
...hai pembaca setia saya. maaf, masih belum update untuk hari ini. Jadi saya selingi dengan cuplikan part di eps season lalu. maaf kalau ada yang tidak suka, atau bahkan memaki. saya punya alasan tersendiri melakukan ini. tapi saya usahakan besok saya update. Dan itu akan menjadi part terakhir di cerita ini. Setelah ini, saya akan stop menulis di mana pun. entah sampai kapan. mungkin untuk waktu yang sangat lama sekali. Terima kasih untuk apresiasi kalian selama ini. saya sangat terharu dan bahagia karena banyak yang mengikuti saya sejak pertama kali saya menulis, baik di *******, ataupun Kaskus. kalian rela mendownload banyak aplikasi demi bisa membaca tulisan saya. Terima kasih banyak. Maaf kalau selama ini saya banyak salah ke kalian. I love you, All....
_______
POV NISA (CERITA WE ARE FAMILY INDIGO)
"Nda ... Jalan - jalan, yuk," ajak indra saat kami sedang nonton TV berdua di ruang tengah.
"Ke mana, Ayah?" tanyaku yang masih bergelayut manja di lengannya.
"Hm ... Udah ah, yang penting kita jalan dulu. Soal tujuan sambil dipikirkan di jalan aja nanti, yuk," paksanya lalu menarik tanganku ke kamar untuk ganti baju.
Yah, beginilah kegiatan kami jika anak - anak sedang tidak di rumah.
Indra sering mengajakku pergi keluar rumah. Entah hanya jalan jalan ke mall, makan di cafe atau nonton bioskop. Sebuah kebiasaan yang dulu sering kami lakukan saat masih berpacaran dan saat masih pengantin baru. Semenjak kami memiliki anak, kegiatan tersebut sudah jarang kami lakukan. Tetapi setelah anak-anak beranjak remaja dan memiliki segudang aktifitas, kami mulai sering jalan berdua lagi. Kali ini anak anak sedang ada di Bali untuk mengisi liburan mereka.
Yah, Bali... Tempat yang paling tidak ingin aku datangi.
Walau kejadian ini sudah cukup lama, namun aku sulit untuk melupakannya.
Melihat Indra pertama kalinya terluka karena berusaha menolongku, dan kejadian itu membuatku tidak ingin menginjakkan kakiku lagi di sana.
Semoga anak-anak baik-baik saja di sana. Aku lebih tenang karena ada Wayan. Aku yakin, Wayan bisa menjaga mereka selama di Bali. Kemampuannya cukup hebat, bahkan mungkin hampir setara dengan Kak Yusuf.
Indra membuka lemari pakaian lalu memilihkan baju untukku.
Dia memang sering melakukan hal ini. Suka mengatur? Iya, memang. Tetapi aku suka cara dia mengatur hidupku.
"Mau pakai yang ini atau ini, Nda?" tanyanya sambil menunjukan 2 dress kaftan warna putih dan pink padaku.
"Mm ... Pink aja deh," ucapku sambil menunjuk dress di tangan kanannya.
"Udah kutebak, kamu pasti pilih ini. Warna kesukaan kamu." Senyum mengembang di wajahnya lalu dia memberikan dress itu padaku.
Aku segera ganti baju dan berdandan dengan make up minimalis.
Indra memakai setelan kemeja warna abu abu dan jas yang sepadan dengan kemejanya lalu celana kain hitam.
Aku tidak aneh melihat penampilannya yang seperti itu. Karena aku memang sering melihat nya memakai setelan itu saat kami ada acara di luar. Entah makan malam bersama sahabat-sahabat kami atau keluarga besar kami.
"Siap, Nda?" tanyanya.
Kupatutkan diriku di cermin untuk memeriksa apakah ada hal yg kurang pada riasan ku atau tidak
"Udah cantik kok," ucapnya sambil tersenyum di ujung pintu.
Aku hanya meliriknya sekilas lalu menaikan sudut bibirku.
"Yuk." Segera bergegas menggandeng tangannya keluar rumah menuju mobil yang sudah terparkir rapi di halaman.
Seperti biasa Indra membukakan pintu mobil untukku.
Dia tidak pernah berubah sejak pertama kali kami menikah hingga sekarang. Bahkan sebelum kami berpacaran juga dia selalu bersikap manis padaku.
Indra mengemudi dengan pelan menembus jalanan yang ramai karena ini weekend, dan cuaca juga sedang bagus untuk jalan jalan keluar.
Semoga malam ini tidak hujan.
Sekitar 30 menit kemudian Indra memarkirkan mobilnya di restoran kami.
"Lho? Kita ke restoran?" tanyaku heran.
Karena kupikir dia akan membawaku ke tempat lain.
"Iya, tenang aja, Bu. Saya bayar kok tagihannya,"guraunya.
Aku tertawa lalu mencubitnya karena selalu saja iseng.
Segera saja kami keluar dari mobil lalu masuk dengan bergandengan tangan ke dalam
Saat sampai di dalam, Fitri, salah satu karyawan ku menghampiri kami.
"Selamat malam Pak, Bu. Mari saya antar ke meja nya," ucapnya ramah.
"Makasih ya, Fit."
Kami pun mengikutinya hingga ke bagian belakang resto.
Resto ku ini memang bagian belakangnya bertema kan outdoor dengan taman bunga dan kolam kolam kecil yg sudah didesign dengan cukup baik dan mampu memberikan rasa nyaman karena pemandangan ini tentunya.
"Resto gimana, Fit?" tanyaku saat kami berjalan bersama.
"Semua aman terkendali kok, Bu," jawabnya.
"Pesanan saya udah siap semua kan, Fit?" tanya Indra.
"Sudah kok, Pak."
"Pesanan? Kamu udah pesan duluan, Yah?" tanyaku heran.
Dia hanya senyum padaku tak menjawab sepatah katapun.
Sampai di bagian belakang resto, aku melihat banyak lilin di sepanjang jalan dan membentuk lambang hati di tengah tengah nya.
Tidak hanya itu saja, di tengah lambang hati yang besar itu, sudah ada meja dan 2 kursi dengan hiasan lilin dan lampion lampion di sekitarnya.
Aku menoleh ke Indra.
Dia hanya tersenyum lalu menggandengku ke sana.
Dia lantas menarik kursi untukku.
Aku tersenyum senang, akhir akhir ini dia memang agak sibuk. Bahkan aku bertemu dengan nya itu hanya saat aku membuka mata dan menutup mata saja. Setelah anak-anak pergi ke Bali, suasana rumah makin sunyi. Indra juga sibuk kerja. Alhasil aku sendirian di rumah
"Gimana? Suka nggak?" tanyanya sambil menatap ke sekeliling kami.
"Suka. Suka banget. Kamu selalu pinter kasih surprise," pujiku.
"Maaf ya, sayang, akhir akhir ini aku sibuk banget. Jarang ada waktu buat kamu. Jadi kamu ke mana mana sendiri," jelasnya.
"Iya, nggak apa-apa. Aku ngerti kok. Kerjaan kamu lagi banyak banget, kan, akhir akhir ini."
"Makasih ya, sayang. Kalau kamu kesepian, kamu nginep aja di rumah Papah, selagi anak anak belum pulang. Kayaknya besok aku bakal lembur deh," katanya lagi.
"Iya, gampang ayah."
Kami makan malam di resto dengan cahaya bulan dan lampion serta lilin yang banyak. Diiringi alunan musik romantis juga. Rupanya umur tidak menyurutkan sisi romantis Indra. Mungkin inilah yang membuat pernikahan kami awet sampai sekarang.
\=\=\=\=\=
Setelah makan malam selesai. Indra kembali mengajakku entah ke mana.
Karena dia tidak memberitahukan padaku tujuan kami selanjutnya.
Ternyata dia mengajakku ke bukit bintang.
"Kita ke sini?" tanyaku saat Indra memberhentikan mobilnya di tempat parkir dengan tulisan nama tersebut.
"Iya, gara gara Aretha ini, Nda. Dia cerita main ke sini sama Radit. Ayah jadi ingat kalo kita lama banget nggak ke sini, kan?" tanyanya dengan senyum genit
Benar juga, kami sudah lama tidak ke mari. Indra segera menggandeng tanganku. Kami berjalan masuk. Walau sudah malam, tapi suasana di tempat ini justru ramai saat malam hari.
Sampai di dalam kami langsung mencari tempat untuk duduk.
Cuaca cukup cerah malam ini, sehingga bintang bintang pun jelas sekali terlihat.
Indra melepas jas nya dan memakaikan padaku.
Aku bersandar pada bahunya sementara tangan nya ada di belakangku, memelukku dengan penuh cinta.
Kami terdiam beberapa saat sambil terus menatap ratusan bintang di langit, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kadang aku sering berfikir, seseorang yang tidak ada hubungan darah dengan ku, tiba-tiba sekarang berjuang untuk ku. Mencari nafkah, dan selalu berusaha membahagiakan ku.
Yah... dialah suamiku.
Pria yang saat ini tengah ada di sampingku. Yang selalu ada untukku, dan selalu berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anak kami.
Cinta kami adalah cinta yang terbaik, karena dia membuat imanku bangkit, dia terus membimbingku lebih dekat ke Allah. Dia selalu membantuku selama ini, dia selalu mengajariku untuk melawan rasa takutku sendiri.
karena alasan itulah aku ingin bertemu dengannya lagi di Jannah!
Tercium wangi bunga yang cukup kuat di sekitar kami. Semilir angin pun makin kencang kurasakan, membuatku makin merapatkan tubuhku ke Indra. Dia pun makin memelukku erat.
Bulu kudukku meremang. Aku membetulkan posisi dudukku dan menatap sekitar.
"Kenapa sayang?" tanya Indra heran.
Ku lepaskan diriku agak menjauh dari Indra agar dapat melihat siapa yg menampakan diri di sini.
Di hadapan kami, ada sepasang muda mudi yg sedang duduk berdua namun di samping pemuda itu, ada sosok wanita yg memandangnya sedih.
Hmm, mungkin cinta segitiga?
Entahlah.
Kembali ku peluk Indra, dan sosok itu hilang.
"Eh, Nda. Kita camping yuk," ajaknya tiba-tiba.
"Apa? sekarang? Nggak salah, Yah?" tanyaku kaget.
"Iya, ke Trenggulasih aja. Kan ada penyewaan tenda. Kayaknya asik lihat sunrise di sana. Gimana?" tanyanya dengan antusias sekali.
Aku diam sejenak dan melihat pakaianku.
"Jangan khawatir. Di mobil kan ada bed cover yang kemarin baru kamu beli. Belum dibuka tuh. Bantal juga ada," jelasnya.
Aku memang agak sulit tidur. Tempat tidur harus nyaman dengan bantal dan selimut. Apalagi di sini akan sangat dingin jika malam hari. Maklum lah, kami ada di kaki gunung.
"Ya udah deh kalo gitu.yuk." aku pun setuju dengan idenya.
Ide yang gila, tanpa rencana dan persiapan matang, kami akan camping.
Kami lalu pergi dari bukit bintang lalu segera ke bukit Trenggulasih untuk melancarkan rencana dadakan Indra.
\=\=\=\=\=\=
Sampai di sana, Indra menyewa tenda.
Lalu dia memasang nya segera.
Segala bantal dan bedcover pun sudah kami angkut dari mobil. Setelah tenda berdiri, dia mempersiapkan tempat agar aku nyaman saat tidur nanti.
Jam menunjukan pukul 23.45
Kami masih duduk di depan tenda sambil menikmati secangkir kopi panas berdua.
"Nda... Menurut kamu gimana Aretha sama Radit?" tanya Indra sambil menyecap kopinya. Aku tau maksud dari pertanyaan itu. Perbedaan di antara mereka cukup besar. Keluarga besar kamu juga pasti tidak akan 100% setuju jika Aretha sampai menikah dengan Radit dengan keadaannya yang demikian. Bukan karena kami rasis atau semacamnya. Tapi ini adalah prinsip. Karena agama itu nomor satu.
Kutarik nafas dalam.
"Hm.. Jalani dulu aja ayah. Allah tau kok yg terbaik untuk hambanya. Lagian mereka masih muda, jalan nya masih panjang. Ayah sendiri gimana?penilaian ayah tentang Radit?" tanyaku balik.
"Radit ya. Sejauh ini ayah lihat dia laki laki yang baik dan bertanggung jawab. ayah suka sama dia. Ya,walau ayah masih ragu karena ... yah bunda tau sendiri kan, dia berbeda, dan ayah yakin Kak Yusuf yg paling menentang hubungan mereka."
Yah, kak Yusuf sangat menjunjung tinggi norma agama.
Aku juga sependapat dengan Indra.
"Huft.. Ya udah lah, biarin aja dulu. Jodoh ditangan Allah kan. Pasti ada jalan nya," sahutku.
"Iya. Terus Alya gimana, Nda? Kayanya dia cocok sama Arden ya. Anaknya lemah lembut banget, ramah dan sopan," kata Indra sambil senyum senyum sendiri.
"Iya sih, bunda juga setuju."
kupeluk Indra erat.
Kami menginap di sini.
Agar dapat melihat sunrise yg jarang kami temui jika di rumah karena tertutup gedung gedung tinggi.
Menikahlah dengan pria yang takut akan Allah, maka dia akan memperlakukanmu dengan baik karena rasa takutnya terhadap Allah.
___________
KANTOR INDRA
POV NISA
Sunrise pagi ini kami nikmati berdua. Dengan secangkir kopi untuk Indra dan susu
Saat perjalanan pulang tadi, kami sudah menyempatkan sarapan dulu di pinggir jalan yg banyak sekali menyediakan menu sarapan. Ada lontong opor, bubur ayam, nasi uduk, nasi kuning dan masih banyak lagi. Terutama jika memasuki daerah GOR. Pilihan makanan lebih banyak macam dan jenisnya. Aku memilih kedai nasi uduk, yang biasa menjadi langganan kami sejak masih pacaran dulu. Bahkan penjualnya sudah hapal wajah kami berdua. Beliau termasuk saksi hidup hubungan ku dengan Indra sejak pacaran sampai kami menikah sekarang.
"Mba Nisa nggak berubah, ya?" celetuk ibu pemilik warung dengan pertanyaan yang membuatku heran.
"Berubah dong, Bu. Kan makin bertambah umur, makin tua. Sebentar lagi juga rambutnya udah ubanan," selaku tidak mau terlalu mudah terbang karena kalimat manis Bu Parmi.
"Yang pasti, tetap cantik. Iya, kan, Mas Indra? Pantas saja, Mas Indra nempel terus dari dulu. Pasti anak kalian cantik dan ganteng, mirip ayah ibunya."
"Bu Parmi bisa aja. Bikin saya jadi pengen nambah nasi uduk lagi nih," ujar Indra bergurau. Aku hanya menanggapi dengan senyuman obrolan pagi ini, walau rasanya hatiku terasa tidak nyaman. Ada apa ini? Semoga bukan hal buruk yang akan terjadi. Lindungi juga anak-anakku di sana. Semoga firasat ini tidak berarti apa apa.
_________
Sepulang dari kencan romantis kami, aku dan Indra langsung pulang ke rumah. Karena pagi ini dia akan pergi bekerja.
Seperti biasa aku menyiapkan pakaian dinasnya, kuletakkan di ranjang sambil menunggu dia mandi.
Saat aku membereskan baju baju di lemari, Indra yg baru selesai mandi langsung memelukku dari belakang.
"Kamu nanti nginep tempat papah aja gimana? Aku kepikiran kalo kamu di rumah sendirian," ucapnya.
"Mm... Kamu pulang jam berapa emangnya?" tanyaku.
"Belum tau, sayang. Takutnya aku nggak pulang. Makanya buat antisipasi, kamu nginep tempat papah dulu, ya. Biar aku kerjanya juga tenang," pintanya sambil berbisik di telingaku.
"Iya deh." aku pun akhirnya pasrah saja atas permintaan nya.
Lagi pula aku jarang menginap di rumah papah ku.
Selesai berdandan, kami lalu naik mobil dan Indra mengantarku dulu ke rumah Papah yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah kami.
"Kamu hati hati ya, Nda, di rumah. Aku berangkat dulu. Salam buat papah sama semuanya." lalu dia mengecup keningku sebelum aku turun dari mobil.
Tiiinnn!
Kulambaikan tanganku ke Indra yang perlahan pergi meninggalkan halaman rumah Papah.
"Assalamualaikum," sapaku saat masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan dari dalam. Sepertinya itu kak Shinta.
"Kak..." Saat aku makin masuk ke dalam, kak Shinta sedang memasak di dapur sendirian.
"Eh... Nisa ... Sama siapa?" tanya kak Shinta lalu kami berpelukan singkat. Sekali pun dekat, aku tidak setiap hari datang ke sini.
"Dianter Indra tadi, sekalian dia berangkat kerja, Kak. Eh kok sepi. Pada ke mana?" tanyaku sambil celingukan
"Ya pada kerja semua lah, Nis. Kan biasa kakak jaga rumah. Hehehe.."
"Sama dong, Kak." Aku ikut tertawa seperti kak Shinta. Lalu aku ikut membantu kak Shinta memasak.
Hingga pukul 11 siang kami selesai memasak lalu langsung makan siang bersama.
"Eh kak.. Aku mau bungkus makan siang buat Indra, ya. Mau aku anterin ke kantornya, " kataku saat kami makan bersama.
"Iya, bawa aja. Nggak papa. Tapi, emangnya Indra di kantor? Nggak di luar?" tanya kak Shinta.
"Kayaknya sih di kantor, kak. Nanti ku SMS dulu deh."
Kak Shinta mengangguk.
Dan segera saja ku masukan makanan tadi ke rantang kecil untuk Indra.
"Kak, aku pinjem mobil ya," pamitku ke Kak Shinta yang sedang di kamar.
"Iya pakai aja, Nis. Hati hati ya," teriak kak Shinta dari dalam kamar.
"Iya, assalamualaikum," pamitku sambil agak teriak.
"Waalikumsalam."
Aku segera menyalakan mobil lalu melesat keluar halaman rumah papah.
Hanya butuh sekitar 30 menit aku sampai di kantor Indra.
Kuparkirkan mobilku di tempat yang agak lenggang lalu segera turun dengan menenteng rantang makanan yang sudah kusiapkan tadi.
Saat berjalan ke dalam kantornya beberapa kali aku bertemu dengan kawan Indra yg sering kulihat ada di sini.
Mereka pun menyapaku dengan ramah.
"Eh, Nis? Nganter makan?" tanya Herman saat dia akan berjalan keluar sambil menatap rantang yang ku bawa.
"Iya, Nan, Indra di dalem, kan?" tanyaku.
"Iya di dalem. Masuk aja," suruhnya.
"Iya, aku masuk ya."
"Iya, Nis. Santai aja kali. Kayak sama sapa aja kamu nih. Hehe," katanya cengengesan.
Aku pun berjalan masuk ke kantornya dan segera ke ruangan nya.
"Bu Indra... Maaf, bapak sedang ada tamu di ruangan nya," kata salah 1 kawan Indra.
"Oh gitu. Ya udah, aku nunggu di sini aja," kataku lalu duduk di deretan kursi panjang dekat ruangan Indra.
Dari luar memang dapat kulihat ke dalam ruangan nya.
Indra sedang bersama seorang pria yg sudah agak berumur.
Namun yang membuatku tidak bisa berpaling adalah sosok yg dibawa oleh orang itu.
Seorang pria besar dan hitam dengan mata merah menyala. Gigi serta kukunya panjang.
Kulihat Indra seperti berdebat dengan nya.
"Eh... Gusti!! Sini!!" ku panggil teman Indra yg sedang sibuk dengan beberapa dokumen di mejanya.
Dia pun mendekat.
"Kenapa, bu?"
"Siapa itu?" tanyaku sambil menunjuk pria yg ada di dalam dengan Indra.
"Oh itu keluarga tersangka pembunuhan yg baru kemarin ketangkep, Bu. Kayanya sih itu bapaknya mau minta keringanan biar anaknya gak dihukum berat," jelas Gusti.
"Saya masuk boleh, ya?" tanyaku.
"Oh silakan saja, bu. Lagipula pasti pak Indra sedang kesal karena orang itu. Orangnya sombong banget, bu," katanya sambil bisik bisik.
Aku menoleh padanya dan hanya menaikkan sebelah bibirku.
Yah, aku harus masuk!
Segera saja aku menuju ruangan Indra.
Tok tok tok
"Ya masuk." suara Indra dari dalam seperti terdengar berat.
Kubuka pintu itu lalu tersenyum padanya.
"Lho, Nda. Kok ke sini?" tanyanya heran. Lalu dia mendekat padaku.
"Iya, nganter makan siang." kuletakan rantang itu di meja tempat biasa kami makan bersama jika aku sedang kemari.
Kulirik makhluk itu dan tersenyum sinis.
Dia berusaha mempengaruhi Indra agar anaknya bisa terlepas dari jerat hukum. Tapi, dia tdk tau kalau Indra ini unik.
Dia ini seperti kebal akan hal hal seperti itu.
"Eh... eum.." Indra sepertinya bingung harus jawab apa karena aku tau kalau Indra ingin agar orang ini segera pergi dari sini.
"Bapak mau kopi?" tawarku.
Bapak itu agak kaget dengan pertanyaanku.
"Oh iya mba. Boleh. Mm... Ini istri pak Indra?" tanyanya tergagap.
"Iya pak, kenalkan saya Nisa. Istri Indra. " kuulurkan tanganku padanya.
Dia menjabat tanganku dengan gembira karena mungkin berfikir bahwa aku ini mudah dia pengaruhi.
Saat kami bersalaman, tanganku terasa panas namun terus saja kujabat. Dia sedikit kesakitan dan berusaha melepaskan tanganku.
Indra menyenggolku karena melihat bapak itu kesakitan.
"Eh maaf pak. saya buatkan kopi dulu ya." segera kulepaskan tanganku lalu pergi ke pantry.
Di pantry ada pak Abdul,"lho bu Indra? Kapan datang?" tanyanya heran. Sepertinya beliau sedang istirahat dari pekerjaan nya sebagai OB.
"Baru kok, Pak. eh, saya mau bikin kopi, ya." lalu ku ambil dua cangkir dari lemari.
"Biar saya saja bu.." Pak Abdul hendak mengambil alih pekerjaanku.
"Gak usah pak. Bapak istirahat aja. Lagian cuma kopi, saya bisa kok. pak Indra itu kalau takaran nya gak sesuai suka gak diminum kopinya," jelasku.
"Oh iya ya bu. Pantas kalo di kantor jarang ngopi." pak Abdul kembali duduk di tempat tadi.
"Iya, ngopi nya di rumah pak. hehe"
Dari aku meracik kopi aku sudah bacakan beberapa doa diselingi dengan sholawatan.
Hingga gerakan mengaduk sendok pun sudah kuperhitungkan berapa kali nya dan arahnya. Aku mempelajari ini dari kak Yusuf pastinya.
Kalau untuk Indra tidak akan berpengaruh banyak justru akan membuat kopi buatanku makin enak. Namun berbeda dengan bapak itu.
Kita lihat saja, apa yg akan terjadi nanti.
Kopi selesai kubuat lalu ku bawa ke ruangan Indra.
"Eh.. Bos... Ngapain pakai bikin kopi segala??" tanya Herman saat kami berpapasan di depan ruangan Indra.
"Pak bos pengen ngopi, mas bro. Kamu mau??" tanyaku
"Wah, suatu kehormatan kalo bener dibikinin, Nis," Katanya penuh harap.
"bikin sendiri!" kutinggalkan dia sambil cekikikan.
"Kebiasaan. Iseng! Elu gak inget umur bu? anak udah gede kelakuan kaya ABG aja. "Herman malah mengikutiku masuk ke ruangan indra.
"Berisik ah," jawabku santai.
Herman menemui Indra dan memberikan beberap lembar kertas yg aku tidak tau apa.
Kuletakan cangkir itu di meja
"Diminum dulu, pak. " aku berusaha ramah.
"Terima kasih, bu." dia lalu mengambil cangkir itu dan menyecapnya sedikit demi sedikit.
Kulirik terus ke sosok yg ada di belakangnya dia menatapku tajam seperti elang yang melihat mangsanya.
Hingga beberapa menit kemudian. Bapak itu agak aneh. Dia seperti memegangi perutnya dan agak merintih kesakitan. Makin lama dia makin kesakitan.
"Ugh!! Kamu apakan saya!! Kamu meracuni saya?!" tuduhnya.
"Enggak. saya tidak sepicik anda pak.. Kudekati dia dan kubacakan beberapa ayat alquran sambil menunjuk kepala lalu turun hingga perutnya dengan telunjukku.
Dia makin mengerang, berteriak teriak.
Indra dan Herman kemudian mendekat.
"Loe apain, Nis??gila lu! Untung gue nggak jadi minum kopi bikinan elu," kata Herman.
"Singkirkan niatan jelek anda!! Baru saya lepaskan!!"kataku lantang.
"apa maksud kamu?!"tanyanya.
"Kamu masih mengelak? saya bakar jin milikmu! mau??!!" tanyaku dengan menaikan nada bicaraku.
"Hah? jin? hiii." Herman menjauh dengan bergidik ngeri.
"Kamu gila!! Bicara apa kamu!! Jin apa!!" Dia terus saja mengelak.
Manusia kalo kelamaan berteman sama jin jahat ya bakal gini. Keras kepala. Semaunya sendiri.
"Oke.. Saya sudah kasih kesempatan!! Jangan salah kan saya jika saya berbuat lebih jauh!!"
Kudekati jin itu dan kubacakan ayat ayat untuknya.
Dia juga sama seperti tuannya. Tidak mau pergi dan tetap ngotot terus ada di sini.
Mereka ini sudah sangat sering melakukan hal hal buruk bersama. Sehingga mereka seperti tidak bisa dipisahkan.
Dan akhirnya, kubacakan ayat pemusnah karena dia tetap pada pendirian nya.
Saat ayat terakhir ku baca, bapak itu berteriak keras dan menggeram dengan suara berat.
Beberapa orang ikut melihat dari jendela, bahkan ada yg nekat membuka pintu agar dapat melihat dari jarak dekat.
Bapak itu bergaya seperti ular dan mendesis lalu menatapku tajam. Ku tekan ubun ubun nya lalu kutarik sesuatu yg sedari tadi terus mempengaruhi pikirannya.
"Allahuuuakbaaarrr!!" teriakku lalu berhasil ku tarik sesosok jin lagi.
Sosok yg tadi di luar sudah hilang dan tercium bau gosong, dan yg barusan ku pegang langsung ku kirimkan ke kak Yusuf. Aku paling malas bernegosiasi dengan makhluk astral buang waktu menurutku. Berbeda dengan kak Yusuf.
Tak lama bapak itu jatuh ke lantai dan pingsan.
"Buset. Heh!! Bantuin," teriak Herman ke beberapa temannya yg ada di dekat pintu.
Mereka mendekat lalu menggotong bapak itu ke ruang kesehatan.
Aku ngos ngosan.
Indra tersenyum lalu mendekatiku dan segera memelukku.
"Kamu itu sering banget ngelakuin hal ekstrem kaya gini." pelukannya makin erat saja.
"Yah, itu banyak orang," kataku lirih.
Indra menoleh."lihat apa?! kerja lagi!!" perintahnya.
"Siap, Ndan!!" kata mereka kompak.
Lalu Indra memelukku lagi.
\=\=\=\=\=\=\=
Syetan tidak akan mencuri rumah, mobil, pangkat, jabatan dan harta kita.
Tapi syetan terus mengintai kita untuk mencuri keimanan yg kita miliki.
Karena syetan paham betul, yg paling berharga dalam diri manusia adalah... Iman.
_________
POV ARETHA (PASAR)
Sudah sekitar 4 hari kami di sini.
Bali, pulau dewata. Dengan sejuta keindahan yang memanjakan mata.
Sejak kejadian leak waktu itu, sudah tidak ada lagi hal hal aneh yg kami alami selama kami di sini.
Aku sedang menikmati secangkir teh di halaman depan rumah om Wayan.
Seperti biasa, semua orang sibuk sendiri sendiri. Rumah om Wayan yg cukup luas membuat mereka betah dan mengeksplor semua tempat. Kebanyakan mereka foto foto, ada yg sibuk masak di dapur, mba Alya pastinya dan Kiki. Ikut masak bersama mba Alya.
Aneh? Iya aneh memang.
Entah kesambet setan mana dia, mau masuk dapur dan berkutat dengan keluarga bawang dan teman temannya.
Yang kudengar, Kiki ingin bisa memasak makanan kesukaan Doni.
Cinta memang aneh. Dia mampu membuat seseorang rela melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya.
"Tha! Ikut yuk," ajak Radit yg sudah berdiri di dekatku.
"Ke mana?''
"Pasar."
"Hah? males. Enggak ah," tolakku malas-malasan.
"Yah, Aretha. Masa cewek males ke pasar sih. Besok kalau kita nikah, kamu belanjanya di mana?" tanya Radit mulai ngelantur.
Danu dan Doni yang ada di sampingnya terkekeh geli mendengar Radit merajuk manja.
Ini anak mikir nya udah sampai nikah segala. Astaga... *tepok jidat.
"Gampang, kan ada Mang sayur lewat. Jadi gak perlu ke pasar," jawabku santai.
Tempat kedua yg paling tidak ingin ku datangi adalah pasar!
Nomer 1 sudah jelas, rumah sakit.
Terakhir ke rumah sakit saat menjenguk Danu, dan semoga aku tidak menginjakan kaki lagi di tempat seperti itu.
Pasar & rumah sakit itu hampir sama bagiku.
"Ikut lah, Tha. Masa cowok doang yg ke pasar," pinta Danu.
"Iya. Lagian ngapain sih? Ngelamun aja. Tenang, Tha, Radit ikut juga kok," ledek Doni.
"Ya udah yuk. Tapi jangan kelamaan ya." akhirnya aku pasrah.
Kami berencana membuat acara bakar bakaran seperti biasa nanti malam.
Dengan berbekal informasi dari om Wayan, sampai juga kami di pasar.
Baru masuk saja aku sudah langsung pusing. Ku tahan sebisa mungkin.
Beberapa makhluk astral sudah ku jumpai dari awal aku masuk.
Mereka terus menatap tajam padaku. aku terus membaca doa doa dalam hati.
Sementara Danu dan Doni memilih bahan makanan aku hanya bisa diam dan terus mepet ke Radit.
"Tha, kamu gak papa?" anya Radit sedikit cemas.
Aku hanya menggeleng sambil terus menekan kepalaku.
"Kamu sakit?" tanya nya lagi.
"Enggak kok. Nggak papa. Masih lama ga, ya?" tanya ku sambil melihat Danu dan Doni yg sedang bernegosiasi harga daging dengan penjualnya.
*emak emak mode on.
"Eh kak Radit," sapa seorang wanita yg sedang menenteng beberapa kantung kresek di tangannya.
"Lho, Niluh? Belanja juga?" tanya Radit balik.
Ini kok mereka akrab banget. Siapa sih dia?
Aku hanya melihat Radit dan wanita itu ngobrol akrab. Tatapan sinis terus kulayangkan, walau pada akhirnya mereka berdua tidak menyadarinya. Sial
"Tha!!" Danu menepuk pundakku.
Aku tersentak kaget.
"Ya Allah. Danu ih. Ngagetin aja!!" kataku kesal.
"Lah kamu, ngelamun aja. Dipanggilin dari tadi. Ini kita mau beli berapa, Tha?" tanya Danu sambil menunjukan lobster besar padaku.
"Terserah," jawabku ketus.
"Ya ampun, Aretha. Kira- kira berapa dong.. Kan kamu yg mau bayar," katanya sambil ketawa.
Aku hanya meliriknya tajam.
"Hitung per- orang aja deh. Satu orang satu," saranku.
"Oh gitu. Iya deh." Danu kembali ke pedagang itu dan membeli beberapa lobster.
Doni mendekat.
"Tha... Siapa tuh. Akrab banget sama Radit?" tanya Doni bisik bisik.
"Mana ku tau," Jawabku ketus.
"Ih, cemburu ya," ledek Doni.
"Enggak. Lama banget sih. Cepet yuk balik." aku sudah tidak sabar. Entah karena keadaan pasar yang makin membuat kepalaku berat atau keadaan hati yang makin sesak.
"Halah, cemburu juga. Ngaku aja, Tha. Hayo... Aku bilangin Radit nih ya. Dit! Rad ...! pfftt." langsung ku bekap mulutnya dengan tanganku.
"Teriak sekali lagi aku tonjok muka mu, Don!!" ancam ku serius.
Dia lalu menaikan dua jarinya ke atas.✌ Ku lepas perlahan tanganku.
Dia malah tertawa kencang.
"Elu kalo marah nyeremin plus lucu, Tha. Sumpah. Hahaha."
Radit lalu mendekati kami setelah berpamitan dengan wanita itu.
"Pada kenapa sih? Berantem mulu kayak anak kecil?" Tanya Radit sambil menatap aku dan Doni bergantian.
"Ini, Dit. Bebeb elu. Tadi dia ...."
Buugg!!
Kuinjak kaki Doni agar diam.
Dia mengerang kesakitan sambil mengumpat macam macam.
"Untung aku lagi nggak pakai high heels, Don. Remuk nanti kaki elu. Rasain!!" kataku kesal.
"Sayang, udah dong. Kasihan Doni. Dia ngapain kamu sih? Nanti aku jewer dia." Radit menarik tanganku menjauh dari Doni.
"Cieee... Sayang," ledek Doni seolah tidak kapok.
Aku mengepalkan tangan ku ke padanya.
Dia lari lalu bersembunyi di belakang Danu yang sibuk dengan belanjaannya.
"Ya ampun, nggak di rumah nggak di sini, berantem mulu. Heran deh!!" celetuk Danu.
"Elu gak tau sih, Dan. Aretha bete kenapa." Doni mulai lagi nih.
Bener bener pengen ngajakin aku berantem kali ya nih anak satu.
Ku tunjuk dia dengan jari telunjukku lalu menghampirinya. Seolah tau apa yang akan kulakukan, dia langsung lari. Otomatis aku mengejarnya.
"Tha! Jangan lari lari, Tha!!!" teriak Radit.
Namun terus saja ku kejar dia yg berlari keluar pasar.
Saat hampir dekat aku langsung naik ke punggungnya dan mengapit lehernya dengan lenganku.
"Ampun, Tha. Ampun. Sumpah gue gak berani ngelawan elu, Tha. Bisa dibunuh Radit sama Arden nanti.
Damai. Damai," Katanya terus menerus tak berhenti.
"Astagfirullohhaladzim. Ini anak dua. Heran deh.." Danu geleng geleng kepala melihat kami.
Radit lalu mendekat.
"Udah dong, sayang. Diliatin orang tuh. nanti aja di rumah lanjutin lagi gak papa. udah turun yuk," Bujuknya.
"Habisnya Doni nyebelin, Dit," rengekku.
"iya nanti ku jewer ya. Turun ya."
Sumpah mirip anak kecil sekalu nih aku.
Aku lalu turun atas bujukan Radit, dan kami akhirnya pulang ke rumah.
Karena jarak rumah om Wayan dan pasar cukup dekat maka tadi kami sengaja jalan kaki ke pasar
Dan kini kami juga jalan kaki, pulang ke rumah.
Kami lalu melewati sebuah kebun yg luas dan ada rumah kosong yg sudah tidak terawat lagi.
Disekitar sini tidak ada lagi rumah lain.
"Ni rumah pasti horor ya, Tha?" tanya Danu.
Aku hanya menatap rumah itu tanpa menyahut perkataan Danu tadi.
Tidak perlu ditanya lagi, karena saat berangkat tadi, aku seperti melihat bayangan seseorang di jendela rumah ini.
"Wah, bisa buat uji nyali nih," tambah Doni.
"Elu yg mau uji nyali??" tanya Radit.
"Ah, nggak takut gue.. Baru rumah gini doang," kata Foni sombong.
"Heh!! Sembarangan kalau ngomong jangan takabur gitu!!" ucapku .
"Lah bener, Tha.. Gue gak takut kok.. Berani gue masuk sono. Mau bukti??" tantangnya
"Sana, Don! Buktiin coba!!" Danu malah ikut membuat aku pusing.
"Okeee.." saat Doni melangkah ke halaman rumah itu, kutarik tangannya.
"Pilih mana? Masuk ke sana tapi ku tonjok dulu... Apa balik ke rumah??" tanyaku sambil mengepalkan tanganku kepadanya.
"Yah... Elu mah. Kenapa sih.. Siang siang mana ada setan??" katanya sok tau.
"Ya udah sini ku tonjok dulu," kataku serius.
"Sayang ... Udah.. Don!! Udah ah.. Gak usah macem macem!!"kata Radit serius sambil menatap ku lalu gantian ke Doni.
Dduuuggg!!
Sebuah bola yg entah dari mana mengenai punggung Doni.
Kami mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Wah... Nggak beres nih.. Balik aja yuk," ajak Danu lalu langsung lari lebih dulu.
"Bener kan? Ayo Don. Balik aja. Nggak usah aneh aneh," ajak Radit.
Samar samar aku melihat seorang anak kecil berdiri di dekat jendela ruang tamu itu. Dia terus menatap kami tajam, lalu dia melambai kan tangan nya padaku agar aku mendekat.
Aku menggeleng pelan sambil menatapnya.
"Tha.. Kenapa??' tanya Radit lalu ikut melihat ke rumah itu.
"Gak papa.. Ayok balik," ajakku namun masih tetap menatap sosok di sana.
Kami lalu meninggalkan rumah itu dan pulang ke rumah. Sementara Danu sudah tidak nampak lagi batang hidungnya.
Cepet banget kaburnya tuh anak.
_______