
Pakde Yusuf datang seorang diri. Beliau baru saja sampai setelah melakukan perjalanan jauh, dan malah langsung ke rumahku, bukan pulang ke rumahnya sendiri. Koper masih ada di mobil, Pakde masuk dengan membawa satu kantung plastik dari belakang mobilnya. Aku hanya mengamati dari jendela kamar yang memang terlihat jelas, karena kamarku ada di depan, dekat halaman.
Pintu dibuka, suara bunda yang menyambut kedatangan Pakde membuat aku harus segera keluar dari kamar. Ini weekend, dan aku hanya ingin bermanja - manja di rumah. Apalagi aku merasa kalau kondisiku belum sehat betul. Efek dari kejadian kemarin masih terasa sampai sekarang.
"Tha, Pakde ini," kata Bunda saat melihatku keluar kamar. Aku segera salim ke Pakde, mencium punggung tangannya dan melebarkan senyum, namun tetap dengan sorot mata takut. Pakde terus menatapku dalam, seolah tengah mencari sesuatu di sana.
"Bagaimana kamu? Sudah baikkan?"
"Alhamdulillah, Pakde."
"Ibrahim sudah antar ke rumah Om Arif, kan?"
"Hah? Rumah Om Arif ? Ngapain, Pakde?"
"Loh kok ngapain? Ya buat merajah kamu lah," jelas Pakde yang membuatku makin keras berpikir. Pakde duduk di sofa ruang tengah, aku mengikutinya. Bunda pergi ke dapur yang pasti untuk mengambilkan minuman.
"Kan sudah sama Bang Ibrahim, Pakde. Ini, sama ini," tunjukku pada tato yang baru aku buat semalam. Pakde mengerutkan kening, terlihat tidak suka pada hal itu. Aku menjadi takut, apa mungkin ada yang salah dengan hasilnya.
"Kok malah di tato?!" tanya Pakde dengan menaikkan nada bicaranya.
"Loh bukannya Pakde yang suruh? Dirajah, bawa tempat Bang Ibrahim, kan?"
"Iya, memang. Tapi bukan itu konsepnya! Pakde bilang ke kalian, buat datang ke studio Ibrahim itu suruh minta diantar ke pondoknya Om Arif, karena Ibrahim yang tau alamat tempat itu. Bukannya gini caranya. Ya memang bener ini rajah, tapi ini nggak boleh Aretha!"
"Hah? Salah?" gumamku dengan nada pelan, dan lemas.
Pakde geleng - geleng kepala. Lalu meraih gawainya dan menghubungi seseorang.
"Wa alaikum salam. Im? Ini bagaimana sih? Kok malah Aretha di tato gini?"
"...."
"Astagfirulloh! Kamu baca nggak, chat Om kemarin? Dibaca lagi coba. Om itu nyuruh kamu antar Aretha ke rumah Om Arif, bukan kamu rajah sendiri pakai cara kamu ini!"
"...."
"Itu sih urusan bukan urusan, Om, kalau teman - teman kamu suka sama bentuk rajah, tapi penerapannya salah di Aretha! Kamu ini, astaga! Ya sudah, Assalamualaikum."
Pakde terlihat kesal, namun berusaha menahan amarahnya. Kembali menatapku sambil terus geleng - geleng kepala. Bunda muncul membawa nampan berisi minuman.
"Terus bagaimana, Pakde? Aretha nggak tau kalau maksudnya begitu," rengekku hampir saja ingin menangis. Aku takut murkanya Pakde jika memang ini adalah suatu kesalahan, dan sedikit kesal juga ke Kak Ibrahim, kenapa bisa salah mengasumsikan hal penting seperti ini.
"Huft, harus dihilangkan, coba sini Pakde lihat." Aku pun mendekat dan membiarkan Pakde Yusuf mengamati hasil karya buatan Kak Ibrahim yang berada di pergelangan tanganku.
"Simbol ini memang betul, Tha, tapi biasanya kami, Pakde dan Om Arif, hanya melakukan dengan melukis ditubuh secara langsung. Dengan jari tanpa adanya perantara tinta, atau tato semacam ini. Ibrahim memang pernah dirajah juga, dan dia mungkin terinspirasi dari hal itu untuk membuat tato dengan simbol yang sama. Tapi ini nggak ada kekuatan sama sekali. Hanya sebuah gambar saja." Pakde memejamkan mata, menekan tato yang ada di pergelangan tanganku. Seolah mengirim energi yang memang terasa hangat di bagian yang disentuh Pakde. Area tengkuk juga didoakan, bahkan Pakde tidak menggenggamnya erat, hanya menunjuk dengan jari telunjuknya saja. "Besok kalau sempat, balik ke tempat Ibrahim, buang gambarnya. Sudah Pakde rajah kamu. Nggak usah pakai begituan." Pakde Yusuf meraih cangkir kopinya dan mulai menyesapnya perlahan. Bunda hanya tersenyum sambil menarik nafas panjang.
"Kak Yusuf bawa apa sih?"
"Oleh - oleh kemarin keliling kota. Aisyah sama Rahma nggak suka seafood. Jadi Kakak bawa ke sini. Kalau kamu kan suka, kamu juga pintar memasak. Sudah kamu simpan di frezer? Atau mau kamu masak sekalian, Nis?"
"Iya, nanti Nisa masak sekalian, jadi Kak Yusuf bisa makan di sini. Udah lama, kan, nggak makan masakan Nisa. Kak Rahma juga belum pulang, kan?"
"Iya, masih di rumah neneknya sama Aisyah. Mungkin besok baru pulang."
"Nah, tidur sini saja dong harusnya. Nisa kangen Kakak tau," kata Bunda yang mulai manja pada kakaknya. Kalau dilihat - lihat bunda mirip denganku jika sudah berhadapan dengan kakak lelakinya. Pakde Yusuf pun sangat mirip Kak Arden jika dilihat - lihat. Kalau Pakde Adam jauh lebih ramai dan supel dari Pakde Yusuf. Mirip Kak Ibrahim.
"Iya. Makanya kakak ke sini, mau ke rumah Kak Adam nggak enak sama Kak Shinta. Kalau di sini, kan, sama Indra juga nggak apa - apa. Eh, dia belum pulang?" tanya Pakde Yusuf sambil mencari Ayah.
"Sebentar lagi paling, Kak. Ya sudah Nisa masak dulu, kakak sama Aretha dulu, ya. Dek, temani Pakde, sekalian dinasehatin itu, Kak, Aretha nya."
Glek.
Momen berduaan dengan Pakde merupakan momen paling horor sepanjang abad aku hidup di dunia ini. Bunda terkekeh saat aku melotot padanya. Padahal tadinya aku ingin kembali ke kamar, malah harus terjebak dalam keadaan mencekam seperti sekarang.
"Kamu bagaimana hubungannya sama Radit?" Kapan dia lamar kamu?" Pertanyaan pamungkas yang sangat ingin aku hindari, justru menjadi kalimat pertama yang Pakde lontarkan. Membuat tubuhku kaku, dan pikiranku mendadak kosong.
"Hm? Lamar, Pakde? Eum, nanti dulu ah, Kak Arden dulu biar menikah sama Mba Alya, Aretha sih belakangan aja nggak apa - apa. Kan anak bontot. " Aku menciptakan senyum lebar untuk menutupi kegugupanku di depan Pakde, apalagi tatapan menyelidik Pakde seolah sedang melihat semua yang telah aku lakukan selama beberapa bulan belakangan ini. Aku dan Pakde memang sangat jarang bertemu. Pakde yang termasuk orang super sibuk, jarang berada di kediamannya. Jadi intensitas pertemuan kami sangat sebentar, dan jarang terjadi. Aku pun sudah kenyang oleh semua ceramah Pakde sejak zaman dahulu kala. Semoga jiwa ceramah Pakde sedang tidak bergelora saat ini, karena aku sedang tidak ingin mendapatkan kultum.
"Tapi terlalu lama itu kalian pacarannya. Nggak baik. Nanti nggak sadar kalau zina!"
"Zina apaan, Pakde. Orang nggak ngapa - ngapain kok," belaku menaikkan nada bicara. Tidak terima atas pernyataan tersebut.
"Lah kamu pikir pacaran itu bukan mendekati zina? Walau kalian nggak melakukan zina secara langsung. Kalian pegangan tangan saja zina."
Ya Tuhan, aku ingin mengambil headset dan menutup telingaku sekarang. Ceramah Pakde tak kunjung usai, sampai akhirnya Pakde menoleh ke ruang tamu. Menatapnya dalam dan mengerutkan kening. Sepertinya ada sesuatu di sana.
"Kenapa, Pakde?"
"Sstt. Ada yang datang," sahut Pakde sambil meletakkan telunjuknya di depan bibir. Pakde lantas beranjak dan berjalan ke depan perlahan. Karena penasaran aku pun mengikutinya. Sampai di ruang tamu, Pakde mengintip dari balik korden.
"Siapa Pakde?" tanyaku setelah pria di depanku ini menutup kembali korden. Pakde menoleh dan menatapku penuh keraguan. "Pakde?"
"Hm, sepertinya mereka mencari kamu, Aretha. Teman kerja kamu tuh. Teman kerja tak kasat mata." Pakde segera berlalu, kembali masuk ke dalam. Aku penasaran, walau di pikiranku langsung terbesit tiga nama. Giska, Mike dan Aron. Aku mendekat ke jendela, menyibak korden, tapi langsung menutupnya cepat. Kemudian berlari masuk ke dalam. " Pakdeee!" jeritku.