
"Kan Rayan bilang, kalau Rayan disana hidup sederhana. Jadi terima yang ada. Asyik, Mam."
"Asyik? what! Ah, sudah lah. Namanya juga, kamu amnesia. Mami berusaha memaklumi kali ini. Sudah, tidurlah." Mami Bian benar-benar keluar kamar Rayan kali ini.
Rayan kembali meraih Hpnya. Begitu sangat di sayangkan, karena Ia tak sama sekali bisa mengambil foto Aida kala itu. Hanya bisa membayangkan, senyum manis dan wajah cemberut yang sering Ia berikan pada nya.
"Rindu? Ya, jelas ini rindu. Begitu menyiksa rasanya." fikirnya. Lalu membaringkan diri dengan segala semangat barunya.
***
"Baby, Sayang. Ayo bangun. Hari ini jadwal kamu padat, harus kesana kemari demi kesembuhan kamu."
Mami Bian kembali masuk, membuka horden dan menyinarkan cahaya matahari persis di wajah Rayan. Pria itu menggeliat. Mencari sesuatu yang biasanya ada di sebelahnya.
" Oh, astaga. Aku lupa," usap tangan pada wajahnya.
" Lupa apa?" Mami Bian memicingkan mata.
" Tidak. Aku mandi dulu. "
" Baiklah, Mami akan mempersiapkan semuanya. "
" Apa? "
" Pakaianmu, apalagi. Mami yang biasa mempersiapkan semuanya untukmu. Kamu harus selalu rapi dan mempesona." ucap Sang Mami.
Rayan hanya bisa mengangguk heran kali ini. Ia sendiri masih gamang dengan segala keadaan yang ada. Ia memang sering di layani, tapi dengan Aida, istrinya sendiri.
" Apa memang begini? Biasanya, meski aku lupa, De javu ku pasti memberi petunjuk. Apa memang, Mami seperti itu selama ini?" fikirnya, dengan mengucuri tubuhnya dengan air dingin dari shower. Ia sudah biasa, karena di rumah kecil, Aida tak pernah menyiapkan air hangat untuknya.
" Rindu lagi. Cueknya, marahnya, juteknya. Ah, ingin segera memeluknya, dan mengecupnya tanpa henti." gemasnya, ketika kembali membayang kan Nur nya.
Air dimatikan setelah Ia membilas tubuh. Ia keluar hanya dengan handuk kecil yang melilit bagian bawah tubuhnya. Menampak kan tubuhnya yang meski kurus, namun memiliki otot yang terbentuk dengan sempurna.
"Mami? Mami mau membantumu berpakaian. Bukankah, itu sudah tugas Mami. Setiap hari Mami melayani kamu dengan baik."
"Oh, tapi maaf... Kali ini, Ray tak ingin. Biarkan, Ray mengganti semuanya sendiri. Mami, hanya mempersiapkan saja."
"Ray? Kamu berubah?" Mami Bian memicingkan mata.
"Ehm... Mungkin dulu begitu. Tapi maaf, sekarang tidak bisa." mohon Rayan, dengan mengulurkan tangannya tepat ke pintu. Menandakan, agar Mami Bianca segera keluar dari kamarnya.
Wanita itu tampak kesal. Menghentakkan kaki dan melangkah keluar pada akhirnya. Entah, apa yanga ada didalam hatinya saat ini.
Langkah kaki nya berbunyi kencang menuruni tangga. Sam sampai menatapnya dengan tajam, sesekali menggelengkan kepalanya meski tak heran.
"Kenapa?" tanya nya datar.
"Rayan, aneh."
"Aneh kenapa?"
"Dia tak mau di layani lagi. Dia malah mengusirku keluar dari kamarnya." balas Mami Bian.
"Wajar, dia sudah dewasa. Dia hanya menghindari bibit-bibit fitnah. Lagi pula, bukan nya dari dulu begitu. Mana Pak Mun, yang biasa melayaninya?" tanya Sam.
"Pulang kampung, mendadak adiknya meninggal." balas Mami Bian dengan lesu.
Rayan menyusul. Ia turun kebawah dengan pakaian yang begitu rapi. Dengan jas, dan setelan hitanya di tambah dengan dasi abu-abu. Rambutnya pun tak kusam lagi, tampak begitu mempesona dengan pomade yang memang sering Ia pakai.
"Gantengnya, anak Mami." puji Mami Bian.
"Terimakasih, Mam." jawab Rayan. Andai itu Aida, pasti Ia akan lebih bahagia.