
"Mas, terimakasih. Tapi, uang yang dikasih kebanyakan."
"Itu hakmu. Aku memberinya untuknu. Katakan saja, sebagai mahar yang harus nya ku berikan untuk pernikahan kita. Dan selanjutnya, hanya tinggal membawamu untuk pesta resmi seperti yang kamu ingin kan selama ini."
Mata Aida berbinar. Rona bahagia menyelimuti hatinya, meski itu baru sebatas janji. Tapi, Ia percaya jika suaminya itu akan menepati semuanya. Cepat, ataupun lambat.
Obrolan pun, terpaksa harus berakhir lagi. Tapi tak apa, Aida sudah terbiasa dengan semua keadaan itu. Ia tak sedih lagi, hanya semangat kembali untuk menyambut esok yang lebih baik dari ini.
"Cie, senengnya abis dapet telepon dari Ayank." goda Mei.
"Seneng, Mei. Apalagi? Cuma itu bisanya."
"Iya deh, Mei juga ikut seneng kalau gitu. Yuk, makan." ajaknya.
"Tadi Mei ketemu istrinya Amrul."
"Terus?"
"Dia nanyai Ai. Tanya, pernikahannya gimana. Suaminya kemana. Kepo gitu."
"Mei jawab apa?"
"Ya, sesuau kenyataan. Mas Tono ke kota, buat berobat. Itu aja."
"Iya, makasih, Mei." ucap Aida. Meski dalam hati bertanya, untuk apa Tasya bertanya urusan pribadinya pada Mei.
*
"Sayangnya Mami. Makan yang banyak dong, jangan dikit-dikit gitu. Apa yang buat Ray ngga semangat? Perlu Mami suapin?" tawar Mami Bian. Ia pun seketika menyuapkan sesendok makanan pada Anak tirinya itu.
"Mam, ngga perlu Mam. Ray, bisa sendiri. Mami, makan aja." tolak Ray secara halus. Mami Bian hanya diam, menatapnya dengan penuh rasa kecewa.
"Ada apa dengan kamu? Ada yang kamu fikirkan?"
"Tidak, hanya merindukan sesuatu."
"Kamu bahkan tak punya pacar." jawab Mami Bian, datar.
"Ya, semua yang mendekati kamu, hanya mengincar uang. Kemewahan, dan semua kenikmatan. Mereka tak ada yang tulus."
"Ah, begitu rupanya. Terimakasih, Mam." jawab Ray. Jawaban itu, berbanding terbalik dengan semua yang dikatakan Sam. Bahwa, Mami Bian lah yang selalu menghalangi kisah cintanya. Bahkan, seorang wanita tulus pun pergi hanya karna gertakan Mami Bian kala itu. Entah, Ray tak ingat sama sekali.
"Satu hal yang perlu kamu ingat. Jika Mami adalah orang yang paling menyayangimu. Tak ada yang setulus Mami."
"Iya, Mam." Rayan hanya bisa mengangguk saat ini. Karena itulah, instruksi dari Sam untuknya. Apalagi, Sam tengah berada di luar sekarang, untuk mewakili Ray rapat.
Makan malam selesai. Rayan pamit untuk istirahat di kamar. Ia pun akan meminum obat yang di berikan dokter padanya. Sam berpesan, jika Mami Bian tak perlu tahu pasal obat-obatan itu.
"Entah apa, Sam. Tapi, aku memang hanya bisa menurutimu saat ini."
Hari semakin malam. Rayan tidur sendirian dengan lampu yang Ia matikan. Bayangan itu kembali datang dalam mimpinya. Dikejar oleh beberapa orang, dalam sebuah hutan yang gelap. Hanya remang senter yang mereka bawa, yang tampak di matanya. Seketika kepalanya sakit, dadanya begitu sesak.
"Aaakhhh!" pekiknya dengan peluh yang mulai membasahi wajah. Ia meraih gelas yang ada di sebelahnya. Tapi, gelas itu justru jatuh di lantai.
Agaknya, Mami Bian mendengar hal itu. Ia pun masuk dan menolong Rayan yang tengah lemah disana..
"Astaga, Sayang! Kamu kenapa?"
"Sesak, Mam. Panggil, Sam. Ray mohon," nafasnya terputus-putus.
Belum sempat di panggil. Sam pun datang setelah mendengar kegaduhan itu.
"Ray, kau kenapa?" tanya nya cemas.
Mami Bian pun bangkit, lalu pergi mengambilkan air untuk Yang tengah lemah.
"Ray, kau kenapa?"
"Aku, memimpikan itu. Begitu buruk, Semua gelap, Sam. Aku membutuhkan nya, Sam. Saat seperti ini, aku sangat membutuhkan nya."
Air mata Ray tumpah, meski Ia tak meraung.