itu. Mana? Kenapa sampai sekarang belum berangkat. Kamu mau bohogin Tante?"
"Oh My God, Tante. Please, Tan. Sam itu sibuk. Semua pekerjaan harus Sam kerjakan saat ini. Di dalam mau pun diluar kota. Bahkan Sam sendiri belum menemukan waktu yang tepat untuk kesana." balas nya panjang lebar..
Semua terasa lamban bagi Mami Bian. Semua terasa menyebalkan baginya. Bahkan, serasa mengulur waktu, atau hanya mereka yang sengaja akan memanipulasi keadaan. Senang, ketika Rayan tak ada diantara mereka.