
...hai pembaca setia saya. maaf, masih belum update untuk hari ini. Jadi saya selingi dengan cuplikan part di eps season lalu. maaf kalau ada yang tidak suka, atau bahkan memaki. saya punya alasan tersendiri melakukan ini. tapi saya usahakan besok saya update. Dan itu akan menjadi part terakhir di cerita ini. Setelah ini, saya akan stop menulis di mana pun. entah sampai kapan. mungkin untuk waktu yang sangat lama sekali. Terima kasih untuk apresiasi kalian selama ini. saya sangat terharu dan bahagia karena banyak yang mengikuti saya sejak pertama kali saya menulis, baik di *******, ataupun Kaskus. kalian rela mendownload banyak aplikasi demi bisa membaca tulisan saya. Terima kasih banyak. Maaf kalau selama ini saya banyak salah ke kalian. I love you, All....
(RUMAH KOSONG)
POV ARDEN
Pukul 19.00
Kami sudah bersiap untuk memulai acara bakar bakaran lagi.
Memang kegiatan ini seperti menjadi agenda rutin kami selama di sini. Mengingat halaman rumah Om Wayan yang nyaman dan pas untuk acara outdoor, dan sepertinya mereka sangat antusias jika melakukan hal ini bahkan hampir setiap malam.
"Den ... Nanti bawain ayam, ya, di dapur." Tiba tiba Alya muncul di belakangku dengan membawa piring dan sendok.
"Oh oke. Ayam aja?" tanyaku memastikan.
"Iya, ayam aja. Hati hati tapi, agak berat," ujarnya lagi.
"Iya, Al."
Segera saja aku ke dapur dan mengambil ayam yang hendak dibakar ke halaman depan.
Semua ikut andil dalam kegiatan ini. Aku mendekat ke Alya dan membantunya menyiapkan segala keperluan untuk memasak.
"Kurang apa lagi, Al?" tanya ku padanya.
"Ya ampun, Den. Kecap!! Aku lupa beli. Habis nih. Gimana dong," katanya panik.
"Ya udah, biar aku yang beli. Aku ambil jaket dulu ya, anginnya kenceng nih," kataku.
Aku lalu masuk ke dalam kamar dan segera mengambil jaket yang tergantung di hanger belakang pintu.
Sampai di depan, aku mengajak Dedi agar menemaniku membeli kecap yg jaraknya tidak begitu jauh dari rumah om Wayan.
Namun, Radit dan Aretha malah minta ikut. Sepertinya mereka berdua sedang bertengkar, raut wajah keduanya tidak begitu sedap dipandang, terutama Aretha.
"Beli kecap aja kayak mau tawuran," celetuk Doni asal.
"Sambil jalan jalan, Don," sela Dedi.
"Ikut?" tanyaku.
"Males ah. Den, hati hati tuh sama adek elu. Dia lagi kumat, bahaya banget," kata Doni sambil tertawa puas.
Aretha langsung menginjak kaki Doni keras keras dengan wajah yg sangat masam.
Wah, kalau Aretha sedang begini, aku mending pura pura tidak melihatnya saja. Memang bahaya sekali kalau dia lagi ngambek.
Beberapa kali Radit berusaha mendekati Aretha, namun Aretha terus menghindar. Sepertinya sedang ada di perang dingin.
"Ya udah yuk. Jadi ikut nggak?" tanyaku pada mereka berdua.
"Jadi lah, Kak," sahut Aretha ketus.
Kami lalu berangkat dengan jalan kaki berempat.
Suasana agak sepi, hanya sesekali motor berlalu lalang di jalanan yg kami lewati ini.
Hingga saat kami akan melewati sebuah rumah kosong.
Badanku terasa tidak nyaman, dan Aretha berhenti berjalan sambil menatap rumah itu dengan tatapan bingung.
"Dek, ada apa?" tanyaku.
"Nggak papa kok, kak. Biarin aja," katanya lalu berjalan lagi.
Namun saat kami meneruskan perjalanan, kami mendengar seperti ada piring pecah di dalam rumah itu.
Otomatis kami berempat menoleh ke rumah kosong tersebut
Rumahnya gelap, kotor dan tidak terawat.
"Paling kucing, " kata Radit.
"Masa sih?" tanya Dedi tidak percaya.
"Iya anggap aja gitu," sahutku agar dia tidak memperpanjang obrolan ini.
Karena aku tau apa sebenarnya yg ada di rumah itu, dan aku yakin Aretha juga merasakannya.
Lagi lagi kami mendengar suara aneh.
Kini ada suara tangis anak kecil.
Kami berhenti dan menatap ke sekitar.
"Suara dari mana nih?" tanya Dedi dengan muka agak panik.
Aku dan Aretha langsung melihat ke rumah itu. Aku langsung membuka mata ketiga dan melihat seorang anak kecil sedang berdiri di balik korden rumah itu. Sekalipun tempat itu gelap, namun cahaya bulan mampu membuat sosok itu terlihat jelas oleh kami.
Aretha melirik padaku lalu menaikkan alisnya ke atas.
Aku hanya mampu menaikkan bahuku juga ke atas.
"Udah yuk. Biar aja," kataku lalu mengajak mereka pergi ke tujuan semula kami.
Tak lama kami sampai di warung itu.
"Ini saudaranya Wayan, ya?" tanya Ibu pemilik warung.
"Iya bu, betul. Saya keponakan om Wayan," jawab Aretha ramah.
Kami lalu membeli beberapa barang yg memang kami butuhkan.
"Eh, kalian lewat rumah kosong itu?" tanya Bu warung lagi.
"Eum... iya bu. Memang nya kenapa?" tanya Radit.
"Hati hati ya, di sana angker banget.. banyak orang yang hilang kalo udah masuk ke sana," jelas bu warung itu sambil melirik ke sana kemari.
Terlihat sekali raut wajah ibu itu sungguh ketakutan. Sebenarnya ada apa dengan rumah itu?
Om wayan pun tidak pernah membahas soal rumah itu.
"Memang nya rumah itu kenapa, bu. Kok kosong?" tanya Dedi yg penasarannya udah di ubun ubun.
"Jadi, dulu ada yg tinggal di sana. Mereka 1 keluarga. Sepasang suami istri dan seorang anak laki laki yg masih kecil."
Degg!!
Aku dan Aretha saling lempar pandangan. Walau kami hanya diam, tapi aku tau apa yg ada di dalam pikirannya.
Anak yg tadi itu salah 1 anggota keluarga penghuni rumah itu.
"Memangnya mereka ke mana bu? Kok rumahnya kosong gitu. udah lama ya bu?" tanya Dedi sambil meneguk soft drink yg dia beli.
"Udah 3 tahun ini kosong. Dulu rumah itu pernah kena kebakaran mas, terus kebetulan cuma ada anaknya di dalem, dan saat orang orang ke sana, semua sudah terlambat. Anak itu meninggal hangus terbakar," ucap ibu itu.
"Anaknya kebakar bu??" tanyaku penasaran.
"Iya, orang tuanya lagi pergi ke acara hajatan yg gak begitu jauh dari rumah. tapi karena rumah mereka jauh dari yg lain, pas rumah itu kebakar gak ada yg tau. kasihan banget," terangnya.
Kebakar? masa? Perasaan yg kulihat tidak ada luka gosong apa pun pada anak itu.
Aretha mendekat padaku.
"Kak.. Masa sih tu anak kebakar? Kok bersih gitu ya sosok nya?" tanya Aretha sambil berbisik.
"Kakak juga ragu, Dek.. Kayanya enggak deh. Tapi gimana ya?" aku pun belum paham betul apa yg sebenarnya terjadi pada anak itu.
"Eh, yuk balik. Ditungguin nih kecap," celetuk Radit dengan menunjukan belanjaan kami barusan.
Akhirnya kami pulang.
Dan kembali kami melewati rumah itu.
"Eh, ngomong ngomong gak ada jln lain ya, selain lewat sini?" tanya Radit sambil memandang rumah itu ngeri.
"Ya kagak ada, Dit. Mau lewat mana lagi ini jalan satu satunya lho. Elu takut?" tanya Dedi.
"Enak aja. Enggak lah," elaknya.
Padahal aku tau kalau mereka berdua sama sama takut.
"Aduh! Siapa nih yg ngelempar gue!!" teriak Dedi sambil memegang kepalanya.
"Apa sih ribut banget," timpal Radit.
Dedi memungut batu yg tadi mengenainya.
Sambil mengelus pucuk kepalanya, dia mencari siapa yg iseng melemparnya barusan.
Degg!!
Sosok anak itu kini berdiri di halaman rumahnya sambil melambai lambaikan tangannya.
'tolonng... Tolong, kak,' ucapnya dengan suara yg sangat mengiba, membuat bulu kudukku meremang.
"Cabut deh.. Gawat kelamaan di sini," ajak Radit, sambil menarik tangan aretha.
Kami lalu berjalan agak cepat menjauhi rumah itu.
Buuuggg!
Aku menoleh ke belakang dan mendapati Dedi jatuh pingsan di jalan beraspal ini.
"Eh... Ded!! Kenapa lu!" teriak Radit lalu kami kembali menghampiri Dedi.
"Ded! Dedi! Bangun, Ded!! Kenapa si? duh gawat banget. Pingsan gak liat liat sikon lagi ni anak," kata Radit.
Ya mana ada pingsan liat liat situasi dan kondisi dulu. Ini anak suka ngaco emang. Lagi keadaan serius gini masih bisa becanda.
"Ded! Bangun, Ded!!" teriak Aretha, lalu membaca doa dan meletakan telapak tangannya di dahi Dedi sambil memejamkan mata.
Aku berdiri sambil berkacak pinggang melihat ke dalam rumah itu dengan seksama.
Apakah ini ulah anak itu atau ada makhluk iseng lain di sana.
Tak lama Dedi bereaksi.
Dia mulai bergerak sambil memegangi kepalanya.
"Ssh ... Sakit banget kepala," gumamnya.
"Alhamdulillah... Akhirnya sadar juga, Ded!!" ucap Aretha lega.
"Ya udah, yuk cepet pulang aja. Jangan lama lama di sini," ajakku.
Ku ulurkan tanganku ke Dedi dan membantunya berdiri.
Dia masih jalan sempoyongan karena baru sadar dari pingsan nya tadi. Akhirnya aku dan Radit memapahnya hingga sampai rumah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Om wayan mana?" tanyaku ke Alya.
"Barusan pergi, Den. Katanya ada kerjaan terus balik besok. Soalnya keluar kota," jelasnya sambil masih sibuk dengan ayam panggang buatannya.
Jika melihat Alya, aku teringat bunda. Bunda juga jago masak.
"Kok malem malem pergi sih." aku berbicara sendiri.
"Iya, katanya ada kerjaan mendadak, Den. Emang kenapa?" tanya Alya lembut lalu menatap mataku lekat lekat.
"Mm... en... Enggak papa. Hehe"aku malah gagal fokus karena ulah Alya kali ini.
Astaga. huft.
"Den... Dedi mana sih? Gue ambil dia minum malah ngilang?" tanya Radit sambil celingukan.
Aku pun ikut mencari keberadaan Dedi yg benar benar tidak bisa kulihat sepanjang mata mandang.
Perasaanku jadi tidak enak.
"Ded!!! Dedi" teriakku agak panik.
Karena jelas jelas tadi ku dudukkan dia di saung bambu di dekat kolam ikan.
Radit menatapku dan sepertinya mengerti kegelisahan ku.
Kami lalu mencari Dedi di semua sudut rumah.
"Apa sih? nyari apaan elu pada?"
Tanya Doni yg sedang menikmati lobster panggang.
"Dedi mana? elu liat gak?" tanya Radit.
"Dedi? kagak liat gue. Justru gue mau nanya. Dedi kalian tinggal di mana sih?" tanyanya bingung.
"Lah orang tadi dia duduk di situ," kataku sambil menunjuk tempat yg kumaksud.
Doni menoleh pelan
"Elu gak usah ngaco ya, Den... Kagak ada. Tadi kalian balik bertiga doang!!lah Dedi kalian tinggal di mana??" tanya Doni bingung.
Deggg!!
Aku dan Radit saling lempar pandang lalu menunjukan kerutan di dahi kami masing masing.
Jika tadi bukan Dedi yg kami bawa, lantas siapa?
Dan mana Dedi?
Astaga...
_________
(MISTERI)
POV ARDEN
Malam ini juga kami akan mencari Dedi, dan tempat satu satu nya yang akan kami datangi adalah rumah kosong itu.
Kami semua akan ke sana, kecuali Kiki, Alya dan Doni. Aku juga tenang karena Pak Nyoman menemani mereka di rumah.
Mereka sengaja ada ada di rumah saja, siapa tau Dedi tiba tiba pulang sendiri ke rumah, walaupun aku tau itu tidak mungkin.
"Oke... Siap?" tanyaku pada mereka yg sudah berkumpul di halaman.
Mereka mengangguk dengan wajah serius.
Kami jalan kaki ke rumah itu.
Saat ini sudah pukul 21.30
Dan kami sengaja nekad mencari Dedi saat ini juga kareba takut terjadi hal yg buruk padanya.
Bagaimana pun juga dia tanggung jawabku di sini.
Hanya sekitar 10 menit kami sampai di rumah itu.
Semilir angin berhembus agak kencang, hingga membuat beberapa daun dari pohon beringin besar di depan rumah itu berguguran.
Krriiieeettt..
Radit membuka pintu gerbang itu perlahan, namun bunyinya sungguh memekakkan telinga.
Mungkin karena terbuat dari besi dan hampir semuanya sudah berkarat, sehingga bunyinya agak mengganggu jika dibuka.
Kami berjalan masuk ke dalam, menelusuri tiap halaman rumah itu. Rumput liar yg cukup tinggi dengan daun daun yg berserakan menambah kesan mistis rumah ini.
"Serius si Dedi di sana?" tanya Danu.
"May be," sahut Radit.
"Ya di mana lagi coba, kan?kemungkinan besar ya di sini lah," jawab Aretha dengan penuh keyakinan.
Danu mengangguk dengan raut wajah yang tidak bisa ku baca.
Yang jelas dia khawatir dengan keselamatan Dedi. Tidak hanya dia saja, aku dan yg lainnya pun begitu.
Sampai di teras rumah itu, kami berjalan dengan langkah yang perlahan, sambil mengamati keadaan sekeliling kami. Sungguh kotor dan rusak parah rumah ini.
Masih dapat jelas terlihat bekas kebakaran juga, karena banyak yg hangus pada beberapa bagian sudut rumah dan perabotan nya.
Radit maju dan membuka pintu rumah itu.
Ceklek!!
Dia menoleh pada kami dengan wajah keheranan.
Aku hanya mengangguk sekali mengisyaratkan agar dia terus masuk ke dalam rumah itu.
Dengan berbekal beberapa senter di tangan kami, kami mulai masuk ke dalam rumah itu masih dengan pelan pelan. Yah, mungkin lebih mirip pencuri yg masuk ke rumah korbannya.
Di dalam rumah ini pun keadaan sangat kacau. Berantakan, kotor dan hancur.
Ku edarkan pandanganku ke segala tempat berbekal senter di tanganku.
"Gimana nih? Kita berpencar aja apa gimana?" tanya Radit sambil menatapku.
"Eum... Kayanya ide bagus tuh," sahutku.
Kami lalu mencari ke semua tempat dengan cara berpencar.
Mereka sudah berjalan dengan tujuan masing masing. Radit dan Aretha ke lantai 2. Danu, Ari dan Dion ke ruangan lain di lantai 1 ini bersama diriku juga.
Entah kenapa aku sangat tertarik untuk mendekat ke dapur nya.
Aku berjalan ke dapur sambil terus menyenteri jalanku.
Keadaan dapur nya lebih kacau.
Ada bau busuk yg sangat menyengat hidungku. Hingga aku menutup hidung dengan lengan.
"Bau apa sih ini??" gumam ku sendiri.
Aku terus memeriksa tempat ini. Berharap ada petunjuk keberadaan Dedi.
Saat aku mengarah kan senter ke dekat kompor, aku seperti melihat ada bayangan yg sedang duduk di sana.
Ku arahkan senter itu ke bayangan yg ku maksud.
Namun, tidak ku temukan apa pun.
Aku terus mencari apakah ada petunjuk soal keberadaan Dedi lainnya.
Hawa di sekitarku berubah panas. Padahal aku sangat yakin, saat kami masuk tadi cuaca sedang dingin. Bahkan kami semua memakai jaket sebelum akan kemari.
Dugg!!
Duggg!!
Duggg!!
Aku menoleh ke sumber suara. Suara itu berasal dari sebuah meja nakas yg sudah rapuh.njuamati meja ini, mencari sumber suara yg barusan kudengar tadi. Meja ini kosong. Tidak ada apa pun di sana.
Tunggu!!
Apa ini.
Di belakang meja nakas ini seperti ada garis panjang. Karena penasaran aku menggeser meja sedikit.
Begitu terkejutnya aku saat melihat apa yg ada di baliknya.
Sebuah pintu!
'Pintu apa ini?'
Kriiieeettt.
Ternyata tidak terkunci.
Ukuran pintu ini tidak sebesar pintu pada umumnya. Hanya sekitar separuh saja.
Dan saat kubuka, ternyata ada tangga yg mengarah ke bawah.
Rupanya ini pintu bawah tanah.
Namun sangat gelap dan pengap.
"Den!!!" Radit menepuk bahunya hingga aku sedikit terkejut.
"Astagfirulloh ... Ngagetin aja ih.." gerutu ku kesal.
Dia malah terkekeh geli.
"Kak... Apa tuh?" tanya Areta terus menatap lorong gelap di hadapan kami.
"Iya ih, serem banget sih. Ruangan apa tuh? Kayak rumah di luar negri aja, ada ruang bawah tanahnya,"ucap Radit sambil ikut melongok ke ruangan itu.
Terdengar suara langkah kaki mendekat pada kami.
Ternyata Danu, Ari dan Dion.
"Heh! Ada orang di luar. Gimana nih!!" tanya Ari agak panik.
Dan memang benar ada seseorang yg masuk ke halaman rumah ini. Dari yg kulihat, dia sepertinya seorang pria.
"Eh, mending ngumpet aja deh. Perasaan gue gak enak. Serius," pinta Dion.
"Iya, setuju. Ngumpet di mana nih? "tanya Danu.
"Situ aja tuh. Muat buat kita semua," saran Ari. Dia menunjuk ruang bawah tanah tadi.
Aku berfikir sebentar. Entahlah, rasanya sungguh berat uNtuk melangkah masuk ke sana. Aku tidak tau apa yg ada di dalam sana, bagaimana kondisi nya, dan satu yg pasti, hawa di ruangan itu lebih panas dari rumah ini.
Namun Dion sudah lebih dulu berjalan masuk ke sana. Dengan bantuan senter di tangannya membuat dirinya sapat melihat Keadaan di bawah dengan jelas.
Akhirnya yg lain pun mengikuti nya masuk karena pria di luar itu sudah mulai masuk ke dalam rumah ini.
Aneh sekali bukan. Rumah ini sudah lama kosong. Siapa orang itu dan mau apa dia ke mari?
Klekk!
Pintu kami tutup setelah semua masuk.
Ruangan ini tidak terlalu besar.
"Eh... ada saklar tuh. Buat lampu kali ya," celetuk Radit
Kemudian dia menyalakan nya, dan benar saja, ruangan ini menjadi terang. Walau lampunya sedikit redup namun, itu lebih baik daripada harus gelap gelapan.
Kami makin dapat melihat jelas sekarang, dan di sini seperti gudang saja. Banyak sekali barang barang yg sepertinya memang tidak terpakai.
"Eh.. Ini apa lagi ya. Banyak banget rahasia di rumah ini deh," celetuk Danu.
Dia sedang menatap sebuah pintu lagi. Kali ini pintunya berukuran normal.
"Buka deh!!" pinta Retha.
Danu mengangguk.
Namun, terkunci.
"Ke kunci, gaes," katanya sambil menatap kami.
Kriiieeettt
Degg!!
Kami semua saling lempar pandangan dan sedikit panik.
"Ngumpet," bisik Radit lalu mengajak kami bersembunyi di balik beberapa barang di sini.
Jantungku berdegup agak cepat.
Apa mungkin pria tadi kemari?
Siapa sebenarnya dia? Dan mau apa dia ke mari.
Apa dia pemilik rumah ini ya. Karena dia tau tentang ruangan ini.
Langkah kaki pun terdengar masuk ke ruangan ini.
Kami makin menyembunyikan diri agar tidak terlihat dan jangan sampai ketauan.
Pria itu mengamati sekeliling nya.
Dia diam sebentar.
"Apa aku lupa tidak mematikan lampu, ya kemarin?" gumamnya.
Ah, sepertinya dia curiga. Semoga dia tidak menemukan kami di sini.
Dia lalu berjalan menuju pintu yg tadi ditemukan Danu.
Bunyi suara kunci pun terdengar jelas sekali.
Kriiiieeeet!!
Pintu pun terbuka.
Aku mengintip dari tempatku bersembunyi. Sebenarnya ada apa di dalam sana. Kenapa sangat rahasia sekali.
'Apa, itu?sm seperti seorang anak kecil' gumamku dalam hati.
Tiba tiba aku merasakan seperti ada yg menarik narik bajuku, dan saat aku menoleh. Jantungku hampir copot, melihat sosok anak kecil yang muncul di sampingku
Wajahnya pucat pasi. Matanya hitam bahkan tidak ada bola matanya.
Dia meraih tanganku lalu menunjuk ke ruangan itu.
Badanku mulai demam, dan entah kenapa aku diam saja tidak melakukan apa pun.
Dia terus menunjuk ke ruangan itu.
Apa maksudnya?
Apa dia ingin aku masuk ke sana?
Bahuku disentuh Aretha dan sosok anak itu hilang.
"Kakak gak papa, kan?" tanya Retha sambil berbisik.
Aku hanya mengangguk.
"Di dalem sana, Tha," kataku sambil menunjuk ruangan itu.
Aretha mengangguk.
Pranggg!!
Semua orang menoleh. Dion sepertinya tidak sengaja menjatuhkan pajangan yg ada di sampingnya.
Kami semua melotot ke arahnya karena kecerobohannya itu.
"Siapa itu!" teriak pria tadi.
Kami malah makin bersembunyi takut ketauan.
Pria itu keluar sambil terus mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Rupanya ada penyusup," ucapnya sinis. Dia tau kedatangan kami rupanya.
Kudengar langkah kakinya makin mendekati kami.
Dia terus berjalan, dan tiba tiba..
Dia menarik Dion ke dalam dekapannya sambil menempelkan pisau di leher Dion.
"Aahh.." Aretha teriak karena sedikit terkejut.
"Mau apa kalian?" tanya pria itu.
"Kami... Kami mencari teman kami pak," kata Danu.
"Teman. Kenapa nyari ke sini??" bentaknya.
"Ya kali aja dia di sini pak, "Jawab Radit cuek. Bener bener ni anak. Gila
"Kamu!! Kurang ajar!!" bentak bapak itu lagi.
"Lah, bapak yg kurang aja. Temen saya itu lho, mau diapain coba!!"ucap Radit dengan tidak menunjukan ekspresi takut sedikit pun.
"Kalau mau saya bunuh gimana? hah!! Kalian berani!!"ancamnya.
"Saya? Ya jelas berani pak. Ngapain saya takut.." Radit bersikap santai sekali menanggapi pria ini.
Radit mengangguk ke Dion, seperti sebuah kode satu sama lain, lalu Dion menginjak kaki bApakk itu. Pegangan nya akhirnya mengendur dan kesempatan itu tidak disia siakan Dion. Dia menunduk dan Radit langsung menendang kepala bapak itu keras keras.
Dengan sekali tendang, bapak itu jatuh ke belakang, telak.
Dion menjauh, dan kami pun ikut menjauh darinya.
Segera saja aku masuk ke ruangan itu.
"Ya ampun, Ded!' teriakku.
Dedi benar ada di sana. Dengan kondisi tangan kaki yg terikat dan mulut yang disumpal.
Segera saja aku menghampirinya.
"Ya ampun, Ded!! Kok elo bisa di sini sih?" tanya Danu, sambil ikut membantuku melepaskan ikatan di kaki Dedi.
Kulepaskan kain yg menyumpal mulutnya.
Nafasnya tersengal sengal.
Wajah Dedi pucat sekali. Dia melirik ke samping kanannya dengan tatapan ngeri. Aku ikut menoleh ke tempat yg dia tatap.
'Masya Allah!!'
Anak kecil itu ada di sana, sosok yang tadi aku lihat, sedang terbujur kaku.
Sosoknya pun ada di dekat pintu sambil menatap tubuhnya yg terbaring di sebuah ranjang kayu tanpa kasur.
"Mayat!" pekik Radit.
"Ya Allah..." Aretha melihat nya miris bahkan menekan kepalanya dan menatap sudut lain. Mungkin dia tidak tahan melihat hal itu.
Kudekati tubuh dari anak itu, ku pegang juga.
"Den!! Dia diawetin sama tu org gila!!"kata Dedi.
"Apa? diawetin? Gila kali ya!!" teriak Dion.
"Ih. Ngeri banget sih!" ucap Ari sambil bergidik.
"Eh, Dit!! Mana tu bapak?!!"tanyaku ke Radit.
"Lupa gue!!" sambil menepuk jidatnya sendiri lalu keluar mencari bapak itu.
"Ilang, Den!!kabur!!"teriak Radit dari luar.
Braaaakkk!!!
Terdengar pintu ditutup dengan kencang.
Aku segera keluar bersama yg lain.
Kulihat Radit sedang berusaha membuka pintu penghubung ruangan ini dengan dapur tadi.
"Ke kunci gaes!!!" teriaknya.
"Apa! waduh!!" pekik Ari ikut mencoba membuka pintu itu. Yang lain pun mendekat.
Dan fix, pintu terkunci. Lebih tepatnya dikunci dari luar.
Siapa lagi kalau bukan bapak tadi.
"Duh, gimana dong." Areta mulai panik.
Gak lucu juga kalau malam ini kami terkunci di ruangan ini, dengan mayat anak itu di sana.
Mana hape gak ada yg dibawa lagi.
Huft..
_________
(TERJEBAK)
POV ARETHA
Kami semua berkumpul di ruangan yang pengap dan kotor penuh debu ini.
Semua diam sambil sibuk dengan pikiran masing masing.
"Gak ada yang bawa hp ya?" tanya Ari sambil menatap wajah kami satu persatu.
"Enggak! Tapi yg di rumah tau kan kalau kita ke sini. Pasti mereka tau di mana harus nyari kita kalo kita gak balik balik," ucap kak Arden.
"Ya kalau mereka dateng diwaktu yg tepat, Den. Kalau keburu kita di bakar hidup hidup di sini gimana?" tanya Dion malah bikin panik.
Plakk!!
Danu memukul lengan Dion karena kesal.
"Ngomongnya itu lho. Bikin semangat turun aja! Kita harus bisa keluar dari sini hidup hidup!" kata Danu dengan penuh keyakinan.
"Setuju tuh," sahut Radit.
"Dit, tendang aja tuh pintu. u kan kuat," saran Dedi.
"Heh! Elu nggak lihat? Itu pintu dilapisi apaan? Besi, Bro! Bisa remuk kaki gue!" terang Radit.
Ya memang pintunya dilapisi besi. Ini makin membuat kami pesimis.
"Semoga Om Wayan cepet balik ya." harapan kak Arden.
Yah, aku juga berharap demikian.
Rasanya hanya Om Wayan harapan terakhir kami agar keluar dari tempat ini.
"Eh, ngomong-ngomong itu anak kasian banget sih. Pakai diawetin gitu." Entah kenapa tiba tiba Ari malah membahas hal ini.
Otomatis kami langsung menoleh ke tempat di mana mayat anak itu terbaring.
"Jadi bener ya, perkiraan kita, kak. Anak itu nggak kebakar pas kejadian itu," ucapku mengambil kesimpulan.
"Iya, Tha. Mungkin dia terjebak di sini saat kebakaran itu," kata kak Arden.
"Bukan terjebak, dia dijebak di sini. Yang pasti orang tadi yg ngelakuin ini semua," potong Radit.
"Kenapa gitu ya? Kasihan banget deh," sahutku.
"Eh, Tha. Dit. Coba deh kalian pegang tu anak. Bakal ada kejadian kayak yg udah udah gak? Kali aja ada gambaran kejadian saat itu? May be?" kata Danu berspekulasi.
Yah, semua sudah tau aku dan Radit mempunyai keunikan yg sama.
Kami dapat melihat siluet sebuah kejadiaan dengan lebih jelas jika kami bersama.
Aku dan Radit saling pandang. Dia lalu mengangguk sekali, menandakan menyetujui ide Danu barusan.
Dia berjalan mendekati anak itu, aku pun mengikutinya.
Yg lain juga melakukan hal yg sama, kecuali Ari. Dia memutuskan untuk di luar saja. Sambil berjaga jaga katanya.
Mungkin dia juga takut satu ruangan dengan sebuah mayat.
Kami berdua mendekati mayat anak kecil yg sudah terbujur kaku ini. Tidak terlihat jika dia sudah lama meninggal, karena dia benar benar diawetkan dengan sempurna.
Benar benar gila yg melakukan hal ini. Apa kira-kira tujuannya?
Kasihan anak ini, dia terus terjebak di sini. Tidak bisa ke mana mana.
"Tha ...," panggil Radit sambil menatapku lekat lekat.
Aku mengangguk pelan padanya.
Kami lalu menyentuh anak ini, tangan kanan Radit mengulur padaku. Kami berpegangan sambil menyentuh anak ini bersama sama.
Sreeethh...
Benar saja, ada sebuah siluet kejadian masa lalu.
Seorang pria berbadan besar, masuk ke rumah ini diam diam saat anak ini sedang terlelap tidur.
Dia hendak menggotong anak ini, namun anak ini malah terbangun dan terkejut dengan kedatangan pria itu.
Saat anak ini hendak teriak mulutnya langsung dibekap kuat kuat.
Dia terus berontak melawan, tapi apalah daya, dia hanya seorang anak kecil yang tidak punya kekuatan untuk bisa melawan pria itu.
"Aarghh!!!" dilepaskannya tangan pria itu dari mulut si anak.
Ternyata dia menggigit nya dengan cukup kuat, hingga tangan itu sedikit mengeluarkan darah segar.
Anak itu beringsut mundur ke pojok kamarnya sambil menangis, dia ketakutan, sangat ketakutan.
"Putu!! Kamu tidak bisa berbuat apa-apa.. Jadi terima saja apa yg akan ku lakukan. Kembali lah ke ayah!!" kata pria itu sambil berjalan mendekati Putu.
Senyumnya sungguh mengerikan, dia memiringkan kepalanya sambil menyeringai.
Tunggu!! Ayah? Apa maksudnya dia?Dia ayahnya? Ini benar benar gila!!
Putu terus menangis sambil menggeleng memohon dilepaskan.
"Jangan, Pak.. Kamu bukan ayahku. Lepaskan Putu," Pinta nya memelas.
"Kamu harus ikut denganku.. Kamu anakku!! "Bentaknya.
Aku benar benar tidak mengerti dengan apa yg terjadi.
Saat Putu hendak berlari kabur, pria itu langsung dengan mudah menangkapnya lalu membantingnya ke ranjang. Putu terus berontak sambil berteriak.
Diraihnya bantal yg paling dekat lalu ditutupnya wajah putu dengan bantal itu cukup lama.
Badan Putu yang awalnya masih terus meronta, perlahan melemas, dan akhirnya tidak lagi bergerak.
Putu meninggal.
Sadar akan kesalahan yang dia perbuat, pria itu lalu membawa Putu keluar kamar dan langsung membawa nya ke ruangan ini. ternyata dia sudah menyiapkan rencana yg matang. Karena segala bahan dan peralatan sudah tersedia di sini.
Putu diawetkan dan ditinggalkan di sini begitu saja.
Pria ini juga yg membakar rumah Putu saat itu juga.
"Haahh!! Enggak. Aku udah gak sanggup lagi buat liat," kataku dengan melepaskan tangan Radit dan menjauh dari jenazah Putu.
Aku menangis, sesak sekali dadaku mengetahui yg dialami nya. Begitu tragis.
Sosok Putu berdiri di ambang pintu dan menatapku iba.
Namun tak lama dia tersenyum getir padaku.
"Kalian liat apa? Gimana??" tanya kak Arden penasaran.
Aku diam saja tidak menjawab, dan Radit lah yg menceritakan semua yg kami liat tadi tanpa satu kalimat pun yg salah.
Ini makin membuktikan bahwa aku dan Radit memang mempunyai kemampuan yg sama, dia ternyata unik.
Kak Arden lalu memelukku karena melihatku yg syok dan sosok Putu menghilang.
"Kasian banget sih ni anak. Jahat banget ya itu orang," ucap Dion iba.
"Ck. Gimana nih, biar kita bisa keluar dari sini.. Pengen gua
Tonjok tu orang. Sumpah !!" kata Danu sambil mengatupkan rahangnya menahan amarah yg sudah memuncak.
"Gak ada jalan keluar lain apa ini?" tanya Dion.
"Iya, ventilasi kek. Atau apa gitu?" Dedi celingukan.
Kami akhirnya ikut mencari celah agar kami bisa keluar dari rumah ini.
"Heh!! Jendela, Bro...," tunjuk Ari dari luar ruangan ini.
Kami ikut keluar dan melihat ke arah yg ditunjuk Ari.
"Bener tuh. Pinter elu," kata Radit menepuk bahu Ari. Radit lalu mendekat dan mengamati jendela itu dengan kak Arden.
"Gimana?" tanya Dedi.
"..."
"Gimana nih? Bisa dibuka? Kita bisa keluar dong?" tanya Dedi semangat.
"Liat dong. Kecil gitu lubangnya. Nggak bakal muat lah," jelas kak Arden.
"Kecuali yg masuk ...," kata Radit lalu menoleh kepadaku diikuti yg lain.
Aku yg paham maksud mereka seketika menolaknya.
"What? Aku? Suruh masuk situ??" tanyaku dengan wajah bingung.
Mereka mengangguk.
"Enggak! Ogah! Pikirin cara lain deh mendingan!! Aku gak mau!"ucapku tegas.
"Kenapa sih, Tha??"tanya Danu bingung.
"Ya udah, Dek. Kalau kamu gak mau. Kita pikirin cara lain ya," kata kak Arden lembut.
"Tapi, Den... Ini jalan satu satunya. Nggak ada jln keluar lain, kecuali kita pasrah nunggu bantuan dateng yg entah kapan bakal ke sini dan belum tentu juga bisa nemuin ruangan ini.." tukas Dion.
Kembali aku berfikir. Benar juga kata Dion. Tapi aku ini paling takut sama ruangan sempit. Seakan akan aku susah bernafas dan bakal bikin dadaku sesak jika terlalu lama di sana.
Radit mendekatiku.
"Jangan maksain, Tha. Kalau kamu gak bisa, nggak usah. Nanti kalau perlu aku bobol temboknya biar kita bisa keluar," hiburnya.
Aku masih terdiam. Aku benar benar bingung harus berbuat apa.
"Gaes...," panggil Ari sambil menarik narik ujung baju Radit sambil melihat ke arah tangga.
"Apaan sih ah.. Lepas, Ri!!" kata Radit kesal.
"Itu, Ditt... Setan!!" bisik Ari pada kami.
Otomatis kami melihat ke arah yg Ari tatap.
Deg!!
Siapa lagi itu?
Sosok wanita duduk di tangga itu dengan menatap kami datar. Tak hanya itu, di pojok ruangan ini juga ada pria besar dengan ukuran tubuh yg tinggi sekali hingga melebihi langit langit. Jadi hanya terlihat perut hingga kakinya.
Sreeakk.. sreaakkk..
Tak jauh dari tangga, ada seorang nenek yg berjalan dengan mengesot di lantai.
Entah kenapa tiba tiba para makhluk astral malah bermunculan.
"Duh, kok jadi banyak setan gini sih??" tanya adanu.
"Kak.. Biar Retha masuk ke situ. Nanti Retha cari bantuan ya,"kataku yakin.
Aku harus melupakan sebentar rasa takutku dan harus kulakukan ide Radit tadi.
"Tha.. Kamu yakin??" tanya Radit sambil menahan tanganku, dia terus menatapku dalam.
Aku mengangguk yakin.
Akhirnya aku pun masuk ke lubang ventilasi itu, dengan bantuan kak Arden dan Radit.
Lubang ventilasi ini kecil sekali. Muat untukku, hanya saja ruang gerakku sangat terbatas.
Aku mulai merangkak ke dalam lorong ini, terus merangkak dengan menyeret tubuhku. sesekali aku berhenti untuk mengambil nafas, agak ngeri juga aku di dalam sini, berbekal senter di tanganku, terus kususuri hingga akhirnya aku melihat sebuah pintu kecil.
'Akhirnya," gumamku.
Kudorong kuat kuat pintu ini agar dapat terbuka dan aku bisa segera terbebas dari lorong menakutkan ini.
Braakkk!!
Kutendang kuat kuat pintu itu, dan berhasil terbuka sempurna.
Gelap!!
Yah, ini sudah larut malam.
Perlahan aku keluar dari lorong ini dan saat aku diluar, ternyata aku berada di halaman belakang rumah ini seperti nya karena ada gudang di ujung dan banyak pepohonan juga.
Kuatur nafasku yg tidak teratur karena ketegangan yg kurasakan saat ada di dalam sana.
Aku berjalan mengendap endap mencari jalan keluar. Ku edarkan pandangan ku ke segala arah, waspada terhadap pria tadi. Siapa tau dia ada disekitar sini.
Saat aku berjalan di samping dapur, aku melihat nya ada di sana, pria itu..
dia sedang mengasah golok yg cukup besar.
'Ya Allah... mau ngapain dia??!!'
Aku beringsut mundur dan bersembunyi agar tidak ketauan.
Nyesss!!
Kutengok ke sampingku,
Deggg!
Kututup mulutku yg hampir teriak karena kaget.
Sosok anak ini ada di samping ku dia terus menatapku tanpa ekspresi.
Aku bingung harus berbuat apa.
Bagai memakan buah simalakama.
Pranggg!!!
Tanpa sengaja aku menyenggol botol di sampingku.
Mati aku!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=