Istri Tuan Amnesia

Istri Tuan Amnesia
Amnesia Retrograde


"Ai, hari ini ke warung?"


"Iya lah, Mei. Mau kemana lagi kalau ngga ke warung? Kan kerjanya disana. Daripada di rumah, terhukum rindu."


"Waduh, mulai deh. Salah lagi Mei." lirihnya. "Yaudah, ayok. Mei anter. Tapi nanti Mei tinggal. Soalnya mau laporan data."


"Iya," angguk Aida, lalu berdiri keluar bersama Mei. Sepanjang jalan, Ia bercerita mengenai obrolannya dengan Tono semalam. Masih saja, belum bisa memanggil dengan nama aslinya, Rayan.


"Semalem ada cewek manggil. Suaranya lembut banget. Mas Tono langsung matiin Panggilan." lesu nya.


"Ngga usah Baper, Ai. Itu Mami tirinya Mas Tono. Mba Mona, cerita."


"Iya kah? Kenapa, tak seperti Mami-mami? Masih muda banget. Aaaaah, galauu."


"Itulah, makanya. Waktu Mas Tono disini, kamu galakin dia. Giliran pergi, kangennya setengah mati. Jangan-jangan, ternyata Mas Tono atau Rayan itu, adalan CEO yang galak dan otoriter."


"Jangan nakutin. Masa iya, begitu? Ngga banget lah."


"Ngga ada yang ngga mungkin, di dunia ini, Ai. Hati-hati, nanti dia balas dendam galak ke kamu."


"Mae!"


"Ooops," Mei menutup mulutnya dengan telapak tangan. Andai bisa, Ia akan berlari. Tapi tidak. Ia sedang menyetir motor kali ini.


**


"Kita kemana?" tanya Rayan pada Sam.


"Ke Dokter. Kau harus periksa, seberapa parah amnesiamu. Dan harus bagaimana agar cepat sembuh."


"Amnesia, bukankah akan kembali sendiri?"


"Ya, kalau ada yang bisa mempercepat. Atau, kepalamu ingin ku pukul, seperti di drama?" canda Sam, membuat Rayan sedikit bingung mencernanya.


Tiba di sebuah Rumah sakit. Rayan masuk bersama Sam yang setia bersamanya. Mona tak ikut, karena harus mengurus pertemuan yang akan di lakukan siang ini.


" Ke Dokter, kenapa?"


"Dia, Amnesia? Seberapa parah?"


"Saya ngga tahu, Pak. Beliau baru akn di cek kesehatannya. Barulah nanti, kita akan tahu bagaimana." jelas Mona.


"Oh, baiklah. Selamat bekerja," lambai Dev pada asisten pribadi itu. Mona mencebik kesal mentapnya.


"Permisi, kami sudah buat janji dengan Dokter Fariz." ucap Sam.


"Oh, baiklah Tuan Sam. Dokter Fariz ada di dalam. Beliau sudah menunggu Anda sejak tadi."


"Yess, thank you." balasnya. Sam mencolek Rayan, agar kembali ikut dengan nya masuk ke dalam ruangan sang Dokter.


"Pagi, Dok." sapa Sam dengan ramah.


"Ya, Tuan Sam. Dan ini...."


"Ya, ini Rayan. Pasien yang saya ceritakan. Beliau sepupu saya, baru saja mengalami kecelakaan dan Amnesia."


Dokter mengangguk dengan segala keterangan Sam. Baginya, memang perlu melakukan sebuah wawancara kepada orang terdekat pasien, untuk mengorek segala info tentangnya dan mencari tahu jenis Amnesia yang bagaimana yang tengah di derita.


Usai penjelasan Sam, dokter mulai mewawancarai Rayan. Dan seperti yang tampak, jika Rayan kehilangan sebagian besar memory nya.


"Hanya, terasa seperti saya pernah ada disana dalam beberapa waktu. Tapi, saya tak ingat kapan dan dengan siapa." jelasnya pada sang Dokter.


"Ya, kemungkinan Amnesia Retrogade. Jenis retrograde terjadi ketika Anda kehilangan memori atau ingatan yang telah terbentuk sebelumnya selama Anda hidup."


"Apa bisa sembuh? Saya sadar, jika semua orang membutuhkan saya." ucap Rayan.


Dokter belum berani menganalisa lebih lanjut. Ia baru menyaran kan untuk memeriksa keadaan Rayan lebih detail. Ia mengajak Rayan untuk melakukan CT Scan, bahkan MRI untuk melihat keadaan dalam kepalanya.


"Semua yang terbaik. Aku pasti akan sembuh." ucap Rayan, optimis.