Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Apa aku berkuasa?


"Ada apa? Apakah akan ada masalah dengan statusku nanti?"


"Tidak, tak ada masalah. Jika ingatanmu sembuh, maka semua akan kembali dalam genggamanmu."


"Aku sangat berkuasa? Sehebat itu kah aku?" tanya Rayan, akan dirinya sendiri.


"Ya, semua orang tunduk padamu. Maka dari itu, jaga kewibawaanmu ketika di hadapan mereka, nanti."


"Biasanya, di balik tunduknya semua orang, pasti ada pembangkang dan musuh. Apa ada?"


"Ya, ada. Maka dari itu, aku meminta mu merahasikan mengenai Aida saat ini. Bahkan, aku pun belum bertemu dengan iparku itu."


"Maaf... Hanya tak tega melihat tangisnya lagi." timpal Ray.


"Ya, aku mengerti. Simpan sedihmu, tegakkan bahu mu. Mereka semua menyambut Pimpinan nya disana," tunjuk Sam, pada sebuah gedung megah ratusan lantai itu. Meski masih jauh, namun sudah tampak dengan jelas betapa meghanya disana.


"Wartawan, colega, karyawan, dan semuanya. Mereka menantikan mu." ujar Sam..


Sekali lagi. Hanya tarikan nafas panjang yang Rayan ambil. Mempersiapkan hati dan mentalnya. Apalagi, menjaga diri agar trauma nya tak mendadak kambuh lagi diantara mereka.


"Tak apa. Sedikit sakit, sedikit ingatanmu kembali." fikirnya.


Mereka telah tiba. Di sambut dengan papan bunga ucapan disepanjang jalan masuk, bertuliskan 'WELCOME TUAN RAYAN'. Rayan hanya menatapnya, tak tahu mana yang tulus dan mana yang hanya sekedar formalitas.


Mobil berhenti, tepat di depan pintu. Mereka semua berbaris, dan bahkan membungkuk ketika Rayan keluar dari mobil. Beberapa kamera mulai mengambil gambarnya dari segala arah. Dan mona, datang bersama Dev yang berjalan santai dengan mengantongi tangan nya di saku celana.


"Tuan, Selamat datang. Mereka semua sudah menunggu di ruang pertemuan." sambut Mona.


"Dia?" tunjuk Ray, pada Pria di sebelahnya.


"Dia Tuan Dev, sepupu Anda." angguk Mona padanya.


Dev pun melepas tangan nya, lalu datang memeluk Rayan dengan erat.


"Maaf, karena aku pun tak ingat apapun tentangmu." sesal Rayan.


Pelukan mereka lepaskan. Dev merangkul sepupu nya itu, dan membawanya masuk ke kantor. Mereka menuju ruang pertemuan, yang disana sudah duduk semua dewan dan direksi.


"Aaaakh! Rasanya, kenapa begini? Memang familiar, tapi kenapa menyakitkan?" Rayan memegangi kepalanya, dan dada nya mulai sesak dengan keadaan yang terpampang di depan mata.


"Are You okay?" tanya Dev yang langsung memegangi Rayan yang terhuyung.


"Iam okay." jawab Dev. Sam tersentak dengan jawaban spontan itu. Seperti, menemukan Rayan yang mendadak kembali pada ingatannya.


*


"Ai! Ai! Sini Ai," panggil Mei dengan kuat. Aida yang baru saja melayani pengunjung, langsung berlari menghampirinya.


"Apa sih, Mae? Teriak-teriak gitu. Ngga sopan?"


"Itu," tunjuk Mei pada tv nya. Meski penuh semut, tapi tampak jelas wajah Rayan yang tampan berwibawa disana.


"Iya, jangan keras-keras. Nanti banyak orang denger." tegur Aida. Ia pun duduk, menatap tv dan memperhatikan Tono nya yang tampak sangat berbeda.


"Ya, berbeda. Ketika kamu kembali pada takdir yang seharusnya, Mas." lirihnya dengan senyum.


"Ya Allah, ganteng banget." puji Mei.


"Heh, itu suamiku."


"Iya, tahu. Tapi yang itu. Yang meluk sama yang di belakangnya. Itu kayaknya yang namanya Sam, deh." tunjuk Mei.


Entah yang mana. Yang jelas, tatapan Aida hanya tertuju pada Tono nya.


"Kasihan, yang ditinggal pergi. Memang sih, kaya. Tapi ditinggalin. Ngga di akuin pula. Udah, jangan berharap kebanyakan. Nanti gila."sebuah suara gaib kembali datang mengusik ketenangan mereka.