
Jam makan siang datang. Sayangnya harus terhenti sejenak kerena kedatangan Bos mereka. Bukan bos utama atau pun Direktur utama, melainkan salah satu pemegang saham di Rumah sakit baru itu.
Semua berdiri untuk menyambutnya. Dan dengan ramah, Dev memperkenalkan dirinya pada semua pegawai yang ada disana.
"Saya harap, kerja sama terlaksana dengan baik. Lancar, sampai semua selesai dan sempurna." ucap Davish.
"Baik, Tuan." jawab semuanya kompak.
Tatapan Davish tertuju pada Tono. Ia yang tampak tegap, tak seperti pasukan kuli pada umumnya.
"Kamu baru?"
"Iya, Pak. Maaf, saya kurang sehat. Jadi, harus pakai masker." jawab Tono. Andai Ia ingat, siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Ah, baiklah. Selamat bekerja dengan baik." tepuk Davis di bahu Tono. Davis pun merasakan sesuatu yang aneh. Seperti familiar dengannya, tapi Ia tak terlalu meladeni perasaan itu. Ia kembali pergi dan bekerja di ruangan barunya.
"Tono, kamu kenal?"
"Engga, Pak. Udahlah, siapa yang kenal saya? Saya aja ngga kenal diri saya sendiri." jawab Tono, meraih kembali nasi bungkus untuk Ia santap.
Santap siang itu tampak begitu nikmat. Entah karena lapar setelah lelah bekerja, atau memang efek di masa penyembuhannya.
"Istrimu ngga anter makanan?"
"Hah? Engga. Dia sibuk, kerjaannya banyak. Biarinlah, saya juga dapat makan. Sama aja." jawab Tono.
"Beda, Ton. Rasanya akan lebih nikmat. Coba deh." goda sang teman padanya.
Tono hanya tertawa terbahak. Sesekali membayangkan ketika Nur-nya membawakan bekal untuknya ketika jam makan siang. Pasti sangat membahagiakan.
"Harusnya, kalian memang masih anget-angetnya. Bulan madu, misal." pria itu semakin menggoda Tono. Dan bahkan membuatnya tersedak hingga mengeluarkan air mata..
"Bu-bulan madu? Apa itu?" tanya nya polos.
"Ngga tahu apa pura-pura ngga tahu? Tonooo, Tonoooo." tawa mereka bersautan.
Tono hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tersenyum tertunduk malu dengan meneguk air minum yang tersedia disana. Ingin rasanya Ia berlari sejauh mungkin. Menghindari semua ledekan yang mereka hujamkan padanya. Malu, kesal, bingung. Semua berpadu menjadi satu dalam hati nya saat ini.
**
"Apa, Nek?" toleh Aida, yang fokus dengan laptopnya.
"Belanja, Nak. Dagangan di warung udah abis."
"Ehmmm, Aida masih banyak kerjaan. Gimana kalau Mei?" tawar Aida, menunjuk Mei yang sedari tadi memainkan Hpnya.
"Mei!"
"Eh, iya, Ai. Kenapa?" kagetnya. Untung saja Hp itu tak jatuh ke lantai yang masih berpasir itu.
"Kamu ke pasar, belanjain Nenek." sahut Nek Mis.
"Lah, biasanya Aida? Kan berdua?"
"Sibuk, Mei. Tolong, please."
"Sendirian, susah. Berat pulak tuh."
Debat mereka sedikit panjang kali lebar. Untung saja, Tono datang diantar Om Edo. Meski I Om edo tak mampir di warung. Dan Nek Mis, hanya menghela nafas sekali lagi.
"Mas?" panggil Aida.
"Ya, kenapa?"
"Capek ngga? Tolong anterin Mei ke pasar dong." pinta Aida dengan sangat.. "Aku sibuk banget. Biasanya aku yang belanja."
"Hmm... Baiklah. Ayo, Mei." ajak Tono, dengan menggulung lengan kemejanya yang panjang.
"Eh, ini orang nurut banget ama bini." gumam Mei.
Nek Mis keluar dengan segala catatannya, dan memberikan nya pada Mei. Sedangkan Tono, sudah menunggunya di luar dan sudah naik diatas motornya.
"Hati-hati, Mas. Jangan ngebut."
"Iya, Nur." angguk Tono yang kemudian pergi bersama Mei.
Satu kesempatan lagi yang tak boleh terlewat. Apalagi Mei adalah sahabat terdekat Aida. Tono akan mengorek semua info mengenai Aida, dari yang terkecil sekalipun..