Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
2. Keliling desa


"Ini buat apa?" tanya Indy saat dia menemukan beberapa lampu petromak di sudut ruang tamu.


"Yah, buat apa lagi, udah jelas buat penerangan. Kelihatan nya di sekitar rumah ini nggak ada lampu, itu artinya petromak ini dipakai untuk penerangan," tukas Cendol.


"Jadi di sini Nggak ada listrik sama sekali ya?" tanya Mey.


"Sudah, sudah. Mendingan kita nyalakan saja Petromak ini dan meletakkannya di tiap sudut ruangan. Sebentar lagi gelap," ucap Armand.


Mereka datang bertepatan dengan suasana yang hampir gelap. Hal ini membuat mereka harus bergegas membereskan barang-barang bawaan dan menata rumah ini menjadi lebih nyaman untuk mereka huni. Walaupun menurut penuturan Pak Kades, rumah ini sudah dibersihkan beberapa hari lalu oleh warga, tetapi mereka tetap harus membersihkan tempat ini sekali lagi.


"Kamar cuma dua. Gimana nih?" tanya Khusnul.


"Ya udah, kalian aja yang tidur di kamar. Kita cowok cowok di luar aja, sesuai perkataan Pak Kades. Kalian beresin barang kalian dulu aja. Nanti jam 8 malam kita kumpul lagi buat bahas soal kegiatan besok, " tukas Armand.


"Oke deh."


Sebelum mereka sampai di desa itu, segala macam logistik sudah dibawa. Kebanyakan adalah makanan instan. Seperti mie, telur, ikan kalengan, dan beras yang sudah dibeli sebelumnya menggunakan uang administrasi di awal. Jadi malam ini, mereka bisa makan dengan tenang, apalagi karena kompor dan peralatan memasak sudah disediakan di rumah ini.


"Di sini saya ingin membahas tentang cara kerja anggota kita dalam 3 bulan ke depan selama berada di desa ini. Sekalipun saya sudah ditunjuk sebagai ketua kelompok, tetapi saya masih membutuhkan bantuan kalian untuk saling bekerja sama agar program kerja kita selama KKN di sini bisa berhasil.


Menurut saya Besok adalah waktu yang tepat untuk kita observasi langsung mengelilingi Desa guna menentukan proker yang akan kita buat. Saya minta tolong untuk semua anggota ikut memikirkan proker utama atau proker kelompok kita. Minimal ada dua program yang harus kita buat selama 3 bulan di sini," ucap Daniel selalu ketua kelompok.


Di dalam struktur organisasi kelompok KKN mereka, memang sudah ditetapkan Siapa ketua dan wakilnya sebelum mereka datang ke desa itu. Daniel langsung ditunjuk menjadi ketua kelompok dan Arman adalah wakil ketua. Untuk bendahara dipegang oleh Khusnul dan Ike. Dalam kelompok mereka sudah ditentukan Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk masing-masing anggota dan uang itu digunakan untuk berbelanja keperluan mereka selama tiga bulan berada di desa itu. Semua uang dipegang oleh Khusnul dan Ike. Uang tersebut sudah dibelanjakan sebagian untuk membeli mie instan, kopi, gula beras dan aneka kebutuhan mereka lainnya. Mengingat kalau mereka akan berada di desa itu selama 3 bulan dan letak Desa itu yang jauh dari kota maka sebelumnya mereka sudah berbelanja kebutuhan pokok.


"Oke. Besok kita keliling desa dulu aja. Biar kita bisa menentukan proker apa yang cocok untuk individu maupun kelompok," cetus Arman.


"Iya, bener. Sekalian kita melihat lihat kondisi desa ini," tukas Fendi.


"Yang bikin gue penasaran, di mana letak sungai yang dibilang Pak Kades tadi!" cetus Dollmen.


"Kenapa? Kamu kebelet, Men?" tanya Sule.


"Belum. Sekarang sih belum, tapi nggak tahu nanti, kan? Atau kalian juga tuh, siapa tahu nanti malam ada yang kebelet!"


"Gini gini, kita buat kesepakatan saja. Kalau nanti malam ada yang ingin buang air, harus ada yang menemani. Entah dia atau tiga orang. Karena kita kan nggak tahu di mana letak sungai itu walau kata Pak Kades letak sungai itu nggak terlalu jauh dari rumah ini, tapi kita harus waspada."


"Karena banyak setan, ya, Nil?" tanya Mey.


"Bukan. Karena banyak hewan buas. Biasanya. Kalian lihat, kan, kalau di sekitar kita hutan hutan. Banyak pohon. Sudah pasti banyak binatang di sekitar. Mungkin macan nggak ada, tapi ular, babi hutan, dan hewan hewan seperti itu pasti ada di sini. Terlalu berbahaya kalau kita berkeliaran di sekitar cuma sendirian atau hanya berdua saja."


"Oke. Berarti untuk malam ini kita bisa santai dulu ya? Sebelum berkutat dengan tugas proker nanti," ungkap Cendol.


Malam itu dilalui dengan tenang dan damai. Setelah makan pun, mereka segera tidur karena tubuh yang sudah lelah akibat perjalanan seharian ini.


***


"Ma, memangnya ada bumbu dapur? Kok kamu bisa masak nasi goreng enak begini?" tanya Arman.


"Ada. Kan aku beli bumbu bumbu dapur juga kemarin. Jadi nanti kalau kita keliling desa dan ada warung sayur, aku bisa beli sayuran untuk kita makan," jelas Rahma yang memang pandai memasak, walau dengan bahan seadanya.


"Wah, asyik! Nggak takut kelaparan nih jadinya," sahut Fendi.


Setelah sarapan mereka pun memutuskan untuk berkeliling dengan cara berpencar. Tidak ada aturan mengenai siapa pergi dengan siapa dan ke arah mana, Daniel sengaja membebaskan teman temannya untuk berbaur tanpa aturan yang mengikat. Asal semua bisa saling menjaga dan tahu batasan.


"Aku ke sana deh," kata Fendi.


"Ikut, Fen!" teriak Dollmen langsung berlari mengikutinya.


"Eh, jangan ke arah sini semua, ya. Nanti kita bahas pas semua udah pulang dari berkeliling. Mengenai tempat tempat di sekitar sini," kata Daniel.


"Aku Ke sana deh," kata Arman pergi ke arah sebaliknya.


"Man, ikut!" pinta Ike.


"Oke. Heh, Der, lo ikut gue juga sini! Jangan diem aja kenapa sih! Sakit gigi lo?" tanya Arman dengan pertanyaan yang berupa sindiran halus.


Sejak kemarin Dery memang tampak pendiam. Padahal biasanya dia cukup cerewet, karena Arman sudah mengenalnya sejak SMA.


"Iya iya."


Alhasil kelompok terpecah menjadi 3. Arman pergi bersama Ike dan Derry. Sementara Fendi, bersama Dollmen, dan Cendol. Sisanya Sule, Daniel, dan para wanita.


"Man, kenapa pilih jalur ini sih? Ini mah rute ke hutan! Kita mau proker apaan di hutan?" tanya Derry sedikit tidak nyaman dengan jalur mereka.


"Kan kita semua harus keliling desa. Desa ini kan nggak semua pemukiman penduduk aja. Hutan ini pun juga wilayah dari desa Kalimati," jelas Arman santai.


"Ih, itu apaan?" tanya Ike sambil menunjuk ke ujung jalan setapak yang mereka lewati.


Dari kejauhan mereka melihat ada nampan uang terbuat dari rotan berisi aneka buah buahan dan dupa.


"Sesajen?" tanya Derry.


"Ih, ngeri! Kok bisa ada sesajen di sini. Sepertinya ini masih baru," ucap Ike.


"Dilihat dari buah yang masih segar sih, iya," kata Arman yang kini jongkok untuk memeriksa buah buahan itu. Dia menoleh ke kanan dan kiri seperti sedang mencari sesuatu.


"Tapi siapa yang taruh di sini? Pasti manusia, kan?" tanya Derry.


"Iya manusia lah, Der. Masa setan? Nanti judulnya setan kasih makanan ke setan lainnya gitu," cetus Arman.


"Udah ih. Ayo, pergi dari sini. Serem lama lama," pintar Derry.


"Man, kenapa harus ke sini? Coba kita tadi cari jalur yang ke sungai aja gitu. Kan lumayan bisa mandi sekalian. Gue rada mules juga soalnya nih," tukas Derry.


" Emangnya lo tahu arah mana yang bisa mengantarkan kita ke sungai? Gue pilih jalur ini pun karena gue rasa Desa ini gak terlalu luas jadi Sekalipun kita berkeliling ke arah ini, kita pasti bakalan sampai ke tempat lain di mana teman-teman kita lewati juga."


"Oh, seperti teori di mana bumi itu bulat?"


"Yah, semacam itulah."


"Man, ini udah habis kah, jalur ratanya? Kita balik aja atau terusin naik?" tanya Ike.


Jalanan yang tadinya rata dan landai sehingga mudah untuk dilewati kini habis dan menyisakan sebuah tanjakan sebenarnya tidak terlalu tinggi.


"Lanjut aja naik. Kalian lihat di bawah ini, kan? Ada jalur yang biasa dilewati oleh manusia jadi pasti jalur ini pun sering dilewati warga desa sekitar," tunjuk Arman ke bawah. Tempat yang biasa dilewati manusia memang akan terlihat jejaknya dari permukaan tanahnya yang jarang ditumbuhi rumput.


"Udah, nurut aja, Ke. Naik gih. Bisa nggak? Apa perlu gue gendong?" tanya Derry.


"Ye, bisa gue!"


"Ya udah sih, jangan marah marah. Kan cuma nawarin aja."


Arman tersenyum sambil melirik kedua temannya yang berada di belakangnya. Dia memutuskan naik lebih dulu agar bisa melihat kondisi di atas. Namun Alangkah terkejutnya Arman begitu dia sudah sampai di atas. Mukanya hutan seperti sebelumnya yang ia lihat melainkan tanah kuburan yang memiliki banyak sekali batu nisan. Deri dan Ike yang mengekor di belakangnya pun akhirnya juga sudah sampai di atas dengan selamat.


"Ava avaan ini," pekik Deri dengan logat yang diplesetkan.


"Banyak banget nisannya. Ini makam desa ini? " tanya Ike penasaran.


"Sepertinya iya. Mengingat tentang makam ini berada di wilayah Desa Kalimati," tukas Arman.


"Man, ada sesajen juga," tunjuk Ike ke tengah makam.


Mereka tidak perlu mendekat untuk melihat apa yang ada di atas nampan rotan tersebut, karena kepulan asap dari dupa yang menyala membuat mereka yakin kalau apa yang ada di sana sama seperti sesajen yang sudah mereka temukan sebelumnya.


"Eh, ada suara air sepertinya, ya? Jangan-jangan itu sungai yang kita cari!" pekik Deri antusias.


"Eh iya, bener. Ada suara air. Coba kita berpencar cari sumber suaranya," ucap Ike sependapat.


Mereka berdua segera berkeliling ke pinggiran makam, untuk menemukan Di mana letak sumber suara yang mereka dengar saat ini. Sementara Arman Masih Berdiri santai sambil memperhatikan sekitar. Tapi saat dia menoleh ke arah utara yang berada di sebelah kirinya airnya Arman menemukan Dari mana sumber suara air yang ia dengar bersama teman-temannya tadi.


"Euy, ini di sini!" jerit Arman.


Deri dan Ike yang sudah terlanjur berkeliling ke atas segera mendekat ke tempat semula. Rupanya apa yang mereka dengar tadi bukanlah suara air dari sungai melainkan sebuah mata air yang turun dari atas bukit dan bermuara ke sebuah kolam kecil. Yang membuat aneh bukan mata air tersebut melainkan sebuah batu yang berada di tengah-tengah kolam. Batu itu berbentuk manusia yang sedang duduk sambil bersila. Mirip orang yang sedang bertapa dan di depan patung itu ada sesajen yang sama seperti sebelumnya.


"Hem, sesajen lagi! Udah yuk, kita pergi aja," ajak Ike yang makin merasa tidak nyaman. Dia Lalu menarik tangan Deri agar segera mengikutinya. Karena dua pria itu justru hanya diam sambil memperhatikan patung tersebut sejak tadi. Ika yang cerewet lalu berhasil membuat Arman dan Deri pergi meninggalkan hutan dan melanjutkan perjalanan mereka.


Bila terasa hari sudah mulai siang, matahari juga sudah mulai berada di atas kepala. Mereka bertiga pun memutuskan untuk kembali ke rumah sambil menunggu informasi dari teman-teman yang lain.


Begitu sampai di rumah rupanya teman-teman mereka sudah pulang lebih dulu dan kini sedang menyantap hidangan makan siang.


Kali ini Rahma memasak tumis daun pepaya dengan bunga pepaya yang menjadi toping lezat. Ditambah dengan tempe goreng dilengkapi sambal terasi.


"Makan dulu nih," ajak Rahma.


" kalian udah pulang dari tadi?" tanya Arman


"Iya, Man. Kami tadi Pergi ke Balai Desa dan mulai berbaur dengan warga desa yang lain. Kalian sendiri pergi ke mana?" tanya Daniel.


"Kami keliling hutan. Ternyata Desa ini masih banyak yang memberikan sesajen dan diletakkan di beberapa tempat," tukas Arman. Dia segera mendatangi meja ruang tamu dan mulai eksplorasi dengan makanan yang ada di meja.


Perjalanan mereka selama setengah hari tadi, tentu saja tidak mudah. Apalagi jalur yang mereka bertiga tempuh tidak terlalu mulus.


"Itu artinya warga masih memercayai adat istiadat orang terdahulu," sahut Daniel.


"Ya maklum saja. Kita ini ada di desa terpencil yang topografinya kebanyakan berupa hutan dan semacamnya. Asal kita saling menghormati saja itu sudah cukup," kata Sule


"Kami juga menemukan adanya kuburan di dekat hutan. Oh ya, Apakah ada yang sudah mengetahui Di mana posisi sungai yang kemarin dimaksudkan oleh Pak Kades? " tanya Deri.


"Masih mules?" tanya Ike.


"Ya masih lah. Kan ini udah gue tahan semalaman," ucap Deri.


"Sungai ada di belakang rumah, Der. Deket kok dari sini. Lo tinggal jalan sebentar aja langsung udah kedengeran Kok suara sungainya," jelas Fendi.


"Yang bener? Ya udah gue mau ke sungai dulu. Siapa yang mau ikut? Ke? Mau ikut?" tanya Deri dengan lirikan mautnya.


"Ogah!"


"Awas aja ya, kalau lo minta anterin ke sungai nanti malam!" ancam Deri.


Sambil menunggu Deri kembali dari sungai yang tadi ditemani oleh Dolmen dan Sule, mereka kembali meneruskan diskusi yang tak sempat tertunda.


" mengingat Desa ini hanya sebagian saja yang memiliki kamar mandi, apa kita perlu membuat program kelompok untuk pembangunan sumur dan tempat pemandian umum?" tanya Arman.


"Oke. Biar saya catat juga."


"Satu lagi apa?" tanya Cendol.


"Aliran listrik? Apa kita kira-kira bisa membuat proker mengenai aliran listrik supaya bisa merata ke semua desa?" tanya Arman.


"Wah, boleh juga!"