Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Helikopter!


"Kita harus menjemput Nur. Sekarang."


"Ray, ada apa? Fikirkan matang-matang. Tak semudah itu untuk kesana."


"Aku punya Helikopter. Pakai."


"Ray, tapi...."


"Putar haluan, dan lakukan tugasku." perintah Rayan. Dan mode kali ini, adalah mode dimana semua orang akan tunduk padanya.


"Baiklah." jawab Sam. Ia pun segera meminta, agar semua mempersiapkan Helikopter yang akan di pakai.


"Rocky, bersiaplah. Aku kirim titik koordinat yang akan kita datangi."


"Baik, Pak Sam." balas Sang pilot padanya.


"Secepat apapun Helikopter, masih bisa ada halangan lain." ucap Sam.


"Aku tak perduli. Aku mau istriku, Sam." jawab Ray datar.


Secepat kilat, mereka sampai di kantor utama. Rayan mendahului Sam dengan cepat, dan naik lift menuju lantai teratas atau atap gedungnya. Disana, Helikopternya sudah mulai di nyalakan. Baling-balingnya mulai berputar, pertanda siap untuk diterbangkan sesuai titik yang di cari.


"Disana, adakah tempat mendarat? Tak mungkin, kita menerbangkan semua pasir di pantai." tanya Sam.


"Ada, Pak. Saya menemukan nya. Tepat, di tempat yang akan kita tuju." jawab Rocky.


"Ya, disana ada lapangan. Cukup untuk mendaratkan helikopter ini. Jika ada kerusakan, aku akan menanggung semuanya." balas Rayan. Ia telah memasang semua perlengkapan nya. Dan Helikopter siap terbang menyusul Nur nya Tono disana.


"Aku datang, Nur."


***


Aida tengah di dandani. Kebaya putih telah terpakai rapi di tubuh mungilnya. Sebuah sanggul pun terlah dibuat, sesuai dengan pola wajah Aida yang bulat dan menggemaskan.


"Cantik. Pantas, suamiku tergila-gila padamu." puji Tasya, tanpa ekspresi.


"Kau gila, Tasya."


"Semua wanita akan gila, jika ada dalam posisiku." jawabnya. Ia pun pergi, setelah membereskan alat make upnya.


"Apa ini, Rum?"


"Sudah, saksikan saja." dekap erat Tante Rum, dilengan suaminya.


Om Edo hanya terus penasaran. Rasa seperti orang yang sebentar lagi akan merasakan amarah yang teramat parah. Tapi, Ia belum tahu penyebabnya. Ia masih diam, dan menyabarkan dirinya saat ini.


Hingga sesuatu mengagetkan nya. Aida keluar dengan kebaya putih, setelah Amrul duduk di meja itu.


"Rum. Apa-apaan ini? Kenapa bisa Aida dengan Amrul?"


"Maaf, Mas. Hutang kita begitu banyak pada mereka."


"Persetan, Rum. Kamu keterlaluan!"


Om Edo menghampiri kursi pengantin itu. Ia menarik tangan Aida, dan menatap Amrul dengan amarahnya.


"Tak pantas, kamu menikahi seorang wanita bersuami. Amrul!" amuknya.


"Mana suaminya? Mana? Tak ada sampai sekarang, batang hidungnya. Hanya lelaki pengecut, meninggalkan wanita nya ketika senang di sana." cibir Amrul.


"Mas, jangan cari masalah." pekik Tante Rum dari kursinya.


"Om lihat? Istri Om lah yang menyerahkan Aida buat Amrul. Sebagai gantinya, hutangnya lunas." tawa Amrul menyeringai.


"Aku ngga mau nikah sama kamu, AMRUL!" bentak Aida di depan semua orang.


"Cepat duduk! Aku sudah mempersiapkan semuanya buat kamu. Teramasuk, kamar untuk malam pengantin kita."


"Jijik aku sama kamu! Lepasin!" Aida berusaha melepas cengkraman Amrul. Dan Om Edo, justru di tahan oleh Dua orang anak buah Amrul.


"Lepas, lepasin Aida, Rul. Saya akan bayar hutang istri saya!" pekik Om Edo.


Amrul bergeming. Tubuh Aida pun ditahan oleh Tasya dibagian pundaknya. Agar Aida tak dapat kemana-mana. Penghulu memulai, dan Amrul sudah begitu mantap dengan ucapan nya. Hingga, sebuah teriakan mengganggu fokus mereka.


" Helikopter! Helikopter!" semua orang berhamburan, lari dari terjangan angin dari Heli yang mulai mendarat itu.