
"Mana sih, Sule? Udah jam berapa ini!" cetus Armand sambil berkacak pinggang menyapu pandang ke sekitar.
Bus yang akan membawa mereka sudah datang sejak subuh. Hari ini mereka yang beranggotakan 13 orang, akan pergi KKN ke sebuah dusun yang cukup jauh dari kota besar. Tempat itu dipilih secara acak oleh pihak kampus, demi keadilan untuk tiap kelompok peserta KKN tahun ini. Jadi mereka tidak bisa memilih sendiri tempat yang mereka inginkan untuk kegiatan tersebut. Semua sama, tidak pandang bulu bagi tiap peserta.
"Udah ku telepon katanya lagi di jalan. Tunggu sebentar lagi, bah!" kata Khusnul dengan logat khas Banjarmasin. Beberapa di antara mereka memang berasal dari tanah Borneo. Walau berbeda kota, bahkan provinsi.
"Duh, udah siang ini loh! Bukannya kita udah bahas kemarin, jam 7, kita harus udah jalan. Ini udah jam 8 loh, Nul!"
"Iya, tau. Sebentar lagi lah." Khusnul berusaha membujuk Armand agar menunggu Sule yang memang hobi terlambat.
Wajah Armand sudah sangat masam, sementara Khusnul justru cemas sambil terus mencari keberadaan Sule, teman terdekatnya. Bagaimana pun juga, Khusnul tentu juga kesal dengan kebiasaan Sule yang tidak tepat waktu seperti sekarang.
"Nah, itu dia!" jerit Rahma dan membuat semua orang menoleh ke arah yang mereka tunjuk.
"Lama banget, Le? Jam berapa ini?!" tegas Armand sambil menunjuk jam merk G-Shock di pergelangan tangan kirinya. Armand, adalah anak konglomerat di kelompok itu. Dia satu satunya mahasiswa yang memiliki ponsel dengan antena di atasnya. Di tahun ini, ponsel seperti itu adalah keluaran terbaik dan bahkan tidak banyak mahasiswa yang memilikinya. Dia juga mahasiswa yang paling maju dalam penampilan. Barang barang yang ia pakai semua bermerk dan asli. Ayahnya bekerja sebagai diplomat. Sehingga kehidupannya lebih mapan dari yang lain. Tapi Armand merupakan sosok mahasiswa santai, dan paling rasional dengan pola pikir yang tenang dan tidak mudah percaya dengan hal hal klenik.
"Maaf, kesiangan," kata Sule sambil menyalami semua orang. "Udah? Yuk, berangkat."
"Eh, tunggu! Hitung dulu orangnya," cegah Indy sambil memeriksa sebuah berkas berisi nama-nama peserta.
"Berapa sih yang ikut?" tanya Mey.
"Satu, dua, tiga ... Semuanya 12. Semua udah datang?" tanya Indy memeriksa semua anggota.
"Kurang satu," gumam Mey yang memang ikut menghitung, membantu meringankan tugas Indy.
"Apanya kurang satu? Itu tuh, lagi duduk. Dia ikut juga, kan?" tanya Khusnul menunjuk seorang pemuda berkaca mata yang sedang duduk di bawah pohon beringin mini tak jauh dari mereka.
"Oh iya, si Dery itu! Ya udah, pas, yuk jalan!"
Semua orang naik ke dalam bus, dan bersiap untuk perjalanan ke sebuah Desa yang akan menjadi tujuan KKN mereka.
Kuliah Kerja Nyata atau KKN menjadi program kebanyakan kampus di Indonesia. Kalau mau lulus, ya harus mengikuti program KKN yang diadakan oleh kampus. Biasanya mahasiswa KKN itu akan ditempatkan di desa-desa. Tujuannya sih supaya bisa ikut membangun pedesaan-katanya. Mereka yang sudah sampai semester tujuh, sudah pasti akan melakukan kegiatan KKN ini. Semua sudah saling mengenal, walau beberapa justru baru pernah bertemu dan berbincang akrab.
Perjalanan dari Ibukota menuju desa tersebut cukup jauh, maka dari itu mereka memutuskan harus pergi pagi pagi sekali agar sampai di tempat itu sebelum gelap. Tidak ada akses seperti jalur kereta api, padahal jika mereka naik kereta pastinya akan menyingkat waktu perjalanan.
Bus yang mereka naiki memang tidak terlalu besar. Setidaknya cukup untuk menampung 12 orang itu menuju tempat tujuan. Sepanjang jalan, suasana tampak meriah. Walau mereka berbeda jurusan satu sama lain, tapi mereka cukup akrab untuk disebut sebagai orang asing. Beberapa menjadi dekat karena dulu pernah satu SMU, atau memang karena aktif di kampus bersama.
Daniel yang merupakan ketua mahasiswa di kampus, atau disebut ketua BEM. Menjadi pilar tombak kelompok mereka untuk bisa memberikan kontribusi terbaik nantinya. Mereka sangat yakin, kalau dengan hadirnya Daniel di tengah tengah mereka, akan memberikan banyak dampak positif. Melihat juga kinerjanya sebagai ketua BEM, yang cukup mendapat acungan jempol.
Tidak hanya itu saja. Karena di kelompok mereka juga ada presiden mahasiswa, yang merupakan jabatan tertinggi di kampus mereka. Yaitu Fendi.
Mereka berbeda karakter, dan memiliki keunikan masing masing. Karakter Fendi yang cepat berbaur dengan sekitar membuatnya banyak dikenal dan memudahkan pekerjaannya sebagai Presiden mahasiswa. Apalagi dia juga terkenal dekat dengan beberapa mahasiswi, dan bahkan dia di cap sebagai playboy kampus. Berbanding terbalik dengan Daniel yang memiliki pembawaan kalem, karena latar belakangnya yang anak pesantren. Tapi di balik itu, Daniel merupakan sosok yang dewasa, mengayomi dan selalu tenang dalam menghadapi setiap masalah yang ada. Walau sebenarnya celetukannya sering terdengar menjengkelkan, tapi jika itu semua keluar dari mulutnya, maka semua bisa dimaafkan. Lagi pula semua orang sangat mengenal karakter Daniel selama ini. Dengan latar belakang anak pesantren, bukan berarti dia tidak dekat dengan wanita. Karena Daniel justru orang satu satunya yang memiliki pacar dalam kelompok itu. Devi, seorang mahasiswi jurusan ekonomi, telah menjalin hubungan dengannya sejak setahun lalu. Pertemuan mereka memang karena keaktifan Daniel dalam organisasi. Devi juga merupakan mahasiswi yang cerdas, dan mereka memang sangat cocok satu sama lain. Tidak pernah ada gosip miring tentang Daniel atau bahkan Devi. Keduanya merupakan pasangan paling harmonis dan tidak pernah neko neko selama ini. Hanya saja, KKN kali ini, mereka tidak satu kelompok. Devi harus pergi ke daerah Jogjakarta untuk KKN dengan kelompoknya.
Sementara para wanita memiliki karakter yang hampir sama semua, ramai, cerewet, dan suka mengobrol dengan bahan obrolan yang terkadang tidak penting. Kecuali Icha dan Rahma. Ike adalah mahasiswi yang paling datar, paling santai, dan paling netral. Sementara Rahma lebih suka memasak, dan tidak terlalu suka menggosip seperti yang lain. Tapi para wanita ini justru sangat percaya adanya makhluk halus di sekitar. Bahkan mereka paling suka menonton film horor, dan segala hal berbau horor. Pembahasan mengenai setan dan semacamnya bagai makanan sehari hari bagi mereka.
Sudah lima jam mereka berada di atas bus dengan bau asap knalpot yang cukup mengganggu. Hingga akhirnya, bus tiba tiba berhenti.
"Kenapa nih? Kok berhenti?" tanya Khusnul, orang paling cerewet yang memiliki karakter keibuan.
"Udah sampai kita?" tanya Mey ikut tengak tengok sekitar.
"Ah, belum. Ini mah masih di hutan! Seharusnya ada gerbang nama desanya loh," cetus Indi.
"Terus kenapa berhenti bus nya, ya?" tanya Ike.
Semua pertanyaan terus terucap dari mulut mereka. Beberapa hanya memutuskan diam sambil melihat dari jendela samping dan mencari alasan kenapa kendaraan yang sedang mereka kendarai ini tidak kembali berjalan. Supir bus turun dan terlihat sedang sibuk melihat ke arah ban besar, dan memeriksanya satu persatu.
"Kenapa, Pak?" tanya Daniel agak mengeraskan nada bicaranya, melongok dari jendela ke bawahnya.
"Bocor, Mas!" sahutnya sambil menggaruk garuk kepalanya yang botak, tertutup topi bundar.
"Terus gimana, Pak? Ada ban cadangannya nggak?"
"Ada kok. Cuma saya minta tolong, bantuin saya mengganti ban ini, ya!" pintar sopir tersebut.
"Oh, oke." Daniel lantas turun diikuti beberapa orang yang berniat membantu sopir bus itu.
Baru 5 menit berselang, mereka yang awalnya sabar menunggu akhirnya tidak tahan lagi dan memutuskan untuk turun dari bus untuk menghirup udara segar di luar.
"Kenapa kalian turun?" tanya Fendi.
"Bosen. Gerah!" sahut Mey.
"Nanti digigit nyamuk, terus mengeluh," sindir Cendol.
Yah, nama aslinya memang bukan Cendol, tapi Ryansyah Hermawan, tetapi teman teman lebih suka memanggilnya cendol karena dia pernah praktek membuat cendol dan menjualnya ke kantin kampus.
"Cen, jangan bawel deh jadi cowok," cetus Indy.
Namun pada akhirnya mereka semua turun dari bus. Entah ikut menyaksikan ban yang sedang di ganti, atau hanya melihat lihat sekitar.
Ike yang sebenarnya sedang memperhatikan teman temannya di samping ban besar itu tiba tiba menoleh ke belakangnya. Posisi bus berada di sebelah kiri, dan ban yang bocor adalah ban belakang sebelah kiri juga, jadi otomatis mereka sedang membelakangi hutan di belakang.
"Huhuhuhu!" Tiba tiba dia mendengar suara tawa yang singkat dan samar samar.
Ike mengerutkan kening. Namun saat Derry yang berada paling dekat dengannya ikut menoleh, Ike menggerakkan alisnya ke atas dan bawah dengan cepat. Sementara Derry yang seperti mengerti maksud Ike hanya mengangkat kedua bahunya ke atas. Tetapi mereka berdua masih memperhatikan hutan di belakang mereka. Disaat itu juga, daun daun di belakang tiba tiba bergerak cepat. Seperti ada yang menggoyangkan nya dengan kasar.
"Cok, buruan!" pekik Dery sambil memukul bahu Armand yang sedang jongkok di depannya.
"Iya, sabar ih!" tukas Armand agak sebal.
Akhirnya ban yang bocor berhasil diganti, dan mereka pun melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Sepanjang jalan baik Ike dan Derry tampak diam, tidak membahas apa yang mereka lihat tadi pada teman yang lain. Akhirnya mereka pun tidak membahasnya lagi.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan akhirnya mereka sampai di desa tersebut. Di depan jalan, ada gapura desa yang berdiri di kanan kiri jalan.
'Selamat datang di Dusun Kalimati'
Dua gapura itu sebagian sudah tertutup, rumput hingga jika orang yang tidak memperhatikan jalan dengan benar, pasti tidak akan melihat dua gapura itu berada di samping kanan dan kiri jalan. Bahkan jalan aspal hanya sampai di depan gapura ucapan selamat datang saja. Jalan masuk desa itu masih tanah dan batu kerikil yang hanya bisa dilalui 1 kendaraan roda 4 saja.
"Wah, gila! Ini sih bener-bener daerah pedalaman banget," ucap Dollmen.
"Ya kan emang konsep dari KKN adalah kita datang ke daerah-daerah yang seperti ini untuk memajukan desa-desa yang masih terpencil menjadi lebih baik dari sebelumnya. Gimana sih!" sindir Mey.
"Iya tahu. Tapi ini mah mirip tempat Jin buang anak," ucap Dollmen lagi.
"Sembarangan kalau ngomong! Hati-hati sama mulutmu itu. Jangan ngomong sembarangan di tempat seperti ini," kata Sule.
"Bercanda, Le. Eh tapi serius juga sih. Serem soalnya. Lihat masih banyak banget hutan di sini. Rumah penduduknya di mana? Kita ini KKN di desa apa di hutan sih sebenarnya?" tanya Dollmen.
"Si Dollmen mah bawel!" Omel Indy.
"Ini sekolahan cuma 1 bangunan aja per jenjang pendidikan?" tanya Ike.
"Iya, lah itu tulisannya kelihatan, Ke," tunjuk Fendi.
"Lho, anak-anak Sekolahnya gimana?"
"Shift shiftan kali," sambar Derry.
"Shift shift-an gimana sih? nggak ngerti aku."
"Mungkin gini, untuk anak SD, kelas 1 masuk jam 7-9 pagi, Kelas 2 masuk jam 9-12, dan seterusnya," tukas Daniel.
"Kalau gitu kelas 6 masuk malam dong? Itu sekolah SD apa kampus sih!" cetus Fendi.
"Daripada bingung lebih baik kita tanya Pak Kepala desanya aja. Ayo, turun," ajak Armand.
Bus meninggalkan desa tersebut setelah menurunkan barang-barang mereka. Kedatangan Mereka pun tampaknya tidak terlalu mendapat apresiasi dari warga sekitar dan perangkat desa. Buktinya gini mereka hanya berdiri diam sambil dengan tengok sekitar untuk mencari Di mana keberadaan kepala desa.
"Udah jelas di balai desa! Masa di sekolah dasar!" timpal Derry.
"Lihat itu, Balai desanya udah tutup. Masa iya masih ada kepala desa di dalam. Pasti udah pulang lah," sahut Daniel.
"Cari siapa, Mas?" tanya seorang wanita yang memikul tampah dengan menggendong bakul yang berisi sayuran.
"Pak Kades sudah pulang ya, Bu?" tanya Daniel sopan. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya saat berhadapan dengan wanita tua itu.
"Oh ya sudah. Kan Balai Desa bukanya cuman setengah hari, Mas. Kalian ini dari mana?" tanya ibu itu sambil memperhatikan mereka semua dengan seksama.
"Kami ini mahasiswa yang akan KKN di desa ini."
"KKN kui opo? Jadi, kalian mau ketemu Pak Kades, kan? Ya sudah. Ayo ikut saya saja, karena rumah saya melewati rumah Pak Kades."
"Baik, Bu. Terima kasih banyak."
Mereka pun akhirnya mengikuti Ibu tadi pergi. Jarak dari Balai Desa menuju ke rumah Pak Kades hanya sekitar 1 km saja. Rupanya setelah berjalan melewati Balai Desa, Mereka pun langsung bisa melihat rumah-rumah penduduk yang menyebar di tempat itu dengan cukup rapat. Hampir semua rumah di desa itu terbuat dari kayu dan bambu. Hanya rumah Pak Kades aja Yang dibangun dengan tembok.
Begitu memasuki halaman rumah Pak Kades rupanya orang yang sedang mereka cari sedang duduk di teras rumahnya sambil menikmati secangkir kopi dan gorengan.
"Eh, kalian mahasiswa itu, ya? Ayo, masuk!" kata Pak Kades dengan antusias.
"Betul, Pak."
Mereka pun langsung masuk ke dalam setelah dipersilakan oleh pemilik rumah. Obrolan basa-basi mulai terdengar hingga Menjelang magrib. Tapi langit sore itu masih terang.
"Ya sudah. Mari saya antarkan kalian ke rumah yang akan kalian tempati selama berada di desa ini. Sebentar lagi gelap."
Sekalipun pemukiman penduduk di daerah ini cukup rapat tetapi suasana hutan di sekitar masih terasa. Semakin mereka berjalan semakin terlihat hutan-hutan yang ini ada di kanan kiri jalan.
"Jadi rumah yang akan kalian tempati nanti agak sedikit jauh dari pemukiman warga. Karena hanya rumah itu saja yang bisa kalian tempati di sini. Kebetulan rumah itu memang milik salah satu warga yang kini sedang merantau ke negeri orang. Dan apa itu nampaknya lebih cocok untuk kalian ketimbang rumah warga desa yang lain. Kalian kan mahasiswa dari kota jadi rasanya tidak cocok kalau tinggal di rumah-rumah kayu."
"Ah, Bapak. Tapi nggak papa kok jika harus tinggal di rumah-rumah kayu asalkan tidak kepanasan dan kehujanan saja," sahut Sule.
"Hehehe. Nggak apa apa, Mas. Kebetulan memang rumah itu sudah disiapkan jauh-jauh hari dan saya sudah menyuruh orang untuk membersihkannya."
"Pak, memangnya sekitar sini sudah nggak ada rumah lagi, ya?" tanya Dollmen.
"Iya, kok makin kita jalan, yang terlihat cuma hutan-hutan saja?" tanya Armand.
"Iya, jadi memang kebanyakan warga tinggal di lingkungan tadi. Ada beberapa rumah lagi kok nanti, cuma memang kosong. Karena penghuninya kebanyakan sudah meninggal atau pergi ke kota untuk merantau."
"Oh begitu. Jadi kami nanti tinggal sendiri dong, Pak? Nggak ada tetangga?" tanya Khusnul.
"Hehehe. Iya, Mbak. Rumah kosong yang ada di desa memang hanya di daerah sini saja. Semoga kalian nanti betah di sana ya."
"Ini rumah kosong juga, Pak?" tanya Indy. Dia menuju ke sebelah kanan di mana ada sebuah bangunan yang sudah permanen dan tampak kotor.
"Iya, bener. Rumah itu kosong karena penghuninya sudah meninggal. Mereka ditemukan gantung diri di rumah itu," jelas Pak Kades tanpa beban.
"Hah? Gantung diri? Serius, Pak?" tanya Mey sambil terus memperhatikan rumah itu dan berjalan mendekati Ike.
"Iya. Nggak apa apa kok. Kalian jangan khawatir tidak akan terjadi apa-apa. Selama kalian tidak melakukan hal-hal yang buruk. Saling menghormati dan menghargai sekitar. Cinta dan manusia itu kan memang diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berdampingan. Jadi kita harus bisa membiasakan diri hidup berdampingan dengan mereka asalkan tetap berusaha untuk saling menghargai dan menghormati."
Mereka cukup terkejut dengan informasi yang baru saja diberikan oleh Pak Kades mengenai rumah yang konon pernah menjadi tempat bunuh diri pemiliknya. Apalagi saat makan dan menjelaskannya dengan tanpa rasa bersalah ataupun tidak enak kepada mereka. Seakan-akan mereka disuruh untuk beradaptasi dengan lingkungan tersebut secara paksa.
Mereka terus berjalan meninggalkan tempat itu walau sesekali beberapa dari mereka masih sering menoleh ke belakang untuk melihat keberadaan rumah kosong itu yang menjadi tampak lebih mengerikan dari sebelumnya
"Nah, itu rumah yang akan kalian huni," tunjuk Pak Kades ke sebuah rumah permanen yang tampak rapi dan lebih nyaman dilihat daripada rumah warga desa yang lain. Mereka pun mendekat ke bangunan tersebut.
" Bagaimana pendapat kalian? Rumah ini lebih nyaman bukan?"
"Hehehe. Nyaman, Pak. Walau berdekatan dengan rumah bekas bunuh diri," ucap Derry sarkas.
" seperti yang tadi saya bilang, kalian tidak perlu mengkhawatirkan mengenai rumah tadi. Kalian tidak akan kenapa-napa jika kalian bisa menjaga sikap dan tidak bertindak orang ajar di tempat ini."
"Iya, Pak. Kami mengerti. Terima kasih banyak untuk semua yang sudah Pak Kades siapkan untuk kami," ucap Daniel.
"Kamar di rumah ini ada 4. Tapi ruang tamunya luas, kan? Jadi kalau kalian tidak bisa tidur di kamar maka kalian bisa memanfaatkan ruang tamu untuk beristirahat. Besok saya akan menyuruh orang Untuk mengantarkan tikar dan kasur lantai agar bisa kalian pakai."
"Oh iya, Pak. Kamar mandinya di mana ya?" tanya Rahma.
" tidak ada kamar mandi. Jadi kalau kalian ingin mandi atau buang air kalian bisa memanfaatkan sungai yang ada tak jauh dari rumah ini."
"Pak, serius? Nggak ada kamar mandi di rumah ini? Nanti kalau aku kebelet tengah malam gimana dong," tukas Mey.
"Pake botol, Mey," sahut Dollmen.
"Yee!"
" Iya. Saya minta maaf sebelumnya Kalau rumah ini memang belum memiliki kamar mandi, jadi Jika kalian ingin mandi atau buang air bisa memanfaatkan sungai. Sebaiknya sebelum gelap, kalian sudah menuntaskan hajat saat Sore harinya, jadi malam nanti tidak perlu pergi ke kamar mandi lagi."
"Oh begitu ya, Pak."
Senyaman nyamannya rumah itu tetap saja tidak nyaman saat mendengar kalau rumah tersebut tidak memiliki kamar mandi. Setelah menjelaskan beberapa hal kepada mahasiswa-mahasiswa itu Pak Kades langsung pamit pulang karena hari sudah mulai gelap.
" jadi rumah ini ada di paling ujung desa?" tanya Indy.
" dan kita nggak punya tetangga yang bisa kita mintain tolong kalau ada sesuatu ," sahut Khusnul.
"Ya Allah. Cobaan apa lagi ini," tutur Mey.