Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
I Love You, Mas Tono.


"Apa benar-benar sudah boleh?" Tono meyakinkan sekali lagi, dan Aida hanya kembali mengangguk padanya.


Kemeja crem yang membungkuus tubuh Aida telah terlepas. Tono masih bergerilya di leher Aida yang jenjang, meninggalkan beberapa tanda disana. Aida hanya terpejam, dan sesekali membalas jika Tono menghampiri bibirnya.


Bagi Aida, ini bukan hal asing, meski memang baru pertama Ia lakukan. Yaitu, pada suaminya sendiri.


"Nur, Aku...."


"Jagan ragu lagi. Kita sudah memulainya." usap Aida dengan lembut, tepat di jakuun Tono yang menonjol. Memang, itu adalah bagian yang sangat sensitif. Tono pun langsung tampak beringas, dan membopong tubuh Aida ke kamar mereka.


Tono menghempaskan tubuh mungil itu di ranjang, dan kembali menautkan bibir mereka berdua. Saling membelit lidah Seperti anak kecil tengah mendapatkan permen yang manis. Dan tak diam, tangannya terus mencari sesuatu yang Ia inginkan. Membuka bagian yang masih tertutup, hingga terpampang nyata di depan matanya saat ini.


"Indah sekali," batin Tono, ketika Aida benar-benar dalam kungkungannya saat ini.


Ia semakin tertantang, ketika Aida mulai mengeluarkan suara suara yang semakin menggemaskan dan menggeliat manja. Lagi-lagi, Tono hanya bisa meneguk salivanya dengan semua penemuan yang ada. Apalagi, tubuh polos itu kini di penuhi oleh tanda yang baru saja Ia buat sendiri.


Memang, tak perlu pelajaran khusus hanya untuk sebuah penyatuan keduanya. Spontan, dan mengalir begitu saja menyesuaikan alurnya. Mereka kini tengah menikmati penyatuannya.


"Nur, apakah kau sakit?" tanya Tono, ketika menatap Nur dengan air mata yang mengalir. Apalagi, ada noda merah yang mengalir dibawah sana.


Aida tak menjawab. Ia hanya meraih leher Tono dan kembali ke bibir manisnya. Ia melakukan itu, agar tak terlalu banyak bersuara kali ini. Padahal, tetangga mereka semua tengah sibuk di pesta Amrul semprul.


Desaahann demi desaahann memenuhi kamar mereka. Padahal Aida sudah begitu mengontrol suara nya sendiri. Tapi apa boleh buat, semua itu adalah spontan. Mereka pun tak memiliki Ac, hanya kipas angin kecil yang memberi udara tambahan, di tengah hawa panas yang ada.


Peluh dan keringat sebesar biji jagung, membasahi tubuh mereka. Mengalahkan pengantin yang baru saja menjalani pernikahan. Tono semakin mempercepat semuanya. Aida pun mencengkram seprainya dengan begitu kuat. Sama-sama berada di puncak, hingga sama-sama mendapatkan pelepasan dari pemyatuan mereka yang sempurna.


Tono mengecup lagi bibir Aida bertubi-tubi, serta mengusap peluh yang mengalir di dahi istrinya itu. Aida pun tak mau kalah. Ia juga terus mengulas senyum untuk suaminya.


"Kamu mau tidur?" tanya Tono, yang mengangkat tubuh Aida, dan membenarkan posisinya.


"Mas mau kemana?"


"Ngga kemana-mana, kenapa?"


"Nur?" panggil Tono, tampak agak ragu.


"Hmmm?"


"Kamu bener-bener Nur ku, kan?"


"Maksudnya?" Aida mengangkat kepala, dan membulatkan matanya.


"Agak aneh, ketika kamu bermanja manis seperti ini. Aku takut." ucap Tono dengan wajah tertunduk.


Aida menatapnya tajam, memanyunkan bibirnya.


"Ini apa? Itu apa?" tunjuk Aida, pada semua bekas yang ada di tubuhnya.


"Tandaku." jawab Tono terbata.


"Mas kira yang barusan itu demit? Kalau demit, ngga akan ada tandanya!" omelnya, kembali pada mode asli.


"M-maaf, sayang. Maaf. Aku hanya terlalu jujur. Aku ambilkan minum, ya? Kamu pasti haus, sebentar."bujuk Tono. Ia pun keluar dari kamar, lalu kembali dengan segelas air dingin. Ia duduk di sebelah Aida, sembari mengusap rambutnya dengan lembut.


"I Love You," ucap Tono dengan lembut.


"Hmmm,"


"Kok gitu, bales dong." rayu Tono.


"I Love You to, Mas Tono." balas Aida, dengan sedikit menelengkan kepalanya.


(Nurton... Nurton. Siapa yang kawinan, siapa yang Unboxing Eeet dah. 😅😅🤣🤣🤣)