Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
17. Gangguan di kamar mandi


"Sepi. Nggak ada apa apa, Dit," kata Hendra lalu membuka lebar lebar pintu tersebut.


Radit yang penasaran lantas berjalan masuk ke dalam. Kamar ini merupakan kamar utama yang seharusnya ia tempati. Tapi karena beberapa alasan, Aretha enggan menempati kamar ini.


"Wah, gede juga kamarnya. Kenapa kalian nggak pakai kamar ini aja?" tanya Hendra.


"Aretha nggak mau di sini." Radit terus berjalan hingga balkon kamar. Sementara Hendra masih menikmati suasana kamar utama yang memang terkesan elegan dengan perabotan mahal dan mewah. Hanya dengan melihat saja, dia bisa tahu berapa harga ranjang di tengah kamar ini, sekaligus meja rias, pajangan dan lukisan mahal yang memang bernilai tinggi.


"Waw, ini lukisan asli?!" pekik Hendra saat menyentuh sebuah lukisan dengan pemandangan hutan dan beberapa rumah penduduk di sana.


"Nggak tahu. Kenapa? Emangnya lo tahu, ini lukisan apa?" tanya Radit ikut melihat benda seni di hadapan mereka.


"Ini lukisan punya Raden Saleh, yang juga dapat predikat lukisan termahal. Kalau nggak salah namanya “A View of Mount Megamendung”."


Lukisan yang menggambarkan potret pemandangan alam di area Megamendung, Puncak, Bogor  merupakan seri pertama lukisan Megamendung karya Saleh, dan merupakan tonggak sejarah bagi pelukis asal Semarang ini.


Lukisan ini dibeli oleh kolektor seni asal Inggris dengan harga Rp 36 miliar di Drout Paris, Prancis. Delphine Kahl, selaku perwakilan rumah lelang Jack-Phillipe Ruellan menyatakan A View of Mount Megamendung ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki lukisan lain dengan seri sama. Itulah mengapa lukisan itu memiliki harga yang cukup mahal.


"Bagus sih emang. Tapi gue nggak sangka kalau harganya semahal itu. Tapi lo yakin kalau ini lukisan asli? Jangan-jangan kw lagi," tukas Radit.


Hendra mendekat dan mengamati seluruh lukisan itu, tak lama mengangguk yakin. "Asli! Asli ini mah! Ckckckck. Keren banget!" ungkap Hendra.


Tiba tiba di belakang mereka angin berembus cukup kencang. Bahkan Hendra dan Radit menoleh bersamaan ke belakang. Tapi anehnya tidak ada apa pun di sana, bahkan pintu balkon pun masih tertutup rapat.


"Angin dari mana, ya, Dit?" tanya Hendra berbisik.


"Nggak tahu. Ya udah, kita turun aja, yuk, " ajak Radit lalu berjalan lebih dulu ke pintu. Hendra langsung berlari menyusul Radit.


Sampai di bawah Aretha heran menatap kedua pria itu yang seperti berlomba agar bisa cepat turun ke bawah.


"Kalian kenapa sih?" Tanya Aretha menatap heran Radit dan Hendra.


"Enggak apa apa kok," sahut Radit lalu mendekat ke istrinya. Tiba tiba Radit memeluk Aretha dari samping, di depan semua orang yang ada di ruang makan. Walau tidak banyak orang, tapi tetap saja itu dilakukan di depan umum. Aretha tidak menepis ataupun menanggapi, hanya diam sambil terus menunggu jawaban dari pertanyaannya tadi.


"Nggak ada apa apa di atas. Paling cuma angin aja," sahut Hendra sambil melirik ke Aretha.


Aretha hanya melirik ke arah Hendra dengan tatapan yang tidak percaya. Tetapi dia tidak berniat untuk membahasnya lebih lanjut. Seolah-olah Aretha mengerti apa yang sebenarnya terjadi di lantai atas.


Akhirnya acara pun segera dimulai. Beberapa warga desa yang memang sengaja diundang untuk datang ke rumah sudah menemani tempat masing-masing di ruang tamu. Ruang tamu di rumah itu disulap dengan menggelar karpet di dalam serta teras untuk keperluan pengajian. Rupanya warga yang datang cukup banyak. Beberapa orang tampak familiar bagi mereka dan Radit karena sebelumnya mereka sudah pernah bertegur sapa sejak datang ke desa itu.


Pembacaan ayat suci Alquran dikumandangkan bersama-sama. Setelah itu antara perkenalan diri keluarga Raden dan Areta kepada warga desa yang hadir sebagai perwakilan. Radit menyampaikan sepatah dua kata-kata untuk kedatangannya di desa tersebut. Walau mereka tidak menetap di rumah itu, tapi mereka memang akan menetap beberapa bulan di sana. Tentu itu bukan waktu yang sebentar.


Acara berakhir sampai pukul 09.00 malam. Orang-orang yang hadir juga diberi nasi kotak dengan camilan yang sudah disiapkan. Selain tamu yang hadir juga menikmati suguhan di dalam rumah, setelah mereka pulang pun mereka akan tetap mendapatkan makanan lain guna diberikan kepada orang-orang yang ada di rumah.


"Thanks, ya, Dit. Selamat menempati rumah baru," kata Norman sambil menyalami keduanya.


Teman teman Radit beranjak untuk pulang karena hari juga sudah malam. Kehadiran mereka juga cukup membawa warna baru di acara malam itu. Mereka sudah membawa bencana makanan yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Areta. Satu persatu mulai keluar setelah pamit kepada sang empunya rumah.


"Makasih ya, Tha. Lo berdua hati hati di rumah ini. Perasaan gue nggak enak," bisik Hendra saat bersalaman dengan Aretha.


Kebetulan Hendra mendapati urutan terakhir berpamitan dengan Aretha dan Radit.


"Eh, kenapa?" tanya Aretha heran, dan masih menahan tangan Hendra. Tatapan matanya tajam menyorot Hendra yang bersiap kabur setelah mengatakan hal itu.


"Dih, pokoknya ini rumah serem sih. Kan harusnya elu yang paham soal dedemit timbang gue. Gue cuma merasa aja, hawa rumah ini nggak enak. Apalagi kamar atas," bisik Hendra sambil menatap ke balkon yang berada tepat di atas teras.


"Iya. Do'ain aja kalau nggak ada apa apa, ya. Lo harus sering main ke sini, Hen," pintar Aretha


"Dih, ogah! Ngapain. Suruh uji nyali?" tanyanya sambil memakai sepatu nya.


"Enggak gitu. Main aja. Kan biasanya juga main ke rumah gue. Btw, itu teteh masih ngikut aja, Hen?" tanya Aretha berbisik sambil menatap ke halaman rumahnya.


Hendra langsung menatap Aretha sebal. "Lo itu, ngapain sih pakai di bahas lagi!" omel Hendra.


"Loh kenapa emangnya? Oh, lo udah tahu ternyata?"


"Tahu apa?"


"Teteh di situ?"


"Heh! Duh, Aretha mah gitu deh. Maksudnya ngapain lu bahas lagi soal teteh. Gue udah lupain kejadian itu, lagian gue juga udah nggak tinggal di rumah itu. Tapi kenapa itu teteh masih aja ngikutin gue sih! Soalnya yang ngomong Nggak cuman lo aja kemarin ada yang bilang gitu juga," ungkap Hendra.


"Siapa lagi yang bilang?"


"Kenalan gue. Kyai. Katanya gue diikutin cewek, namanya teteh. Ah, gimana sih ini, Tha?" tanya Hendra malah menjadi emosi.


"Kan nggak apa apa, Hen. Lagian Teteh kan nggak ngapa-ngapain lo. Ya udah, santai aja," tutur Aretha.


"Hem, iya deh iya. Ya udah gue balik. Kalian hati hati juga di rumah. Bye!" Hendra pun segera pamit mengikuti teman teman yang lain.


Rumah kini sudah mulai sepi. Hanya ada Pak Slamet, Bu Jum, dan Ratno yang Sedang membereskan rumah Radit. Walaupun Radit dan Areta tidak pernah menyuruh Ratno untuk bersih-bersih, tetapi Pemuda Desa itu melakukannya tanpa disuruh dan dengan kesadaran penuh.


"Wah, makasih, Mas. Sudah dibantuin," kata Radit saat mereka kembali masuk ke dalam. Dalam waktu singkat ruang tamunya kini sudah bersih. Bekas piring dan gelas yang kotor sudah ditaruh di dapur. Sampah-sampah juga sudah dimasukkan ke plastik dan siap untuk dibuang. Karpet sudah digulung dan lantai pun sudah disapu. Tinggal memasukkan sofa yang sengaja ditaruh di halaman depan kembali ke tempatnya semula.


"Sama sama, Mas. Saya sudah biasa bantu-bantu kalau ada warga yang punya acara," sahut Ratno.


"Betul, Pak. Ratno ini biasa bantu bantu warga. Kalau Pak Radit dan Bu Aretha butuh tenaga bantu, bisa hubungi Ratno. Oh iya, dia juga dulu tukang. Sepertinya dia bisa bantu saya memperbaiki kamar mandi," kata Pak Slamet.


"Kamar mandi? Kamar mandi mana, Pak?" tanya Ratno berbisik.


"Itu yang atas," tunjuk Pak Slamet.


Ratno tiba tiba langsung melotot. Seakan akan tidak ingin menerima tawaran itu. Hal ini terbaca dengan jelas dan membuat Radit heran.


"Kalau begitu, besok Mas Ratno bisa bantu Pak Slamet, ya?" tanya Radit.


"Hm? Saya? Duh, gimana, ya?" gumamnya seakan akan ada yang mengganjal di hatinya karena tidak langsung menerima tawaran tersebut. Apalagi dia sedang menganggur. Dan biasanya Ratno paling jarang menolak permintaan warga. Dia memang bekerja serabutan. Jadi baginya menolak pekerjaan sama dengan menolak rejeki.


"Kenapa, Mas? Mas Ratno nggak mau?" tanya Radit yang dapat melihat ekspresi aneh di wajah pemuda desa itu.


"Eh, bukan gitu. Tapi... Tapi.... "


"Sudah. Terima saja. Hitung hitung bantu saja, To. Kamu nggak kasihan sama saya? Tenagamu pasti lebih besar daripada saya. Jadi pasti akan lebih mudah nanti," pungkas Pak Slamet.


"Hem, ya sudah. Baik, Mas Radit. Insyaa Allah besok saya datang lagi ke sini," kata Ratno.


______


Acara berlangsung lancar tanpa hambatan apa pun. Setelah membereskan rumah, Pak Slamet dan Bu Jum lantas pulang. Mereka pulang sekitar pukul 10 malam. Setelah mereka pergi Radit dan Aretha juga mulai membersihkan diri. Aretha memutuskan mandi air hangat sebelum tidur. Dia merasa kalau tubuhnya lengket karena kesibukan seharian ini.


Radit yang hanya berganti pakaian lantas menunggu istrinya di ruang tengah di temani film hollywood yang baru saja tayang. Dia juga sudah membuat secangkir kopi dan segelas susu cokelat hangat yang disukai Aretha. Camilan hari ini masih ada beberapa, jadi bisa dijadikan teman minum kopi sambil menunggu Aretha selesai mandi.


Siraman air hangat membasahi tubuh Aretha. Walau dia sedang berada di tempat yang terkenal memiliki udara yang cukup dingin, tetapi tidak membuatnya meninggalkan kebiasaan mandi tengah malam. Apalagi jika dirasa badannya berkeringat dan lengket seperti sekarang.


Namun saat dia mulai membasahi rambut, tiba tiba terdengar suara anak kecil yang terkekeh di sekitarnya. Otomatis Aretha menoleh ke sekitar, tetapi tidak ada siapapun di sana. Di kamar mandi itu hanya ada dirinya seorang. Apalagi kamar mandi itu tidak terlalu luas. Hanya sekitar 1,5 x 2 meter saja.


"Ah, perasaan ku aja nih," gumam Aretha. Dia melanjutkan lagi menggosok kepalanya. Tiba tiba gerakannya terhenti. Aretha mencari cari sesuatu di dalam kepalanya yang dipenuhi rambut tebal. Dia merasa menyentuh sesuatu yang aneh, yang bukan berasal dari kepalanya.


Benda itu terasa seperti ruas ruas jari yang tengah memegangi kepalanya dari dalam. Terbungkus rambut dan menempel cukup kuat.


"Aaarg!" jerit Aretha. Dia panik sampai sampai langsung keluar dari kamar mandi bahkan tanpa mengenakan handuk.


Mendengarkan suara istrinya, Radit langsung berlari ke kamar mandi dan langsung memeluk istrinya yang masih basah dengan beberapa bagian tubuh penuh busa.


"Hey, kenapa, Sayang?" tanya Radit berusaha menatap Aretha yang sejak tadi justru memejamkan mata.


"Kepalaku! Kepalaku, Dit!" jerit nya masih heboh sambil menunjuk bagian kepalanya.


"Kepala? Kenapa? Kepala kamu kenapa?" tanya Radit mencari apa pun yang dimaksudkan Aretha.


"Ada jari! Ada tangan! Coba periksa! Cepat, Dit!" jerit Aretha masih panik. Dia tampak benar benar ketakutan dengan apa yang baru saja dialaminya.


Radit lantas memeriksa setiap helai rambut di kepala Aretha. Namun sayangnya tidak ada apa pun yang ia temukan. Apalagi benda yang dimaksudkan oleh Aretha. Jari.


"Nggak ada, Sayang. Nggak ada apa apa di kepala kamu. Mungkin kamu salah tadi," kata Radit meyakinkan Aretha.


"Yang bener? Coba kamu cek lagi, Dit! Tadi ada!" pintar Aretha yang kini sudah pecah air matanya.


Radit lantas menuruti perkataan istrinya, memeriksa dengan rinci bagian kepalanya secara seksama. Hingga akhirnya dia pun kembali mengambil kesimpulan yang sama.


"Bener, sayang. Nggak ada apa apa di kepala kamu. Kamu tenang dulu coba, ya. Sst, udah udah."


Radit lantas memeluk Aretha. Tidak perduli jika pakaiannya ikut basah karena Aretha yang belum selesai mandi.


"Sudah, ya. Sudah. Sssst." Radit memeluk Aretha erat di tengah tangisan istrinya yang tak kunjung berkesudahan. Perlahan Radit menuntun Aretha kembali ke kamar mandi hanya untuk mengguyur sisa sabun yang masih menempel. Bahkan saat Aretha sudah bersih, Radit membalut tubuh istrinya dengan handuk, lalu membopongnya kembali ke kamar mereka.


"Aku ambilkan baju, ya. Tunggu sebentar," kata Radit setelah meletakkan tubuh Aretha di pinggir ranjang. Aretha hanya diam, sambil menggigil kedinginan. Radit dengan sigap mengambil pakaian tidur lalu membantu Aretha memakai pakaiannya.


"Aku ambilin susu cokelat dulu, ya. Nanti aku bantu keringkan rambut kamu."


Aretha hanya pasrah diperlakukan dengan baik oleh suaminya. Sebenarnya kejadian seperti itu bukan hal pertama baginya, tapi terkadang tetap saja akan memberikan kejutan sendiri baginya. Radit tidak keberatan jika Aretha tiba tiba bertingkah seperti tadi, karena itulah Aretha. Itu juga salah satu alasan Radit mencintai Aretha. Semua yang ada pada gadis itu, adalah hal yang Radit sukai.


Kini Aretha sudah berada di dalam dekapan suaminya. Punggung Aretha di usap usap layaknya anak kecil yang ingin dininabobokan oleh orang tuanya. Tingkah Aretha terkadang seperti anak anak, tapi Radit tetap menyukainya. Radit tidak berani menanyakan apapun yang terjadi. Dia yakin kalau Aretha pasti akan menceritakan padanya nanti saat suasana dan waktu yang sudah tepat. Dari apa yang Aretha katakan, Radit bisa menyimpulkan kalau ada makhluk yang mengganggu istrinya yang sepertinya memegangi kepala Aretha.


Jadi, siapa makhluk itu sebenarnya?