Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Itu kau, Sam!


Permainan dimulai. Mereka berpencar menuju tempat masing-masing. Persis, seperti anak kecil yang tengah bermain tembak-tembakan dan saling incar satu sama lain.


Letupan demi letupan mereka arahkan. Tepat dan salah, membuat mereka tertawa bahagia. Seolah tak ada masalah sedikitpun yang mendera. Tampak Sam yang tertawa lepas, ketika bisa tepat menyerang Mei dengan peluru airnya.


"Kak Dev, Mei ketembak." ucapnya pada Dev


"Ayo, kita balas." Dev semakin semangat menarik lengan Mei, dan tak lupa mengajari nya bermain dengan alat itu.


"Mas, apa maksud permainan ini? Adu domba?" tanya Aida, yang terus bersembunyi di belakang suaminya.


"Bukan, hanya aku tengah melihat mereka yang memakai topeng nya disana." jawab Ray. Ia pun membuka topengnya sendiri, lalu membuka topeng Aida yang ada di hadapannya.


"Kenapa?"tatap Aida.


Ray bergeming, Ia hanya tersenyum dan seketika meluu maat bibir itu dengan agresif. Lalu, menghentikan nya seketika.


" Kita lanjutkan dirumah, nanti." ucapnya. Ia memakai topengnya kembali, dan mulai bergabung dengan mereka semua.


"Seperti pahlawan, yang selalu datang belakangan." gumam Aida. Ia pun menyusul Ray, dan berusaha mengimbangi keadaan.


Syuutzzz! Sebuah tembakan mendarat tepat di dada Ray. Ia ambruk, terduduk dan diam.


"Bangun," sambut Dev dengan mengulurkan tangannya. "Kau tak pernah jatuh sebelumnya. Kenapa kau lemah, sekarang?" tukasnya dengan wajah datar.


Ray membalas sambutannya. Dan tersenyum renyah, melanjutkan semua permainan itu.


Canda dan tawa. Sebuah gambaran kebahagiaan mereka di masa lalu. Sayangnya, semua harus terenggut hanya karena sebuah nama dan tahta.


" Ray, kau baik-baik saja?" tanya Sam yang, tiba-tiba meraih lengan Ray.


Genggaman tangan itu, genggaman tangan yang sama. Ray begitu mengingatnya, ketika Ia disekap.


"Itu kau, Sam." ucapnya dalam hati. Tersenyum dengan begitu miris, ketika orang yang paling Ia percaya lah, yang ternyata menangkapnya kala itu.


"Kenapa, Ray?" tanya Sam.


"Kau istirahat saja. Aku, akan lanjutkan permainan kami. Aku terlanjur larut dalam permainan ini." ucap Sam, dengan begitu bersemangat.


Rayan mundur, mencari tempat duduknya di belakang layar tempat permainan mereka. Seolah memang tengah menikmati peperangan antara dua kubu yang saling berlawanan.


" Kau yang selalu ada untuk ku, menemani ku kemanapun pergi. Hanya saja, kau pun selalu memiliki ego, agar aku selalu mau ikut kata-katamu." tatapnya pada Sam.


"Dan kau. Kau selalu berdiri pada pendirian mu sendiri. Selalu bicara sesuatu yang tak kau suka dari semua keputusan. Kau, selalu mau aku menjadi diriku sendiri." tatapnya pada Dev.


Permainan tampak berakhir. Memang tak ada pemenang, karena permainan imbang. Tapi, semua tampak begitu bahagia, terutama Mei dan Aida.


"Sudah?" sambut Ray pada mereka.


"Sudah, ayo pulang." ajak Sam.


"Ray, aku duluan." pamit Dev.


"Mei ikut!"


"Heh, kenapa kau mengintil Dev daritadi? Kau ingin pulang kerumahnya?" tegur Sam.


Mei menggeleng, "Cuma, pengen dianter pakai motor. Males naik mobil."


"Alasan, bilang saja kau ganjen." cibir Sam.


"Kak Sam! Keterlaluan daritadi, ngomongin Mei terus. Ngajak berantem?" sergah Mei.


"Maaf, Mei. Aku harus pulang cepat. Tak sempat lagi mengantarmu. Mama butuh teman, dan hari sudah semakin malam." balas Dev. Sam pun tertawa, mendengar semua penolakan itu.


"Ck, kasihan." ledeknya pada Mei.


"Udah, Mei. Pulang bareng kita aja. Ngga usah ngerepotin Dev." raih Ray pada kepalanya.


Mei pun pasrah, dan akhirnya mengikuti mereka pulang. Hanya saja, Aida tampak diam. Ia bahkan tak berbicara sama sekali, dalam perjalanan pulang mereka yang cukup lama.