Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Tak akan pernah sanggup, kehilanganmu


"Aku ngga sengaja. Dia dateng, tepat pada...."


"Pada apa?" Aida menelengkan sedikit kepalanya.


"Dia datang pada saat aku gelisah karena kamu. Ketika aku hampir menguasaimu, tapi orang itu datang."


"Astaga, Amrul. Kamu cuma jadiin Tasya pelampiasan?"


"Tapi dia udah ngga suci lagi."


"Ngga pantes kamu ucap begitu, pada seorang wanita yang tengah mengandung anakmu. Berhenti, Rul. Aku sudah bahagia dengan suamiku. Daripada hancur hidupmu setelah ini." ancam Aida. Ia pun melangkahkan kakinya untuk segera pergi.


**


Tono tengah membantu parkiran di depan. Ia bersama Mang Usman dan Pak Nasir, saling bahu membahu menyusun kendaraan agar rapi.


Datang sebuah mobil mewah diantara mereka, dan seorang wanita cantik turun bersama beberapa rekannya.


"Bu Lili?" sapa Tono dengan ramah.


"Hey, Mas Tono disini?" balasnya yang juga semringah. Wajahnya yang cantik dan semampai, dipoles dengan make up yang mempesona. Ia bahkan tak mmebedakan antara pegawainya yang lain. Dia lah bendahara di Rumah sakit tempat nya bekerja.


"Iya, saya jadi kang parkir. Masih kerabat sama istri saya." balas Tono.


Bu Lili lalu mengajak Tono mengobrol. Tak hanya di luar, tapi juga duduk di dalam untuk menemani makan. Tampak sangat akrab, karena mereka membicarakan masalah pekerjaan yang sama-sama mereka geluti.


"Bagaimana, menurut Mas Tono tentang pembangunan?"


"Ya, bagus kalau menurut saya. Semua bahan bagus dan baik."


"Tak ada indikasi korup?"


"Ah, kalau itu saya belum tahu. Saya naik jabatan, baru besok. Jadi saya belum bisa banyak mengawasi." balas Tono terus terang. Bu Lila hanya tertawa renyah, sembari sesekali menepuk bahu Tono.


Keakraban itu tampak oleh Mei. Mei pun sampai melotot menatap kebersamaan mereka berdua yang tampak intim menurutnya.


" Ah, masa begitu Ai cembukur?" gumamnya.


"Apa cembukur?" tanya Aida yang mendadak datang mengagetkannya.


"Ehm, itu," tunjuk Mei pada Tono dan Lili. Aida pun menatap mereka dalam-dalam. Tak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya menggigit sebuah kue bolu dengan sangat kasar di giginya. Nafasnya pun naik turun, wajahnya tampak memerah.


"Waduh, bahaya." ucap Mei pelan.


"Mas," panggil Aida.


"Ya, Nur. Kenapa?"


"Siapa?" tanya Lili pada Tono.


"Saya istrinya." sahut Aida, sebelum Tono berucap. Tono pun tersenyum, merasa aura cemburu pada sang istri.


"Tono, udah menikah?" tatap Lili padanya.


"Kan, saya bilang kalau saya istrinya. Yang pasti udah nikah lah." balas Aida. Tono pun makin tampak senang, sedangkan Aida menghentakkan kakinya kesal.


"Malah ketawa!"


"Maunya gimana? Aku mau jawab, tapi kamu jawab duluan. Jadi aku senyum aja." timpal Tono.


"Ngeselin!" tukas Aida, yang melangkah pergi lagi dari keduanya.


"Mau kemana, Nur?"


"Ke laut!" balasnya cuek.


"Laut?" Tono memicingkan matanya.


"Mas, Ai kemana?" tanya Mei, yang datang dengan nafas tersengal.


"Pergi, kelaut katanya." timpal Tono yang memasang wajah bingungnya.


"Kenapa dibiarin? Susul sana. Nanti ada apa-apa loh."


"Jangan main-main, Mei."


"Mas, ini pertama kalinya Aida cemburu. Cemburu nya cewek itu bahaya loh. Masa ngga inget."


"Apa?"


"Ayah nya meninggal di laut. Neneknya juga ketemu meninggal di pantai, Mas. Cepetan susul!" bentak Mei.


Tono langsung bergegas lari, tanpa pamit lagi pada Lili. Bahkan, Ia tak menjawab ketika Mang Usman bertanya Ia mau kemana. Perasaan nya cemas seketika, karena semua perkataan Mei mengenai Aida dan keluarganya.


" Jangan macam-macam, Nur. Aku tak akan pernah siap kehilanganmu." gumamnya.