Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Salah faham


Aida telah mengganti piyamanya. Ia mengambil selimut dan beberapa bantal dalam pelukannya. Tak menoleh, ketika Tono masuk menghampirinya.


"Aida tidur di kursi. Mas besok mau kerja, jadi harus fresh badannya."


"Nur, ngga boleh gitu. Kenapa harus kamu yang ngalah? Biar aku tidur di kursi." tangan Tono meraih selimut dalam pelukan Aida. Tapi Aida menepisnya.


"Mas Tono juga belum sembuh betul. Sesekali kita gantian lagi, jadi imbang."


"Baiklah," jawab Tono pasrah. Ia pun segera merebahkan dirinya di tempat tidur yang tak cukup besar itu. Sebenarnya muat, jika hanya ditempati Ia dan Aida. Tapi masih begitu sungkan untuk satu ranjang bersama.


Ia tak dapat memejamkan mata hingga larut malam. Terbayang-bayang kejadian di rumah Om Edo, olehnya. Bertanya-tanya dalam hati, mengenani jati diri yang sesungguhnya. Siapa, dimana Ia tinggal.


"Apa aku seorang seperti Om Edo? Aku arsitek? Atau, sesuatu yang berhubungan dengan itu?" tanya nya pada diri sendiri. Lagipula, siapa yang bisa membantu menjawabnya. Memang Ia hanya sendiri saat ini. Apalagi, kepalanya sakit ketika berusaha mengingat terlalu keras.


" Aaakh! Lanjutkan besok pagi saja. Daripada aku makin sakit, dan merepotkan Nur nantinya. Kasihan dia, lelah hanya karena mengurusku." tatapnya pada sang istri.


Ia pun berusaha memejamkan mata meski sulit. Berusaha menenangkan diri dan bersiap menyambut hari esok dengan aktifitas barunya.


Tap... Tap... Tap...! Suara langkah kaki menghampiri kamar itu. Seseorang berusaha membuka pintu kamar, meski sedikit sulit.


"Nenek?" fikir Tono yang terbangun. Sementara Aida masih begitu lelap dengan tidurnya. "Buat apa kemari? Aneh-aneh saja"


Tono pun berdiri. Ia langsung menghampiri Aida dan membopongnya pindah ke ranjang. Menyelimuti tubuh istrinya dengan rapat, lalu segera tidur di sebelahnya seperti pasangan normal.


"Akurnya, alhamdulillah." ucapnya bersyukur tanpa henti.


Mata Tono kembali terbuka ketika Nenek pergi. Ia beringsut, ingin duduk dan memindah Aida kembali ke kursi. Tapi, langkahnya terhenti. Ia justru memandangi Aida yang masih begitu pulas dan polos di depan matanya. Ya, tepat di depan wajahnya dan bernafas terhembus ke wajahnya.


"Ya, kamu memang cahaya. Cahaya yang pertama ku lihat, ketika aku baru saja membuka mata, setelah hampir mati kamarin. Andai tak ada kau, pasti aku sudah tak ada saat ini." Belainya lembut pipi mulus Aida.


Bagi seorang anak pantai, Aida memang tak putih mulus seperti gadis kota. Ia pun hanya tinggal di kota yang kecil, bahkan jarang di datangi orang lain jika bukan karena pantainya yang indah. Aida dan teman-temannya lah, yang membuat semua terjadi. Mereka promosi dengan segala cara, untuk mengeksplors pantai indah mereka di luar sana.


*


Ayam jago berkokok merdu. Aida menggeliatkan tubuhnya dengan kuat. Tanpa Ia duga, mendapati sebuah wajah dalam sentuhannya. Ia membulatkan mata, membalik tubuh dan memperhatikan wajah itu.


"Astaga! Kok aku disini?" kagetnya, dengan mengucek mata.


"Aaaarghhh! Iiiih! Ihhh!" Ia memukuli bahu Tono dengan kuat. Membuat pria itu terbangun dalam keadaan kaget.


"Nur, ngapain?"


"Mas Tono yang ngapai? Curi-curi kesempatan biar tidur bareng. Ngapain aja coba?" omel Aida padanya.


"Ngga ngapa-ngapain, cuma...." Tono bingung dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ucapan nya pun terpotong, ketika Aida melirik pakaian di dalam selimutnya.