Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Yuk, pacaran?


"Kencan? Pacaran?"


"Iya, pacaran. Kita kan belum pernah pacaran. Langsung nikah, terus juga belum sempet pacaran. Yuk, pacaran." ajak Tono, yang tampaknya mendapat ilmu baru lagi kali ini.


"Belajar dari siapa?" Aida memicingkan mata.


"Ngga belajar. Masa pacaran aja belajar." senyum Tono. Tapi, Aida menatapya tak percaya. "A-aku, lihat. Lihat banyak pemuda pacaran di sepanjang jalan pulang. Pengen."


"Kan.... Kaaaan... Sekali diturutin, pengen yang lain."


"Iya, maaf. Manusiawi lah, kita suami istri, ngga pernah jalan bareng. Bahkan....."


"Bahkan apa?"


"Engga, ngga jadi." geleng Tono.


Aida tampak melas menatap suaminya itu, lalu memasang wajah yang sedikit lembut padanya.


"Mas lihat. Mereka aja kalau kencan, pasti harum. Baju mereka rapi, dandan yang cantik."


"Iya, Nur."


"Terus, Aida tadi bilang apa?"


"Nur belum mandi. Maaf."


"Okey, Aida mandi dulu biar wangi. Tunggu, ya? Kita makan bareng."


Tono mengangguk semangat, lalu menggeser piring makanannya.


"Ngga papa dingin. Yang penting makan bareng. Wkwkwkw." tawanya sendirian.


Ia menunggu sedikit lama. Baginya, ini adalah waktu terlama untuk Aida mandi. Sebelumnya, tak pernah selama ini.


"Maaf," ucap Aida, yang telah rapi dengan rok pendeknya. Tampak cantik, karena Ia sedikit memoles bedak di pipinya yang terbiasa natural.


"Nur cantik." puji Tono yang terkesima.


"Terimakasih. Yuk, makan?" ajak Aida, lalu duduk disebelah Tono dengan manis.


"Perlahan, Nur. Apa kau sudah membuka hati untukku?" batin Tono, dengan segala harap bahagianya.


"Jangan ngayal macem-macem loh, ya?" tegur Aida, seolah mematahkan semua harapan Tono saat ini.


"Tak apa, setidaknya ada kemajuan. Hihi," tawanya renyah.


"Kenapa ketawa? Bayangin macem-macem, ya?" cubit Aida di pinggang Tono. Membuatnya meringis kesakitan.


"Haish! Nur, sakit, Nur. Kenapa sih? Lagian suami sendiri, kenapa galak? Kan sah." tukas Tono. Saat itulah, Aida kembali diam dan menatapnya sayu.


"Maaf kelepasan, Mas. Mas marah?"


"Engga. Udah, lanjutin makannya. Aku, akan istirahat setelah ini." jawab Tono. Yang ketika dalam mode serius, Ia tampak semakin tampan dan mempesona.


"Kenapa sesak, ketika melihatnya marah? Tapi... Tapi, ganteng kalau mode serius." kagum Aida, yang akhirnya merasakan, bagaimana hatinya meleleh oleh tingkah suaminya.


Nur akhirnya mengambil alih suasana. Ia mulai bercerita tentang dirinya. Mengenai masa kecilnya, hingga masa dimana kerumitan hidupnya dimulai.


Tono memangku kepalanya dengan siku, menatap serius dengan semua yang Aida katakan. Meski, Ia sudah mendengar dari Mei sebelum nya. Ia pun terkadang berdecak kagum, meski sudah tahu untuk yang kedua kalinya.


"Nur pengennya designer. Eh, malah dimasukin bidan. Ngga nyambung banget." ucapnya.


"Mau kuliah lagi?" tanya Tono, membuat Aida tersentak kaget.


"Aida udah umur segini, Mas. Mau kuliah lagi ya ketuaan."


"Engga, belum tua. Nur masih seperti anak kecil. Imut dan menggemaskan." puji Tono, yang terus menatapnya dengan gemas.


"Ah, bisa aja." tepuk Aida di bahu Tono. Sedikit terlalu keras, hingga terada nyeri. Tapi tak apa, Tono suka. Apalagi ketika Aida memancarkan senyumnya dengan lepas, tanpa beban sama sekali.


"Kencan yang indah, Nur. Setidaknya, bisa mengenalmu lebih dekat lagi.


" Udah makannya?" tanya Aida, yang sedikit mengagetkan.


" Eh, udah. Mau beresin? "


" He'emh," angguk Aida. Tono pun berdiri membantunya membereskan semua. Bahkan, tak segan membantu istrinya mencuci piring kotor yang ada.