Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Kau mencintai gadis itu?


"Hari ini kayaknya ramai," tatap Mei pada tempat parkir yang mulai di hadiri beberapa pengunjung.


"Ya semoga saja. Ngabisin belanjaan, terus belanja lagi. Lumayan, bisa mempercepat perputaran waktu yang lambat." jawab Aida yang baru saja selesai menyapu seluruh ruangann warung itu.


Angin berhembus dengan begitu kencang menerpa tubuhnya, dan Ia  hirup dalam-dalam demi melegakan hjati yang masih begitu sesak rasanya.


"Tenang lah, Aida. Dia di sana tengah berjuang demi kesembuhannya. Jika kamu begini, Ia pun tak akan tenang disana." batin nya.


*


" Anda siap, Pak Rayan?" tanya Dokter, yang sudah siap dengan semua alatnya.


"Ya, dalam pemeriksaan ini, kami butuh Anda dengan kondisi rileks. Tenang, dan usahakan jangan berfikir apapun. Kosong." himbaunya.


Rayan hanya beberapa kali menghela nafas, dan berusaha mengosongkan fikirannya. Ia pun mengangguk, ketika himbauan Dokter sudah terlaksana dengan baik.


Dokter mulai dengan tindakan nya. Rayan yang telah memakai pakaian sterilnya, lalu tidur dan dimasuk kan ke sebuah alat seperti tabung. Dan disana, akan dilakukan segala pengambilan data mengenai penyakitnya, terutama di bagian otak.


"Acara dimulai jam berapa?" tanya Sam pada Mona.


"Dua jam lagi. Masih santai, meski sudah banyak yang kesini. Terutama, para wartawan."


"Ya, biarkan mereka menunggu. Rayan, masih dalam ruang tindakan saat ini. Begitu banyak yang harus Ia lewati, demi kesembuhannya."


"Baik, Pak." jawab Mona. Ia pun kembali duduk dan menyandarkan bahu lelahnya. Sama lelah seperti sam, yang harus kesana kemari mengurus Rayan.


"Kau kira aku tak lelah?" ucap Dev, yang datang dari belakang dan mengagetkan Mona.


"Tidak, siapa yang mengganggu? Hanya ingin istirahat. Karena disini Satu-satunya tempat sepi."


Mona hanya mendelik kesal. Tak mau menambah kekesalan, Ia akhirnya kembali menyandarkan bahu di kursi nya.


Kembali pada Sam. Ia di panggil Dokter untuk membacakan hasil MRI nya. Ia masuk, dan duduk di sebelah Rayan.


"Ini bukan hasil. Karena hasil yang sebenarnya, baru akan diterima seminggu setelah ini. Tapi, ini hanya diagnosa dari saya." ucap Sang dokter.


"Iya... Apa saja, tolong katakan. Agar saya bisa menjalani pengobatan dengan sebaik mungkin." Ya, harus dengan baik dan cepat. Agar, semua yang Ia perjuangkan tak sia-sia.


"Sepertinya telah terjadi benturan. Apalagi, menurut riwayat sebelumnya, jika Anda sempat hilang karena hanyut di lautan. Seperti kronologis yang telah di ceritakan. Jadi, untuk sekarang hanya dapat dilakukan terapi. Seperti Tuan Sam, yang harus terus membawa Tuan Rayan Flashback ke masa lalu kalian. Tak perlu jauh, yang terdekat dulu dari hari ini. Misal, sebelum kejadian."


"Baiklah, Dok. Saya akan berusaha membantu Ray sebisa saya. Memancing segala ingatan dia perlahan." timpal Sam.


"Dan jangan terlalu dipaksa. Saya lihat, kondisi Tuan Rayan tak terlalu buruk. Perawatan selama ini baik. Apakah vitamin dan makanan selalu terjaga? Siapa yang merawat?"


"Saya, tinggal bersama seorang Nenek disana. Dan, cucu nya yang lulusan Bidan." jawab Rayan, tersenyum mengembang ketika membahas akan Nur nya.


"Wah, Anda sangat beruntung. Teruskan saja, bagaimana cara Ia merawat. Saya yakin, tak akan begitu lama."


Rayan mengangguk dan semakin optimis. Sam pun segera mengajak nya pergi untuk mengajak Rayan ke kantornya.


"Kau, mencintai gadis itu?"


"Dia cahayaku, Sam. Aku tak hanya cinta, tapi seperti nyawaku saat ini." balas Rayan.