Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 19 Penemuan mayat di Dusun Kalimati


Aku masih bergelung dengan tumpukan boneka teddy bear besar, hello kitty dan berbagai benda lucu menggemaskan nan berbulu di kepala tempat tidurku. Rasanya aku sangat merindukan mereka, juga semua yang ada di kamar ini. Kamarku. Tidak ada tempat yang senyaman kamarku sendiri. Jemariku masih sibuk di atas keyboard ini. Hingga berakhir dengan sebuah kalimat "TAMAT."


"Tha ... makan dulu, yuk," ajak Bunda, memanggilku dari balik pintu kamar. Walau pintu jarang aku kunci, tapi tidak ada yang berani merangsek masuk begitu saja. Semua saling menghargai privacy masing - masing.


"Oke, Bun. Nanti aku keluar," jeritku. Menarik nafas dalam - dalam, melangkah keluar kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, sebentar lagi azan isya akan berkumandang, biasanya kami akan salat berjamaah setelah makan malam. Kegiatan ini mulai rutin dijalankan sejak kami pulang dari desa mengerikan itu.


Di meja makan sudah ada Ayah, Bunda, Kak Arden dan Mba Alya. Aku segera duduk di samping Bunda. Ayah di tengah, sementara Kak Arden dan Mba Alya ada di depanku dan Bunda.


"Tidur?" tanya Ayah saat aku menempatkan diri di kursi samping Bunda.


"Enggak. Lagi ketik - ketik saja Ayah." Mulai mengambil nasi sambil mengamati masakan yang sudah tersaji di depan.


"Kamu suka nulis, Tha?" tanya Mba Alya yang makin hari, makin dekat dengan kami. Bahkan tak jarang Mba Alya juga makan bersama seperti ini. Intensitas pertemuan Kak Arden dan Mba Alya makin intens saja, karena mereka juga bekerja di satu perusahaan. Sehingga dari pagi sampai malam mereka selalu bersama. Apalagi dengan benda berkilau yang melingkar di jari manisnya, menambah keterikatan mereka.


Kak Arden dan Mba Alya sudah bertunangan 6 bulan lalu. Hubungan mereka sudah mulai mendekati tahap yang lebih serius. Aku turut bahagia melihatnya.


"Eum, iseng aja sih, Mba. Sebenernya kan aku suka baca cerita, terus sekarang kan banyak platfom membaca juga, eh jadi ingin bisa bikin cerita sendiri. Mungkin karena pengangguran kali, ya? Sekali dapet kerjaan eh malah masuk ke desa tak berpenghuni. Sial banget, kan," gerutuku, mengambil gulai kambing buatan Bunda. "Ada pesanan aqiqahan, Bun?" tanyaku memotong perkataanku sendiri. Karena jarang sekali Bunda memasak gulai jika tidak ada acara khusus. Walau cafe masih berjalan, tapi kadang ada pelanggan Bunda yang masih suka memesan catering lewat Bunda langsung, dan Bunda akan tetap menerimanya. Karena katanya tidak baik menolak rezeki.


"Iya, itu Bu Kori, punya cucu, jadi bikin acara slamatan di rumah. Pesen ke Bunda."


"Oh. Asyik, lama nggak makan gulai kambing. Mungkin aja aku jadi bersemangat lagi nantinya," ucapku membuat Ayah terkekeh.


"Halah, paling nggak semangatnya karena kangen Radit!" ejek Kak Arden. Sebuah potongan timun langsung mendarat ke wajahnya. Membuat ayah berdecak yang merupakan surat peringatan pertama.


"Kakak duluan itu, Yah!" belaku pada diriku sendiri.


"Kalian itu sama saja. Coba kayak Alya itu, kalem, pendiam."


"Kalau anak ayah pendiem semua nanti nggak ada yang bikin ayah teriak - teriak dong."


"Dasar kamu ini. Coba Al, mungkin ada kenalan teman buat masukin cerita Aretha ke tempat yang seharusnya. Setidaknya biar hobinya menghasilkan," sela Ayah yang justru malah sangat antusias. Padahal aku sendiri tidak pernah berpikir ke arah itu, karena apa yang aku tulis itu hanya hasil pengalaman yang aku alami sejak aku masih di bangku SMA.


"Ada sih, Yah, makanya aku mau tanya ke Aretha ini. Kalau mau, besok aku kenalin sama salah satu kenalan editor begitu. Bagaimana?" Mba Alya memang sudah lama memanggil Ayah dan Bunda dengan sebutan yang sama, karena sebentar lagi dia toh akan menjadi bagian dari keluarga ini.


"Duh, bagaimana ya. Aku nggak percaya diri, Mba. Rasanya tulisanku ini receh banget," Aku menimpali dengan perasaan insecure yang memang benar aku rasakan.


"Dicoba dulu ah, dek. Kenapa nggak percaya diri begitu?"


"Iya, coba dulu saja. Kalau memang nggak diterima, ya sudah, kamu fokus tulis di platfom seperti biasanya. Kalau belum mencoba kita mana tau kemampuan kita, kan, sayang?" Akhirnya dengan penutupan kalimat bunda dan Kak Arden tadi, membuat aku mengiyakan tawaran Mba Alya.


___________________


Kak Arden menyetir di dampingi Mba Alya. Aku, Radit, Danu, berada satu mobil dengan Kak Arden. Sementara Doni, Kiki, Dion, Dedi dan Ari ada di mobil satunya. Hari ini kami akan kembali ke desa itu. Mengambil mobil dan beberapa barang yang masih tertinggal di sana. Menurut kabar dari ayah, mobil itu sudah berhasil diperbaiki, namun kami lupa kalau kunci mobil di bawa oleh masing - masing pemilik mobil. Alhasil, kami akan kembali ke sana dan mengambil mobil sekaligus barang yang masih tertinggal.


Desa Alas Ketonggo sudah kami lewati beberapa menit lalu. Jalanan sudah mulai ramai dengan beberapa kendaraan yang melintas. Sejak kejadian itu, desa yang baru kami tau bernama Dusun Kalimati itu, mulai ramai oleh beberapa truk dan kendaraan lain. Pemerintah setempat berencana membangun tempat itu menjadi obyek wisata alam, karena ada beberapa spot yang dirasa memang cocok untuk dipamerkan pada publik. Sehingga sejak kemarin banyak kendaraan yang keluar masuk desa itu guna merenovasinya untuk kepentingan umum.


"Yakin, kan, kalau mobil kita sudah bener sekarang?" tanya Danu saat kami mulai masuk ke gapura desa, dekat dengan mushola yang kini sedang direnovasi ulang lagi.


"Kata ayah sudah kok. Makanya kita cek nanti. Kalau nggak bisa jalan juga, panggil mobil derek saja."


"Memangnya ada sinyal hand phone di sini?" tanya Radit.


"Ada. Coba deh cek."


Radit mengeluarkan benda pipih dari saku jaketnya, menatapnya lekat - lekat layar di sana. "Eh, iya, ada. Padahal kemarin nggak ada kan, sama sekali?!" tukasnya dengan heboh. Merasa penasaran, kami ikut memeriksa ponsel masing - masing, dan kami pun terkejut seolah ini hal yang benar - benar aneh di luar nalar. Jelas - jelas kami tidak mendapatkan sinyal ponsel saat terjebak di sana, berhari - hari, tapi kenapa sekarang semua terasa lancar saja. Ini benar - benar aneh dan memberikan sebuah pertanyaan besar yang ingin kami ketahui jawabannya.


"Kak, kok bisa?" tanyaku yang memang duduk persis di belakang Kak Arden.


"Iyam bisa. Karena aura dari iblis itu bisa menutup kita dari dunia luar. Ayah aja kemarin sampai muter - muter cari kita entah berapa kali. Kita nggak terdeteksi GPS mana pun. Kalian ingat, saat kamu dan Radit dulu menghadapi demon suruhan teman Pakde?"


"Inget!" Ingatan itu kembali tergambar jelas di memori otakku. Pertempuran Eyang, aku dan Kak Arden kala itu benar - benar salah satu kejadian yang paling melekat di hati.


Rumah - rumah penduduk yang sudah reot, kini rata dengan tanah. Sudah banyak bangunan tua tersebut yang dirobohkan. Di tiap sudut desa, ada manusia yang terus bekerja membersihkan tempat ini. Yah, manusia sesungguhnya. Bukan lagi manusia jadi - jadian yang akan berubah wujud saat malam hari.


"Tapi aman, kan, Den, di sini? Nggak ada penampakan lagi atau semacamnya?" tanya Danu, tetap memperhatikan keadaan sekitar. Lebih tepatnya, kami semua lebih khusuk menatap sekitar dengan suasana berbeda.


"Aman. Malam hari pun masih ada yang kerja, dan katanya nggak menemukan hal ganjil apa pun kok. Jadi sudah benar - benar aman sih."


Kami sampai di depan rumah Pak Karjo, di mana mobil - mobil yang sempat tertinggal kemarin berjejer. Segera turun, dan menyempatkan diri menghela nafas. Yah kami kembali lagi ke sini. Ke tempat yang cukup memberikan traumatik tersendiri pada kami. Bahkan sejak aku pulang kemarin, aku tidak keluar kamar. Kecuali jika ada salat berjamaah atau makan bersama. Rasanya kengerian yang aku alami selama di sini masih terasa dalam kurasakan.


Radit, Doni dan Danu segera memeriksa mobil masing - masing. Sementara pada wanita hanya memperhatikan dari dekat mobil Kak Arden saja. Rumah itu terus kupandangi, memori awal seolah muncul, di mana saat aku dan Danu pertama kali datang ke rumah ini. Sambutan yang diberikan oleh Bu Heni dan Pak Karjo, keramahan mereka terus melekat erat dalam sanubari. Semua, sampai perubahan sikap Bu Heni yang makin mengerikan saat terakhir kali kami bertemu lagi dengan sosok lain dalam dirinya.


Mba Alya menepuk bahuku. "Ada yang mau kita ambil di rumah itu?"


Aku menarik nafas panjang, menoleh padanya lalu mengangguk lemas.


"Tha, biar gue saja yang ambil sama Mba Alya," kata Kiki, dan Mba Alya pun langsung setuju dengan pendapat itu. Kedua wanita tersebut segera masuk ke dalam rumah di ikuti Ari dan Dion yang memang penasaran pada bangunan yang kami ceritakan kemarin.


Tinggal aku sendirian, melihat para pria yang masih berdiskusi tentang mobil massing - masing, rumah Bu Heni yang terus terselimuti kenangan di sana, bersama Nenek Siti. Pandanganku teralih ke rumah sampingnya, rumah Pak Yodie, di mana insiden utama terjadi. Para pekerja bangunan sudah merobohkan rumah itu dan hanya meninggalkan hutan lebat di belakangnya. Hampir semua tempat sudah rata dengan tanah, pembersihan perlahan akan selesai. Aku tidak sabar melihat tempat ini direnovasi dengan tempat baru yang lebih baik nantinya. Sehingga kesan horor dan menyeramkan akan segera hilang nantinya.


"Ada mayat!" jerit seseorang dari arah hutan. Aku sontak menoleh ke arah datangnya orang tersebut. Namun saat aku hendak pergi ke sana, jeritan Kiki justru membuatku menghentikan niatanku semula, dan malah berlari masuk ke rumah Bu Heni, diikuti para pria yang awalnya sibuk dengan mobil di depan.


Rumah ini yang belum sepenuhnya dirobohkan, memang tidak layak dihuni. Masuk ke ruang tamu, mereka tidak terlihat di kamar depan, aku terus masuk ke dalam hingga akhirnya kami sampai di belakang rumah, tepatnya di sebuah sumur tua. Kiki dan Mba Alya saling berpelukan dengan ekpresi ketakutan. Dion dan Ari menatap lubang sumur di depannya.


"Kenapa?" tanya Kak Arden, panik.


"Itu, Den, ada mayat!" rengek Mba Alya menunjuk sumur tersebut. Otomatis kami berhamburan mendekat ke tempat itu. Benar saja, di dalam lubang yang masih berisi air tersebut ada 3 mayat yang ada di dalamnya. Pikiranku sudah ke mana - mana. Tiga mayat di sumur, dan entah mengapa nama tiga pemilik rumah ini yang melintas di kepalaku.


"Ada apa ini?" tanya salah satu mandor yang bertugas di tempat ini.


"Ada mayat, Pak," tunjuk Radit ke lubang yang sedang kami tatap sekarang. Dia tetap memegang pinggangku yang saat ini tidak kuat menahan berat badanku sendiri.


"Lagi?" Pertanyaannya justru membuat kami bingung.


"Itu tadi yang teriak nemu mayat di sebelah mana, Pak?" tanyaku yang memang penasaran tadi.


"Oh itu katanya di dekat sungai, Mba. Tapi bukan cuma itu sama di sini saja, bahkan hampir di semua rumah, ada mayatnya. Kadang ada di halaman, kadang di atas plafon, ada juga yang dikubur di kamarnya sendiri. Mengerikan sekali sih tempat ini," jelas pria yang kutaksir berumur 45 tahun tersebut. Dia berkali - kali memegangi tengkuknya. Wajar saja, semua orang pasti akan ketakutan jika berada di posisi ini. Berada di sebuah desa di mana banyak mayat yang tersebar di tiap sudutnya.


Sepertinya semua mayat warga desa memang belum diketemukan, dan baru terungkap sekarang. Aku bahkan tidak berpikir sampai sejauh ini. Karena aku pikir tadinya, kalau mereka sudah dikuburkan di pemakaman desa, walau aku baru sadar tidak ada pemakaman di desa ini. Ternyata semua terungkap, kalau mayat mereka bahkan belum dikuburkan dengan layak.


Alhasil semua orang kini mulai mengumpulkan mayat dari tiap rumah. Di letakan di tanah yang ada di tengah jalan, berjejeran menjadi kesatuan yang panjang. Setiap rumah bahkan terus diperiksa dengan teliti, bahkan Kak Arden sampai meminta data penduduk yang ada di dusun ini, guna menghitung penemuan mayat yang kami dapatkan dengan jumlah asli warganya. Jangan sampai ada yang kurang, atau jika lebih, maka pasti dia bukan penghuni dusun ini, atau mungkin pendatang yang ternyata menjadi korban kegilaan seorang iblis licik tempo hari.


"Heh! Itu ... Lulu?" tunjuk Danu ke sosok mayat wanita yang berada di ujung, kondisinya basah dengan pakaian terakhir yang dipakai saat bertemu kami.


"Bener!" Kami berbondong - bondong mendekat dan bertanya tentang penemuan mayat wanita itu. Ternyata dia adalah mayat yang ditemukan di hutan, dekat sungai. Mayat yang ditemukan pertama setelah jeritan Kiki di rumah Pak Karjo tadi.


"Kok bisa dia malah mati gini?"


"Gue pikir juga dia sudah balik ke rumahnya, kan?"


"Rasain sih, kena karma. Makanya jadi orang jangan jahat," sindir Kiki, kesal.


"Hust, jangan begitu. Kita doakan saja, semoga dia tenang di sana. Mungkin dia nggak bermaksud jahatin kalian kemarin, kalian bilang kondisinya juga memprihatinkan, dia berbuat itu karena keadaannya, walau memang nggak dibenarkan juga sikapnya yang seperti itu. Tapi, alangkah lebih baiknya kita mendoakan dia bersama - sama. Bagaimana?" tanya Mba Alya, bijak.


Mayat - mayat ini kemudian diangkut dengan sebuah truk yang awalnya digunakan untuk membawa kayu - kayu yang akan dijadikan bahan baku pembangunan wisata alam di tempat ini. Setelah berdiskusi, maka salah satu sudut desa yang berada jauh dari kawasan yang akan dijadikan obyek wisata, akan dijadikan pemakaman untuk mayat - mayat ini.


Aku mendekat ke mayat Nenek Siti yang terlihat sudah membengkak, karena berada terlalu lama di dalam sumur. Tubuhku kembali merosot ke tanah, Radit dengan setia mendampingiku. Rasa sedih kembali aku rasakan saat mayat nenek dikuburkan. Aku bahkan menangis meraung di dalam pelukan Radit. Rasanya aku masih belum rela kalau nenek meninggal dengan keadaan seperti ini. Mengorbankan nyawanya yang sekian lama dia pertahankan hanya untuk melindungi kami. Aku dan semua teman - teman berdoa bersama, juga melaksanakan salat di tempat ini, mendoakan agar arwah mereka tenang di alamnya.


Kenangan ini tidak akan pernah hilang. Takut, sedih, kecewa, semua aku rasakan. Dan kisah ini, aku tuang dalam sebuah karya. Tidak banyak pembaca yang tertarik dengan cerita horor yang aku tulis, tapi ada beberapa pembaca setia yang terus menunggu aku menuliskan kembali kisah - kisah horor lain. Aku menulis, karena aku menyukainya. Dengan menuliskan semua kisah itu, juga seolah mengabadikan memori yang sudah aku alami dulu. Aku tidak akan melupakan semua tokoh yang ada dalam tulisanku. Beberapa adalah tokoh asli, beberapa adalah tokoh imajinasi. Tapi mereka semua seolah hidup dalam nadiku. Sampai saat ini.