Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Aida rindu Mas Tono


"Nanti malem, Mas jemput Aida?"


"Engga, Dev akan mengantarmu pulang. Maaf, aku sedikit sibuk hari ini." kecup Ray di kening istrinya.


Aida hanya menatapnya sedih. Ia merasa Ray sedikit berubah, jarang memberinya waktu seperti biasa. Namun, Ia juga kembali mengingat, bahwa yang selalu ada itu Tono, bukan Rayan. Tono nya sudah kembali menjadi Rayan, yang pasti akan selalu sibuk dengan segudang pekerjaannya.


"Hey, kenapa menekuk wajah?" Ray meraih dagu Aida dan mengangkatnya.


"Kangen Mas Tono," manyun Aida. Ray hanya tersenyum, lalu memeluknya kembali dengan erat.


"Aku masih Tono mu, Sayang. Tapi, masih begitu banyak urusan saat ini. Apalagi, untuk memperjelas semua masalah yang ada. Setelah semua selesai, kita akan lebih tenang."


"Iya, Mas. Maaf, Aida terlalu banyak permintaan."


Ray mengusap bahu Aida. Wanita yang begitu Ia cintai, yang sudah berperan sebagai cahaya hidup nya itu, memang sangat berharga.


Ray menggandeng tangan Aida. Membawanya keluar dan menemui yang lain disana. Apalagi Dev, yang memang akan membawanya pergi seharian ini. Mei pun telah siap, dan duduk begitu santai di dekat Dev. Mereka tampak akrab dengan cepat.


"Mei, ayok." panggil Aida.


"Iya, Mei siap." balasnya. Dev pun berdiri, menyambut Aida dari Ray.


"Jaga istriku. Aku ada urusan hari ini. Jika dia bosan, antar saja pulang kerumah."


"Baiklah. Biar bagaimanapun, aku juga sadar jika dia istrimu." jawab Dev.


Sebenarnya, Aida ragu untuk pergi. Tapi Ray selalu menekan kan jika Ia aman hari ini. Hingga Ia pun menurutĀ  dan pergi untuk berkenalan dan mengunjungi Mama Lia dirumahnya.


"Mas Dev, cuma sama Mama Lia?" tanya Aida.


"Fany, adeknya Mas Dev?" tanya Aida lagi, dengan sedikit ragu.


"Ya, dia adik ku satu-satunya. Kesayangan, tapi usianya ngga lama. Yaudah, mau gimana lagi." senyum Dev, meski pelik.


Mereka asyik mengobrol, sementara Mei hanya diam dan memijat kepalanya. Seperti itulah, jika Mei bertemu dan naik mobil. Ia akan diam tanpa mau berbuat apapun.


Tiba dirumah Dev. Rumah yang tak kalah besar seperti rumah Ray. Hanya saja, disana tak banyak pelayan seperti disana. Dev pun membawa Aida masuk, dan duduk dengan santai di ruang tamu.


"Aku panggilin dulu, Mamaku." ucap Dev.


Aida mengangguk, duduk dengan santai dengan sesekali mengecek Hpnya. Hp baru, yang dibelikan oleh Rayan beberapa hari lalu. Sesuai dengan apa yang Ia inginkan sejak lama. Ray tahu, karena Aida bahkan menyimpan brosur itu dikamar nya.


" Mas Ray mau kemana, Ai? Sibuk banget kayaknya."


"Ngga tahu, Mei. Tapi, memang sibuk banget. Semuanya sibuk, mengurus perusahaan mereka. Kadang, sunyi meski dekat."


"Sabar lah. Mas Ray kan begitu demi masa depan kalian. Bersyukur. Tengok Mei, yang hanya bisa mengiri dengan kehidupan kamu."


"Ngga usah iri, Mei. Semua punya jalan masing-masing."


"Iya, iya, bu Ustadzah. Makin kesini, makin bijak deh." puji Mei.


Mereka hanya saling melempar senyum setelah itu. Aida pun mulai menelusuri seisi rumah dengan mata tajamnya. Ya, benar-benar tajam hingga Ia menemukan sesuatu yang berharga. Tatapan nya langsung tajam, berdiri dan menghampiri sebuah foto keluarga yang terpajang besar diruangan itu.


Mei pun menangkap sesuatu. Yaitu ekspresi yang diberikan Aida pada foto itu. Ia menghampiri Aida, ikut menatap fotonya dengan seksama.


"Astaghfirullah!" ucap Mei, yang begitu kaget, bahkan hingga beberapa kali mengucek matanya.