
"Cit, lu masuk lewat mana sih?" tanya Kiki menyelidik. Mendengar pertanyaan sahabatnya itu, Citra hanya menoleh ke belakang, dan menunjuk dengan arah yang tidak jelas.
"Kalian kenapa sih? Aku ada, kalian malah heboh gini, aku ngilang kalian makin heboh. Nuduh aku setan lah, demitlah, anak kuntilah." Citra terus menyerocos dengan kalimat yang justru membuatku terbelalak.
"Tunggu! Dari mana kamu bisa menyimpulkan hal semacam itu?" tanyaku menunjuk nya dengan ekspresi yang menuduh. Jujur saja, dia makin membuatku curiga. Dia benar - benar aneh!
"Oh, aku ... Aku dengar semua yang kalian katakan. Makanya, kalian jangan coba - coba untuk membohongiku! Jangan pernah lagi membicarakan ku di belakang! Paham!" jeritnya dan membuat kami mundur sedikit ke belakang. Hawa sekitar tiba - tiba terasa lain. Aku mulai merasakan keanehan pada diri Citra. Ada hawa hitam pekat dari dirinya yang terasa jahat.
"Cit, Ari mana? Bukannya tadi dia sama elu?" tanya Kiki yang makin mengintimidasi.
"Ari? Nggak tau, tadi gue balik duluan, Ki. Capek. Pusing gue." Dia lantas berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Meninggalkan kami begitu saja, dalam ekspresi yang penuh tanda tanya.
Hari mulai beranjak sore. Mobil belum bisa dinyalakan, sementara teman - teman lain belum juga kembali. Sepertinya kami harus menginap lagi di sini.
Aku hendak menutup pintu, sampai pada akhirnya melihat kerumunan orang dari arah hutan tengah mendekat ke vila ini. Aku memicingkan mata melihat siapa mereka, dan segera membuka lebar pintu saat melihat mereka pulang. Ari sedang di papah oleh Dedi dan Radit. Di belakang mereka ada teman - teman yang lain mengikuti.
Kondisi Ari sedikit memprihatinkan. Dia terlihat kacau sekali. "Don! Ki!" jeritku agar mereka keluar dan melihat hal ini. Kiki dan Doni segera keluar dan melihat kondisi Ari.
"Gimana? Ari kenapa?!" tanyaku panik.
"Kita taruh dulu di kamarnya. Kasihan dia!" sahut Radit dengan kepayahan membawa Ari.
Banyak luka gores di wajah Ari, bahkan beberapa pakaiannya koyak. Entah apa yang telah menimpanya sampai dia seperti ini. Aku dan Kiki segera menolongnya, mengobati lukanya dengan perlahan dan hati hati sekali. Para pria berada di ruang tengah, memikirkan bagaimana cara kami keluar dari tempat ini.
"Mana Citra?" tanyaku ke Kiki saat kami membalut luka luka di tubuh Ari. Kiki hanya menggeleng sambil memeriksa sekitar.
Aku langsung pergi keluar kamar, dan mencarinya.
"Citra mana?" tanyaku pada mereka yang masih berdiskusi.
Mereka menatapku lalu mencari Citra ke sekitar. Namun tidak juga menemukan wanita tersebut. Sampai akhirnya teras vila riuh oleh langkah kaki dari banyak orang. Pintu di pukul pukul kencang. Suara Bintang dan Roger mendominasi.
Dedi membuka pintu dan mendapati mereka semua ada di luar dan memohon agar bisa masuk ke vila kami.
"Ada apa sih?" tanya Radit begitu mereka masuk.
"Tutup pintu, Bang!" pinta Roger dengan tubuh menggigil.
Dedi segera menutup pintu setelah sebelumnya mengintip keadaan di luar. Dia menggeleng sebagai pertanda kalau tidak ada orang lain di luar sana.
"Duduk dulu," suruh ku pada mereka.
"Ada apa sih?" Kiki mulai tidak sabaran. Semua berkumpul dan ingin tau apa yang terjadi pada anak muda di hadapan kami ini.
"Ollie! Kesurupan lagi, Bang!" jelas Rayi.
"Sekarang Ollie di mana?" tanyaku.
"Di vila."
"Kita harus tolong dia dong!"
"Jangan Kak Aretha. Berbahaya!"
"Maksud kalian?"
"Karena ... Ada Kak Citra di sana. Dan sepertinya Ollie juga salah satu seperti Kak Citra."
"Maksud lu apa sih? Salah satu apa?"
"Dia anak kuntilanak merah. Karena sewaktu kami masuk ke kamar, Ollie sedang duduk bersama mereka berdua. Kak Citra dan kuntilanak itu," bisik Roger ketakutan. Adnan berjalan mondar mandir dan berkali kali melihat ke arah jendela.
"Kita harus pergi dari sini!" kata Adnan serius.
"Tapi gimana caranya. Mobil kami rusak semua!" cetus Danu kesal.
"Bentar!" aku meraih gawai dan segera menghubungi seseorang. "Ah, sial! Kak Arden nggak aktif!" pungkasku. Namun aku mengetik pesan padanya agar dia bisa datang ke sini. Semoga Kak Arden membaca pesanku.
Bunyi anak ayam terdengar samar. Semua orang saling pandang, terutama kami yang sudah pernah merasakan kengerian di dusun Kalimati.
"Tha, Suara ini...," Danu mulai panik.
Tak lama suara burung hantu dan lolongan anjing membuat kami makin ketakutan.
Dari jendela, kami dapat melihat bayangan seseorang yang melintas di teras. Ah, tidak hanya satu, tapi ada 3 bayangan dengan pakaian berwarna merah menyala.
"Gaes!" jerit Roger menunjuk ke luar. Kami terpaku di tempat kami berdiri, terus melihat ke jendela dan pintu, yang mana memang sebagian besar terbuat dari kaca tebal. Bayangan tersebut tampar nyata dan mulai mendekat ke pintu.
Ketukan terdengar pelan. Namun tak lama terus naik nadanya. Semua orang mundur. Kami ketakutan. Pukulan di pintu terus membuat kami ingin segera berlari dari tempat ini, tapi kami tidak tau ke mana kami harus pergi.
Brakkk! Pintu berhasil didobrak. Hingga daun pintu tersebut lepas dari tempatnya. Meninggalkan lubang besar di luar, dan menampilkan tiga sosok mengerikan tersebut.
"****** kita!" gumam Kiki.
"Tha, kita harus gimana?" tanya Dion.
"Aku nggak tau," sahutku lemas.
Mereka bertiga masuk ke dalam. Menatap kami intens sambil menyeringai menakutkan. Wajah Citra dan Ollie berubah aneh. Hal ini menunjukkan kalau mereka benar - benar bagian dari setan merah itu.
"Baca doa!" jerit Radit dan membuat semua perlahan mulai menggumamkan doa doa yang mereka tau. Radit mengumandangkan azan. Sementara Dedi membaca ayat kursi, dan yang lain membaca surat pendek yang mereka tau. Kiki terus beristigfar dengan menempel padaku.
Tiga sosok itu menjerit, menutup telinga dan makin marah. Kuntilanak merah tadi menjulurkan tangannya dan kini memanjang hingga dapat mencekik Radit dan Dedi. Mereka berdua di bawa naik ke langit langit rumah sambil kesakitan.
"Dedi!"
Melihat hal itu, aku mendekat sambil mengambil tasbih yang ada di saku celana. Terus berzikir, kuntilanak merah itu terus menatapku tajam.
"Lepaskan mereka!" kataku menggumam pelan, sambil terus berzikir dalam hati.
"Tidak akan!" sahutnya dengan suara serak dan mengerikan.
Aku terus maju, menunjukkan tasbih tersebut hingga terus mendekat padanya. Dia mulai mengerang, tidak nyaman pada benda di tanganku ini. Tangannya terlepas dari Radit dan Dedi. Kini aku justru di hempaskan hingga jatuh menghantam bufet.
Rayi dan Bintang mendekat dan berusaha membantuku. "Kak, nggak apa apa?"
Aku mengangguk. Kuntilanak itu terus berusaha melukai semua orang yang ada di ruangan ini. "Kalian bantu mereka!" pintaku sambil memegangi punggung dan perutku yang sakit. Rayi dan Bintang mengangguk walau terlihat ragu. Rayi mengambil tasbih milikku, lalu melakukan sama seperti yang aku lakukan tadi. Saat dia mendekat, Rayi kembali dihempaskan sama sepertiku. Bintang melanjutkan misi ini, dia pun bernasib sama.
"Hei!" jerit Radit saat melihat kuntilanak itu mendekat padaku. Dia mengeluarkan tasbih miliknya yang kutau itu adalah pemberian Pakde Yusuf. Radit berlari dan mengalungkan tasbih itu ke leher kuntilanak merah. Iblis itu mengerang kesakitan. Dia terus menjerit dan berputar putar di tempat.
Citra dan Ollie sedang berkelahi dengan teman teman yang lain. Walau mereka wanita, tapi mereka bukan manusia biasa, dan teman teman pria justru kalah telak. Mereka terkapar di lantai sambil memegangi dada, tangan, kepala yang terluka.
Suara mobil terdengar di luar. Cahaya lampu nya menyorot ke dalam vila dengan terang. Kami menoleh dan berusaha mencari tau siapa yang datang.
"Kalian nggak apa apa?" tanya seseorang dari arah pintu, yang ternyata adalah Kak Arden.
"Kakak!" jeritku dengan mata berkaca kaca.
Kak Arden mendekat santai ke Citra. Dia membaca doa doa sambil memegangi kepala Citra lalu mencabut sesuatu dari pucuk kepalanya. Citra menjerit dengan kesakitan, tubuhnya perlahan berubah. Dan dia kembali menjadi sosok seperti kuntilanak merah tadi. Citra berguling guling di lantai. Sepertinya perubahan itu terasa sangat menyakitkan. Kak Arden lantas mendekat lagi ke Ollie, dan melakukan hal yang sama. Kini tiga sosok mengerikan penyebab teror vila selama ini mulai mengeluarkan asap. Perlahan sosok mereka hilang.
Kondisi vila terlihat sangat kacau. Kami berusaha bangkit dan mengobati diri sendiri. Tidak ada yang tidak terluka. Semua terluka entah ringan hingga berat. Kak Arden membantu kami semua. Beruntung Kak Arden datang.
"Kok kakak udah ke sini aja?" tanyaku penasaran sambil melihat pesan yang tadi aku kirimkan.
"Kakak dari kemarin hubungin kamu tapi nggak aktif. Kakak cemas, makanya nyusulin ke sini. Ternyata bener, ada yang nggak beres!"
"Ya ampun, untung kakak dateng!" kataku lalu memeluknya erat.
"Iya, dek, kamu nggak apa apa ,kan?"
"Aku nggak apa apa kok."
Pelukan kami terlepas, kak Arden mengobrol dengan Radit dan Dedi tentang masalah yang kami alami selama di vila ini.
"Oke, besok kita semua balik. Jangan ada yang tinggal lagi. Tempat ini belum bisa dipakai sepertinya. Dion kamu perlu mengadakan syukuran dulu sebelum tempat ini dikelola. Jangan sampai ada korban jiwa lagi. Kalian tau nggak, kalau di sekitar ini ada kerajaan kuntilanak? Jadi makhluk seperti tadi akan terus berdatangan. Perlu pagar gaib, agar makhluk itu tidak bisa masuk ke dalam."
"Tapi, Den, kenapa Citra salah satu dari kuntilanak juga. Bukannya dia itu pacar Ari yang otomatis dia punya kehidupan selama ini di luar."
"Ya memang, kadang ada sebagian dari mereka yang menyamar menjadi manusia. Tugas mereka adalah menyesatkan manusia. Menjerumuskan kita untuk menjadi pengikut mereka. Yah, kalau sampai Ari terus bersama Citra, maka dia akan menjadi budak mereka. Naudzubillah."
Malam semakin larut. Kami mulai istirahat dalam satu vila. Rombongan Rayi dan teman temannya juga menginap di vila ini. Mereka masih trauma atas kejadian tadi.
________
"Gimana? Mobil? Nyala?" tanyaku saat baru selesai mandi pagi. Semua orang sudah bersiap akan pulang ke rumah. Mobil pun sudah bisa menyala dan siap pergi.
"Udah, yah, memang mobil mati karena ada gangguan mistis, makanya sekarang mobil udah baik baik aja setelah gangguan itu hilang," jelas Kak Arden.
"Kita bisa pulang dong!" jerit Kiki bahagia. "Horee!"
Aku hanya tersenyum melihatnya yang sangat bahagia. Semua orang juga terlihat lega.
"Tha." Radit menarik tanganku menjauh. Berjalan terus ke dekat tebing. Teman teman yang lain hanya menatap kami sambil bersorak.
"Ciee."
"Asiik."
Aku bahkan tidak tau apa yang mereka lakukan. Padahal sikap Radit yang seperti ini, sudah biasa bagiku.
"Kenapa, Dit?"
Radit hanya menunduk tersenyum sambil merogoh kantung celananya. Ada sebuah kotak berwarna merah dengan bahan beludru. Hati kecilku sudah bisa menebaknya. Cincin!
"Aretha, kita udah lama saling mengenal. Sejak masa putih abu abu, kuliah, dan sampai sekarang. Sudah bertahun tahun kita jalani dan hubungan kita makin dekat. Aku bahagia bisa kenal kamu, Aretha. Sebenarnya aku pengen buat acara yang lebih romantis dari ini, tapi karena kejadian semalam, semua buyar. Hehe." Radit tertawa masih dengan back song dari teman teman di depan vila yang terus menyoraki kami.
"Aku ingin melamar kamu, menjadi istriku. Aku mau kita terus bersama sama. Udah nggak ada lagi yang ingin aku capai sekarang, selain menikahi kamu, Aretha. Aku sayang kamu, kamu mau menikah sama aku?" tanyanya sambil menunjukkan cincin di kotak merah tersebut. Dia lalu berjongkok, layaknya pria pria romantis yang aku temui di film. Aku tertawa dengan mata berkaca kaca. Menutup mulut lalu mengangguk cepat menjawab pertanyaan itu.
"Apaan dong, jawab, jangan pakai bahasa tubuh. Biar nitijen di sana denger," kata Radit sambil menunjuk teman teman. Aku sontak tertawa lepas.
"Iya, Radit. Ayok kita menikah!" sahutku dengan menaikkan nada bicara.
"Horeeee!"
__________
Acara dipercepat. Hanya hitungan hari, dari prosesi lamaran, hingga akad hanya butuh satu bulan saja. Kak Arden dan Mba Alya memilih menikah belakangan, karena ada beberapa hal yang harus mereka persiapkan matang - matang. Sementara Aku dan Radit yang sudah siap menikah, meminta ijin terlebih dahulu. Karena pamali jika adik melangkahi kakaknya menikah. Tapi semua sudah disepakati bersama.
Semua teman teman dekatku dan Radit datang. Semua berkumpul di acara resepsi yang kami adakan di hotel mewah. Aku memakai gaun putih yang panjang menjuntai. Tak lepas senyum dari bibir kami berdua terukir. Ini adalah hari paling bahagia sepanjang hidupku. Aku tau, aku dan Radit pasti akan menikah. Tapi tidak menyangka, kalau hari itu akan terjadi juga sekarang.
...Aku tak pernah menunggumu. Kamu tak pernah sengaja datang. Tapi kita sengaja dipertemukan Tuhan. Entah untuk saling duduk berdampingan atau saling memberi pelajaran.Entah untuk saling mengirim undangan pernikahan, atau duduk bersama di pelaminan. -Rohmatikal Maskur-...
_______
...Terima kasih untuk semua yang sudah baca cerita saya. Saya undur diri. 🙏🏻...