Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Aku menyukainya


Rayan menangkap tatapan Dev pada istrinya. Membalas itu pada Dev, tapi Dev sendiri tak menyadarinya.


"Nur, masuk ke kamar."


"Iya," angguknya. Baru lah, tatapan Dev seolah buyar setelah kepergian Aida dari sisi Ray.


"Ada apa, Dev?"


"Tidak, aku hanya mengenalnya. Aku, bahkan menolongnya ketika di lecehkan oleh seorang pria."


"Ya, aku baru saja mengambilnya dari pria brengsek itu. Nyaris saja, dia menikahi istriku secara paksa." jawab Dev.


"Aku, bahkan datang ketika Neneknya meninggal. Kenapa, kita tak bertemu?" tanya Dev lagi. Masih sangat penasaran, dengan teka teki dalam hidupnya.


"Aku mungkin sedang ke pemakaman. Kau memperhatikan istriku?" tatap Rayan, tampak serius kali ini.


"Aku menyukainya." jawab Dev dengan begitu jujur. Mona hanya bisa melotot, dan menoleh ke arahnya. Tangan nya pun mencubit paha Dev hingga pria itu tersentak.


"Jangan ngomong sembarangan," lirih Mona, memperingatkan.


Rayan merubah aura ramahnya dengan aura yang penuh amarah. Tapi siapa sangka, jika Ia justru tertawa setelahnya. Tertawa dengan begitu lepas, bahkan nyaris menangis karena nya.


"Haaah, begitu sempurna nya istriku. Baru saja lepas dari sana, tapi disini ada lagi yang menyukainya. Masih sebatas suka? Itu masih wajar. Tapi jika kau mencintainya. Maka aku tak akan tinggal diam."


Ucapan Ray panjang lebar. Hanya dibalas diam oleh Dev. Sedangkan disana, Mona lah yang merasa terpojok. Entah, tak tahu harus berbuat apa.


" Assalamualaikum, " Mei datang bersama Sam. Mona menarik nafas lega, karena akhirnya ketegangan itu berkurang. Ia berdiri dan menyambut mereka dengan ramah.


"Mba Mei, selamat datang di rumah utama. Mulai hari ini, Anda tinggal disini bersama Nyona Aida."


"Mei? Mei sahabatnya Aida. Mei harus selalu dekat sama Aida. Soalnya, Ai ngga ada siapa-siapa lagi." jawabnya dengan begitu ceria..


"Astaga! Bertambah satu lagi orang kampung disini. Rayan! Siapa lagi yang akan kamu bawa?" pekiknya stres.


Mei hanya menelengkan kepalanya, menatap heran dengan wanita itu.


"Mengingatkanku, pada seseorang." gumamnya.


"Mari, saya antar ke kamar. Nanti, Nyonya Aida akan menghampiri Anda kesana." tawar Mona. Ia hanya ingin menghindarai pandangan beratnya.


"Sam, duduklah.". Panggil Ray.


Sam menghampiri, dan duduk diantara keduanya. Ia melihat aura tegang disana, dan hanya menghela nafas pasrah dengan segala lelahnya.


"Sam, aku masih banyak tak ingat mengenai kalian. Memori apa yang kalian beri di dalam kepalaku. Apalagi, tentang mu dan Dev yang selama ini dekat denganku."


"Ray, maksudmu apa?" tanya Sam. Bingung dengan tatapan kedua saudaranya itu.


"Istriku sudah kembali dalam pelukanku. Semua terasa melegakan bagiku."


"Itu tandanya, kau harus makin fokus dalam terapimu. Kau harus segera ingat, tentang aku dan Sam." sahut Dev.


Ray hanya mengangguk, dan menatap keduanya tajam. Entah apa yang difikirnya saat ini. Sam pun terlalu lelah untuk menerka-nerka. Apalagi, Ia baru saja melakukan perjalan dengan seorang anak kecil.


Ya, begitu lah rasanya ketika Sam di sandingkan dengan Mei. Lelah, dan rasa kepalanya ingin pecah sepanjang jalan.


Ada rasa yang lain, di balik De javu yang selama ini Ray rasakan kadang sekelebat bayang seolah menghantui dan membuatnya takut. Tapi kenyataan, membuatnya seketika kuat. Jati dirinya belum Ia temukan. Kadang menjadi Rayan yang tegas dan dingin, dan kadang menjadi Tono yang ceria dan menyenangkan.