
"Sam, kamu jadi pergi?" tanya Mami Bian di sela sarapannya.
"Ya, jadwal Sam siang. Kenapa?"
"Sampai disana, kamu harus fokus pada Rayan. Jangan kemana-mana. Bila perlu adakah sayembara ke semua penjuru kota, desa, kampung, atau, semuanya lah. Pokoknya kamu harus berusaha lebih dari Dev."
"Hmm," balasnya kesal. Ia bosan, karena selalu itu saja ucapan yang keluar dari mulut Tantenya itu. Ia dengan segera menyelesaikan sarapannya. Berusaha agar cepat lari dari segala ocehan itu. Bahkan, Ia sudah membawa kopernya sedari kini, demi agar tak perlu kembali lagi kerumah itu.
"Aaah, leganya. Aku bisa sekalian liburan, nanti. Katanya, di sana pantainya indah." harap Sam dengan segala ekspetasinya.
Sam menyetir kembali mobilnya, menuju perusahaan keluarga besae Hartono. Ia yang menggantikan posisi Rayan sementara, begitu di hormati dalam posisinya saat ini. Meski, tak akan pernah ada yang bisa menggantikan Rayan. Setidaknya, jika Rayan memang sudah dikabarkan meninggal.
"Mona, apa agenda hari ini?" tanya nya pada sang sekretaris, Mona Leticia. Ia adalah sekretaris yang melayani Rayan lebih dari Lima tahun. Ia faham betul, apa yang Rayan mau, dan apa yang akan Rayan tolak dalam bisnisnya.
"Beberapa rapat di hotel cempaka. Lalu kita akan berangkat ke pesisir, untuk mengontrol Rumah sakit baru kita." jawab Mona, dengan segala laporannya.
"Kau ikut?"
"Ya, Pak." jawabnya singkat.
"Hello, kenapa tegang sekali disini? Bukankah, kita harus bergegas pergi rapat? Bukankah begitu, Mona?" kedip Dev pada gadis cantik itu.
"I-iya, Pak." jawabnya gugup.
"Ya, baiklah. Kita berangkat menggunakan mobil kantor." ucap Sam pada Dev.
"Maksudmu, aku menyetir lagi? Kau kira aku supir?"
"Daripada memakai supir lagi. Repot. Setelah itu, antarkan kami ke Bandara. Kami akan ke pesisir."
"Kenapa tak pakai Helli saja? Bukankah lebih gampang dan cepat?" tawar Dev.
Dev hanya mengangguk pasrah, dan hanya bisa menuruti Sam kali ini. Helli itu memang milik Rayan, terparkir diatas atap gedung yang tinggi itu. Sesekali turun, untuk mendapatkan perawatan. Tapi, orang lain pun tak ada yang berani menyentuhnya sembarangan.
Seperti rencana, Sam naik ke mobil perusahaan mereka. Mobil Alphard berwarna silver itu, sering dipakai Rayan ketika pertemuan. Ruangannya yang luas, membuatnya mudah bersandar dan bahkan sesekali tidur di dalam mobilnya itu.
"Aku hanya rindu, dengan lirikan tajam mu itu. Lirikan yang membuat semua orang takut dan seketika menuruti semua perintahmu. Kedipan matamu, yang selalu dapat menyemangati kami semua. Kau dimana?" tanya Sam dalam hati.
"Kau, masih mau mencarinya?" tanya Dev dari depan.
"Ya, itu tugas ku." balasnya santai.
"Kau yakin, Ia masih hidup? Bahkan, aku sudah begitu sulit mencarinya kemana-mana. Tak ada jejak."
"Ya, sekarang giliranku. Mungkin."
Dan jika lagi-lagi Sam yang menemukan Rayan. Maka, Ia kembali akan mendapat pujian, dari kehebatannya.
"Dan lagi-lagi, aku akan dianggap sepele lagi. Untuk ke sekian kalinya." batin Dev.
Perjalanan singkat. Mereka telah sampai di hotel yang di sepakati. Ketiganya masuk menemui client, dan melakukan rapat sesuai agendanya.
"Kami, turut berbela sungkawa atas kepergian Tuan Rayan, dan..."
"Rayan masih hidup. Maaf, hingga sampai jasadnya diketemukan. Maka, Rayan masih hidup." potong Sam.
"Hey, Sam...."
"Oh, tak apa Tuan Dev. Saya yang salah. Maafkan saya," sesal sang client...