
"Pergi jika kau sanggup. Tapi yang jelas, kau tak akan pernah bisa kembali pada kami. Kau adalah beban, padahal harusnya kau lah yang bisa menghidupi kami."
"Bianca bisa, Ma. Bianca bisa, bekerja dan menghidupi Mama. Bianca mantan sekretaris Papa Ray, dan masih bisa bekerja disana. Bianca...."
"Seberapa besar gajimu? Memang kau masih bisa menjadi sekretaris? Siapa yang mau memakaimu? Kau hanya akan dijadikan staf bodoh, dengan gaji biasa."
"Ma... Itu cukup, buat kita. Kita hanya berdua," Mami Bian merangkak, lalu menghampiri wanita itu dengan berlutut di kakinya. Menangis meraung-raung, dengan segala permohonan yang ada. Namun sayangnya, sang Mama bagai batu karang yang begitu sulit diluluhkan. Air mata itu pun terbuang percuma dari Mami Bian.
"Kau tak lelah menangis? Berhentilah, dan segera pulang. Ingat, kau ratu disana. Jangan biarkan yang lain menggantikanmu."
"Ma,"
"Pergi!!" satu kata yang langsung membuat Mami Bianca terdiam, dan menuruti semua perkataan itu. Ia pun berjalan gontai, menuju pintu keluar dan pergi tanpa pernah menoleh lagi.
***
"Tuan, sudah pulang?" sapa salah seorang pelayan pada Ray.
"Ya, Nyonya mana?"
"Sejak pulang tadi, Nyonya di kamarnya. Sedikit lemas, dan pucat. Apakah kurang sehat? Saya ingin masuk, tapi takut menganggu."
"Yasudah, biar saya yang bicara. Taruh tas dan yang lain di ruang kerja," pinta Ray, pada sang pelayan. Ia naik, dan benar saja menemukan Nur nya tengah tidur dengan begitu pulas berselimut tebal.
Rayan berjalan pelan, segera naik ke ranjang dan menghampiri sang istri. Di sentuhnya dahi Aida dan membandingkan dengan dirinya. "Hangat, tapi sama." ucapnya. Ia kemudian duduk bersandar, begitu dekat dengan Aida. Menunduk, dan tangannya mengusap lembut pipi cuby itu.
"Sayang, bangunlah." bisiknya dengan begitu lembut.
Mata Aida terbuka, dan langsung menatapnya dengan senyuman yang begitu manja. Menggelangkan tangan kanan di tengkuk Ray. "Baru pulang? Bau asem," ledeknya.
Ray meraih tangan itu, dan mengusapnya beberapa kali. Membujuk sang istri untuk segera bangun bersamanya.
"Ini udah sore, bangun yuk. Sebentar lagi, kita makan malam."
"Tapi masih ngantuk,"
"Kata Embak, tidurnya udah lama? Nanti malam malah ngga bisa tidur loh."
Aida membalik tubuhnya lagi, memberikan tatapannya dengan mata yang begitu sulit Ia buka. Ray pun dengan jahil, membuka kelopak mata itu dengan kedua jarinya. Ia terbahak-bahak, dengan ekspresi yang diberikan Aida kala itu.
" Lucu," Ray makin terpingkal, tatkala Aida kesal dan memanyunkan bibirnya. A
"Ngeselin! Malah makin dimainin begitu."
"Iya, maaf," tawa nya, begitu sulit berhenti. Aida pun tersipu malu, dan menenggelamkan wajah di dada Ray saat itu.
"Nur kenapa?"
"Mei sama Sam. Aida langsung kepikiran, Mas. Ibarat tengah memegang buah simalakama. Aida ngga bisa menentukan bagaimana seharusnya."
"Hey, Mei sudah dewasa. Biarkan dia memilih, bagaimana yang Ia suka."
"Bukan masalah suka, tapi...." Ray mengusap rambut Aida, lalu meraih kedua wajah itu. Dibawanya menghadap wajahnya, tepat mata bertemu mata.
"Aku Kakak Sam, kamu Kakak Mei. Kita akan saling mengawasi adik-adik kita. Biarkan Mei memilih, untuk masa depannya. Kita ngga pernah bisa mengekang mereka."
Aida hanya bisa membalasnya dengan tatapan penuh haru. Mengusap pipi Ray sesekali turun ke bibirnya, semakin menuju jakun Ray. Seketika, lengan Aida Ray ambil dan menjauhkan dari benda sensitif itu.
" Kenapa?" manyun Aida.
" Ngga papa. Ayo bangun, dan mandi." bujuk Rsy, dengan kecuupan bertubi-tubi untuk sang istri.