Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Aku ingat semuanya, Nur.


Byur! Rayan terjatuh ke dalam kolam. Tenggelam begitu dalam dengan mata yang terpejam.


"Seperti ini kah, malam itu? Aku terjatuh, dalam air yang dingin." batin nya. Semua seperti kilas balik kejadian itu. Sesak, dingin, hanya air nya saja yang tak bergelombang.


Ia pun mulai membuka matanya perlahan, menatap langit dan rembulan. Dan dalam ingatannya, bulan pun menampakan bentuk yang mirip dengan malam itu.


Ya, semuanya seperti bayangan masa lalu yang datang menghampirinya.  Ia berlari dalam gelap, Ia di sekap dalam sebuah gudang kosong yang pengap. Pria bertopeng itu datang, dan selalu menekan nya agar patuh. Agar mau menuruti semua perintah darinya.


"Siapa dia? Kenapa masih samar? Cengkraman tangannya ketika mengancamku. Aku ingat," gumamnya dalam hati, menatap gelembung air yang Ia ciptakan sendiri dengan nafasnya yang mulai habis di dasar sana.


Byuuurrr! Seorang terjun dan berenang, berusaha meraih tubuh Rayan dan mengangkatnya ke atas. Ia meraih pinggang Rayan, lalu membawanya naik, dan Aida menyambutnya.


"Mas, Mas ngga papa?" Aida mulai melepas jas Ray, dan memberi beberapa pertolongan darurat untuk mengeluarkan air yang tertelan olehnya.  Rayan pun terbatuk, dan memuntahkan air itu ke bagian sampingnya.


"Kau, tak bisa berenang, Ray? Biasanya kau hebat. Kau selalu lebih hebat dariku." tanya Dev, yang basah kuyup duduk di pinggir kolam. Rupanya, Ia lah yang mendahului Aida untuk menolongnya.


"Ya, aku bahkan takut air sejak kejadian itu." jawab Ray, dengan nafasnya yang terengah-engah.


"Rayan! Anak Mami! Kamu ngga papa sayang?" Mami Bianca menghampiri dengan begitu cemas.


"Tuan, silahkan masuk ke kamar. Kami sudah persiapkan kamar, untuk anda istirahat."


"Baik, terimakasih." jawab Ray.


"Tuan Dev, Anda juga." sang pelayan mempersilahkan. Dev hanya mengangguk, lalu naik ke darat untuk mengganti pakaiannya. Ia bahkan meninggalkan Aida, yang kesulitan memapah Ray untuk masuk.


"Rayan, Mami bantu..."


"No Mam, Thanks." jawab Rayan, mengangkat telapak tangan nya.


Mami Bian pun diam. Hanya memperhatikan Rayan dari kejauhan. Menatap dalam pada sang putra yang mulai hilang dari pandangan nya.


"Mas, duduk dulu, Aida ambilin handuknya."


"Iya, Mas." angguk Aida. Ia berlari dengan cepat, mengambil handuk dan membuka satu persatu pakaian basah itu. Aida mulai memakaikan handuk kimono yang tersedia, lalu membiarkan Ray duduk dengan tenang dengan renungan nya.


"Mas Sam, tolong ambilkan baju Mas Ray, di mobil."


"Baiklah, aku akan ambilkan. Tunggu saja." jawab Sam.


Aida mematikan Hpnya, lalu kembali menghampiri Rayan. Ia pun bersimpuh, dan menatap suaminya yang tampak tengah memikirkan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Aida.


"Kamu, ngga bertanya bagaimana aku bisa jatuh?"


"Tidak. Aida hanya ingin tanya, apa yang Mas fikirkan saat ini."


"Aku ingat semuanya, Nur. Aku ingat semua. Tapi, kau harus diam agar satu pun tak ada yang tahu."


"Mas?"


"Nur, aku hanya ingin tahu yang sebenarnya. Meski, aku sudah tahu siapa yang jahat diantara mereka."


"Iya, Aida menurut." angguknya. Ray hanya tersenyum padanya, menaruh harapan yang sangat besar dengan semua ingatannya yang pulih. Meski, kenyataan begitu menyakitkan.


"Ray, aku datang." panggil Sam dari luar.


Aida pun berjalan cepat, membuka pintu dan menerima pakaian itu dari Sam.


"Ray, kau tak apa? Kenapa bisa begini? Aku sedang mengawasi Mei daritadi. Dia, seperti anak kecil yang baru datang ke pesta. Pusing aku jadinya." keluh Sam.


"Ya, terimakasih, Sam. Aku baru saja berenang, mencoba mengulang kembali kejadian itu. Ketika hari ini rembulan itu sama dengan bentuk sebelumnya." jawab Ray.