
Ray membawa Sam naik ke dalam mobilnya. Meminta Sam yang nenyetir, hingga tiba dirumah Dev. Harusnya Ray langsung memeluk Mama Lia. Tapi, Ia harus kembali bertanya pada Sam.
"Mana, Mama Lia?"
"Wanita yang akan selalu menyambutmu dengan senyum hangatnya." jawab Sam.
Ray kembali menatap Sam. Namun, tak terlalu lama kali ini. Ia segera masuk, dan benar jika Mama Lia langsung datang dengan senyum hangatnya.
"Sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Mama Lia, dengan segala kasihnya.
"Sehat, Ma. Mana Nur ku?"
"Nur?" Mama Lia memicingkan matanya.
"Nur Aida, Ma. Itu nama asli Aida. Dan Ray, begitu nyaman memanggilnya Nur." sahut Dev, yang datang dari atas.
Mama Lia sedikit tercengang, seolah tengah memikirkan sesuatu yang begitu sulit Ia ingat. Tapi, Ia kembali berusaha fokus pada tiga putranya itu.
" Mau kemana?" tanya Dev, menatap tas Rayan.
"Main, yuk. Ajak Nur dan Mei. Bukankah, kita sering bermain bersama? Aku rindu masa itu."
"Baik. Siapa takut. Aku akan jadi yang terhebat kali ini." jawab Dev, dengan begitu percaya diri.
Aida mendengar suara Ray dari kamarnya. Ia pun segera turun, dan berlari langsung ke dalam gendongan Ray. Tak sadar, jika ada orang lain disana. Terutama Dev, yang menatapnya sedikit dingin dengan adegan itu.
" Oops, sory." ucap Aida.
"Kebiasaan, ngga lihat tempat. Dikira rumahnya sendiri, apa?" omel Mei, yang datang menghampiri.
"Berhenti meracau, Mei." tegur Sam.
Mei hanya menggelembungkan pipinya, apalagi ketika Sam sudah berani menegurnya. Itu terasa sangat menyebalkan, karena sudah ada yang berani membatasi dirinya.
Rayan mengungkapkan keinginan itu pada Aida lagi. Kedua wanita itu pun hanya bisa menurut. Pasalnya, mereka juga tak mengerti bagaimana permainan itu.
Mereka pun berangkat bersama. Hanya Dev, lebih nyaman dengan motornya daripada harus semobil beramai-ramai.
"Tahu gitu, Mei bareng Kak Dev." keluh Mei, yang tampak sudah mulai lemas.
"Tapi enak, ngga mabok."
"Nanti kau makin hitam dan kusam".
"Maksud Kak Sam, apa? Maksudnya Mei item, jelek?"
"Ma-maksudnya..." Sam tampak gugup.
"Bilang aja iya! Jangan sok salah ngomong!" sergah Mei, yang tampak begitu galak saat ini.
Sam melotot, ketika Mei berani mengomelinya. Sama seperti Ray, Sam juga tak pernah dekat dengan wanita sebelumnya.
"Mei, udah." tegur Aida.
Mei pun mengalah, dan memanyunkan bibirnya kesal. Sam hanya diam, menggaruk kepalanya yang tak gatal karena tingkah Mei yang aneh baginya.
Tiba di tempat permainan. Dev yang terlebih dulu sampai, rupanya sudah mendaftarkan tempat untuk semua rekan nya. Pemilik tempat pun sudah faham dan memberinya fasilitas seperti biasa.
"Aida belum pernah main ini. Nanti kalau kalah, gimana?" tanya Aida, pada suaminya yang tengah membantunya memasang alat keamanan.
"Ini hanya permainan, tak ada menang atau kalah. Tak seperti sebuah persaingan, yang kadang saling menjatuhkan hanya demi sebuah pengakuan." colek Ray di hidung istrinya.
"Kau sengaja, melakukan itu di depanku?" tanya Dev.
"Aku kira, kau sudah terbiasa." kedip mata Ray padanya. Dev hanya mendesis, Ia menatap Mei yang tengah kesulitan memakai alatnya, dan seketika membantunya dengan baik.
"Makasih, Kak Dev."
"Sama-sama, Mei." jawabnya dengan ramah.
Sam sudah masuk ke dalam tempat bermain mereka. Suasana di buat seperti hutan belantara, dengan beberapa pohon tumbang untuk mendramatisir keadaan. Aida dan Mei hanya berdecak kagum melihatnya. Maklum, anak pantai.
Mereka tak membagi tim. Hanya, Aida yang akan selalu bersama Tono nya. Dan Mei, seketika selalu mengikuti Dev kemanapun Ia pergi. Spontan, Sam merasa sendiri dalam keadaan ini..
"Ya, aku akan lebih bebas menyerangmu," tatapnya pada kedua sepupunya itu. Apalagi pada Mei, yang tampak sengaja mendekati Dev di depannya..
Permainan dimulai. Mereka berpencar menuju tempat masing-masing. Persis, seperti anak kecil yang tengah bermain tembak-tembakan dan saling incar satu sama lain.