
Aku terus menatap tajam makhluk ini. Entah sebutan apa yg pantas untuk dia.
Malaikat? Sepertinya bukan
Mana ada malaikat bentuknya seperti ini.
Demon?
Iblis!
Sepertinya, iya.
Mungkin dua kata itu lebih cocok.
Mataku terus menatap tajam iblis di hadapanku ini.
Awalnya aku sedikit gentar dengan apa yg ada di hadapanku sekarang.
Karena aku baru pernah menghadapi makhluk seperti ini.
Namun ketakutan ku, ku kubur dalam dalam. Aku tidak boleh takut.
Siapa pun yg menang nantinya, aku harus terus berusaha. Aku yakin Allah pasti ada bersamaku.
Pertolongan Allah akan datang dari mana saja.
Setelah memutari nya satu putaran penuh, kini aku berhenti dan berdiri di hadapannya.
Mata nya yg merah menyala, terus menatapku tajam dengan seringai liciknya, dia berusaha untuk menjatuhkan kepercayaan diriku.
Memang sepertinya terlihat kontras sekali, di hadapanku ada iblis yg cukup kuat, sedangkan aku? Hanya ponakan Pak de Adam yg masih polos.
Eum, ada hubungan nya nggak sih?
Dia mengangkat trisulanya lalu menunjukku sambil menaikan sebelah bibirnya. Pertanda dia akan segera memulai pertarungan denganku.
"Lebih baik kamu menyerah!!" katanya.
"Najis! Cihh!!" aku meludah ke sampingku dan kini menantangnya terang terangan.
"Kalau kamu menyerah, akan ku jadikan pengikut ku nanti!!" tawarnya.
"Heh! Kita ini mau berantem apa mau diskusi.. Kamu pikir ini pasar? Pakai tawar menawar lagi.m. Aku... Tidak tertarik dengan tawaran iblis macam kamu! Mengerti!? Mending aku mati daripada aku harus jadi pengikut mu!!!" sahutku dengan penuh keyakinan.
"Oh jadi itu mau mu! Jangan salahkan aku kalau kamu akan mati hari ini!!"
"Ah, berisik!" ku angkat pedangku tinggi tinggi dan kulayangkan padanya.
Tingggg!!
Lagi lagi senjata kami saling beradu. Dia terus menekan trisulanya ke bawah agar dapat melukaiku.
Ku tahan sekuat mungkin dengan pedangku. Aku terus berdzikir, bersholawat dan terus merapalkan doa dalam hati.
Dengan terus mengingat Allah dan meminta perlindungan dariNYA, aku terus bertahan dengan serangan nya yg bertubi tubi.
Berkali kali dia terus melayangkan pukulan dengan trisulanya padaku. Aku pun masih dengan sigap melawan nya dengan pedang di tanganku.
Beberapa menit berlalu kedudukan kami seimbang.
Namun, energiku terus terkuras.
Melawan dia ini, benar benar membutuhkan energi ekstra.
Srreeeettt
Lenganku tergores trisula miliknya dan mengeluarkan darah segar.
Aku sedikit memekik dan mengatupkan rahangku menahan sakit.
Sepertinya luka ku cukup dalam, karena darah mengucur deras membasahi tanganku bahkan menetes sampai ke bawah.
"Aretha!!!" teriak Radit lalu berlari mendekat.
"Kamu ngapain ke sini!! Sana aja diit!" larangku.
"Kamu luka!!" dia lalu menutup luka ku dengan syal miliknya.
Terlihat raut wajah kecemasan dari wajah Radit.
Baru kali ini aku melihat wajah radit seperti ini.
"Kak Arden gimana?" tanyaku.
"Sorry ta, aku... Belum bisa hubungi a
arden. Signal tiba tiba hilang. Kita ini lagi di mana sih? Rasanya kita seolah gak bisa terhubung dengan dunia luar." kalimat Radit membuatku berfikir.
Kulirik ke makhluk itu.
Dia tersenyum licik padaku. Aku yakin, dia yg melakukan semua ini.
"Kalian tidak akan bisa meminta bantuan pada siapa pun juga," jelasnya.
"Masih ada yg akan menolong kami!!" jawabku lantang.
"Siapa? Kakak kamu? Bahkan dia tidak bisa menemukan kalian.," ejek nya.
"Bukan!! Tapi Allah!!" kataku yakin.
Dia tersenyum, lalu berlari ke arahku dengan mengangkat trisula nya.
Ku dorong Radit menjauh. Bahkan sepertinya dia terjatuh ke tanah.
Aku juga berlari untuk makin mendekat padanya.
Taaaaanggg!!
Ku putar pedangku yg masih menahan trisulanya dengan gerakan memutar cepat.
Ku tendang perutnya kuat kuat.
Buuggg!!
Alhasil gerakan tadi membuat trisulanya terlempar jauh dari tangannya.
Namun, dia hanya terdorong sedikit ke belakang dengan menekan perutnya sambil menyeringai.
Dahiku sudah berpeluh peluh keringat.
Ku gelung rambut panjang ku ke atas, ku tatap tajam matanya.
Nafasku sudah memburu karena pertarungan tadi.
Siall! Dia tidak bergerak sedikit pun. Bahkan dia tidak kelelahan sepertiku.
Aku tidak sanggup melawan dia seorang diri. Aku butuh kak Arden.
"Kenapa? Capek??" tanyanya seperti meremehkan ku.
"Enggak!!!" Jawabku.
Nyeri di lenganku makin lama makin kurasakan. Bahkan aku seperti mati rasa di lengan kiriku.
Seperti nya aku kehabisan banyak darah. Bahkan syal Radit sudah berubah warna. Yang awalnya berwarna hijau muda, sudah berubah jadi merah darah .
Aku mulai pusing dan badanku lemas. Namun aku terus berusaha bertahan. Bahkan jika perlu, sampai titik darah penghabisan.
Dia berlari ke arahku, ku pasang kuda kuda dan bersiap melawan dia kembali.
Ku rapalkan doa ke telapak tanganku lalu ku sapukan ke pedang di tanganku.
Saat dia sudah dekat, kulayangkan pedang itu.
Sreeettthh!!
Dia memekik keras.
Sayap kanan nya terpotong karena tebasan pedangku.
Emosinya makin memuncak, dia kembali menatapku tajam dengan penuh kebencian.
Dia merentangkan kedua tangan nya ke samping, lalu merapalkan sesuatu dengan menggumam.
Aku tidak tau apa yg dia katakan.
Namun, entah kenapa telingaku begitu sakit.
Sampai sampai ku jatuhkan pedangku dan berusaha menutup telingaku rapat rapat. Tidak hanya telinga saja, kini kepalaku juga sangat sakit. Rasa sakit ini terus menjalar hingga ke jantungku. Rasa nya seperti ada yg meremas dengan kuat.
Radit pun sama, dia juga kesakitan, dan jatuh terkulai di tanah.
'Ya ampun Radit..'
Semoga dia baik baik saja.
Kulihat sosok itu terus menggumam di posisi yg sama seperti tadi.
Apa yg dia baca?
Kenapa begitu menyakitkan.
Aku makin pusing, seluruh tubuhku sakit.
"Nduk! Ajian senggoro m*****." teriak eyang.
Aku menoleh ke eyang.
Duh, nggak hapal lagi. Mampus!!
Ini nih hasilnya, kalau di ajarin malah kabur terus dari pakde Yusuf.
Buuugggg!!!
Aku terpental jauh bahkan sampai 10 meter jauhnya.
Aku meringis kesakitan. Kali ini aku merasakan tubuhku remuk.
Bergerak sedikit saja rasanya sakit sekali.
Dia melayang dengan satu sayapnya mendekatiku.
Dia menaikkan daguku menggunakan trisula miliknya sambil menyeringai penuh kemenangan.
Aku memejamkan mataku, aku sudah pasrah atas apa pun yg akan menimpaku nanti.
Karena aku sudah tidak sanggup lagi untuk melawan nya. Badanku sudah lemas sekali.
"Apa permintaan terakhirmu!?" tanyanya.
Aku meludahi trisulanya.
"Rupanya kamu sungguh keras kepala!!!" dia angkat trisula miliknya dan sepertinya dia akan menebasku kali ini tanpa ampun.
Aku pasrah.
"Grrrrraaaaauuummm"
Dia jatuh ke belakang dan ada macan putih yg menyerangnya tiba tiba.
Siapa ya?
Kulihat eyang masih ada disisi lain masih bertarung dengan makhluk aneh tadi.
Ini macan siapa lagi ya?
Aku hanya sanggup mengangguk lalu tubuhku jatuh ke pelukan kak Arden. Aku sudah lelah sekali, Dan semua gelap.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Arden pov
Kulihat bunda mondar mandir terus sambil menatap ponsel nya. Seperti sedang mencemaskan sesuatu.
Aku yg baru pulang dari rumah Alya sore ini jadi heran dengan sikap bunda.
"Ya ampun kak. Kamu kok baru pulang sih??" tanya bunda.
"Maaf bun, tadi Arden nganterin Alya dulu ke rumah sakit. Terus malah suruh nemenin Alya sama saudaranya di sana sebentar, soalnya mereka ditinggal berdua aja. Jadi baru bisa pulang sekarang," terangku panjang lebar.
"Oh gitu. Ya udah gak papa."
"Bunda kenapa sih?"tanyaku.
"Perasaan bunda gak enak. Tadinya bunda kepikiran kamu, tapi begitu lihat kamu baik baik aja, bunda langsung kepikiran Aretha," jelas bunda sambil terus melihat keluar rumah.
"Emang dia ke mana?"
"Pergi sama Radit dari pagi. Kenapa sih hp kalian berdua gak aktif? Bunda teleponin dari tadi nggak bisa bisa," omel bunda.
Aku garuk garuk kepalaku yg jelas tidak gatal.
"Hp Arden lowbatt, Bu.. Di sana gak ada charger. maaf ya.hehe"
Bunda tidak juga tersenyum seperti biasanya.
"Perasaan bunda gak enak kak. Beneran. Dada bunda nyeri banget. Sesak." bunda terus menekan dadanya sambil terus mondar mandir tidak jelas.
"Ya udah, biar aku cari mereka.."
Aku kembali masuk ke mobil lalu meninggalkan halaman rumah.
Jujur saja, aku tidak tau harus mencari ke mana. Berkali kali hp Radit maupun Aretha tidak bisa dihubungi.
Akhirnya aku berhenti di pinggir jalan lalu ku tulis pesan di grup WA, yg beranggotakan teman-temanku.
Aku [ada yg tau Radit dan Aretha ke mana hari ini?]
Kiki [tadi nonton bareng aku, sama Doni juga. Kenapa? Belum balik?]
Doni [ paling pacaran dulu, Den. Udah, santai aja. Nanti juga pulang.]
Dion [ wah, dicariin PASPAMPRES nih..wkwkwkwkwk...]
Aku [ga usah becanda deh!!serius nih!!😤]
Danu [cari aja pake GPS, susah amat!]
Aku [udah! Tapi gak bisa..aneh banget.]
Kiki [eh Den!! Tadi Aretha diikutin setan lho... Iya kan, Don?]
Doni [ iya, bener banget tuh. Jangan jangan diculik setan!]
Aku [hm... Ya udah, thanks ya.]
Tiba tiba tercium bau bunga yg pekat sekali. Wangi ini tidak asing lagi buatku.
Aku sering mencium wangi ini, tapi belum pernah melihat sosok nya selama ini.
"Assalamualaikum le," sapa seseorang yg kini duduk di sampingku.
Aku menoleh dan mendapati seorang nenek yg memakai baju kebaya.
"Waa... waaalikum salam. eyang Lestari??" tanyaku.
"Iya le, ini eyang Lestari. Kita baru pertama bertemu ya." eyang tersenyum padaku. wajahnya teduh sekali.
"Iya eyang... Eh, tunggu. Eyang kok di sini? Ada apa ya?"
Eyang Lestari memang jarang sekali menampakan diri. Selama ini kami hanya sering bertemu eyang Prabumulih.
"Eyang bantu untuj menemukan adik kamu," kata eyang datar.
"Aretha? Aretha memangnya di mana eyang..?" tanyaku agak panik.
"Pejamkan mata kamu, le." suruh eyang Lestari.
Kupejamkan mataku.
Kurasakan tangan eyang Lestari menekan kedua alisku sambil menggumam sesuatu.
"Sekarang buka."
Saat kubuka mataku, semua terlihat buram.
"Eyang, kok malah Arden gak jelas gini lihatnya? Buram, eyang," kataku sambil mengucek ngucek mata.
"Abaikan hal itu. Sekarang fokus untuk mencari Aretha. Kamu lihat benang merah di depan kamu?" tanya eyang.
Ku pincingkan mataku untuk melihat apa yg eyang Lestari katakan.
Yah, benar. Ada sebuah benang merah panjang di hadapanku kini. Itu sangat jelas terlihat, tidak seperti yg lain. Semua buram.
Aku mengangguk.
"Ikuti! Maka kamu akan sampai ke mereka," perintah eyang Lestari.
Tanpa bertanya lagi, aku mengendarai mobilku dengan cepat mengikuti benang merah ini.
Hanya sekitar 10 menit aku dapat dengan jelas melihat Aretha, eyang Prabumulih dan 2 makhluk aneh di sana.
Buru buru aku turun dari mobil.
Eyang Lestari sudah ada di depan mobil
"Siapa mereka eyang?" tanyaku sambil melihat nanar pemandangan di hadapanku.
"Iblis!!" ucap eyang dingin.
Aretha sudah kewalahan ,aku yakin tenaga nya sudah habis.
Tanpa basa basi lagi, aku berlari mendekat ke Aretha.
Eyang lestari ikut berlari di sampingku. Larinya lebih cepat dariku lalu....
"Grrraaaaauuummmm"
Eyang Lestari berubah menjadi macan putih seperti eyang Prabumulih, dan dalam sekejap menerkam makhluk yg sedang menyerang Aretha hingga jatuh terguling di tanah.
Aku berlari mendekat ke Aretha karena melihatnya yg sudah tidak berdaya.
"Dek! kamu nggak papa???" tanyaku cemas.
Dia tidak menjawab sepatah kata pun, lalu dia jatuh ke pelukan ku. Kubaringkan Aretha di tanah, sambil kurapalkan beberapa doa dan menekan beberapa titik tubuhnya. Aku menyalurkan juga tenaga dalam ku ke Aretha.
Setidaknya ini akan membantu dia cepat pulih.
Aretha mulai bergerak sedikit demi sedikit.
"Kamu nggak papa dek?" tanyaku sambil kubelai wajahnya yg lebam lebam.
Hatiku sakit melihat Aretha seperti ini. Kenapa aku tidak bersama nya di saat dia membutuhkan ku.
"Kak... Radit..."ucapnya terbata bata.
Aku mencari sosok Radit, dan dia
Sedang terbaring tak berdaya tak jauh dari mobilnya. "Kamu tunggu sini sebentar."
Aku berlari menghampiri Radit dan melakukan hal yg sama seperti yg kulakukan pada Aretha.
Beruntung Radit tidak terluka parah seperti Aretha. Sehingga dapat dengan mudah menyadarkan nya.
"Gak papa lu?" tanyaku sambil mengulurkan tanganku membantu dia berdiri.
Dia mengangguk sambil batuk batuk.
Ku papah dia berjalan menuju Aretha yg masih terbaring di sana.
Saat dekat Aretha, Radit malah berlari.
"Taaaa!!! Kamu gak papa? maaf ya ta..aku gak bisa lindungin kamu.."dia memeluk Aretha dengan mata yg berkaca kaca.
"Dit, bawa Aretha ke mobil, obatin lukanya. "
Dengan sigap Radit membawa Aretha ke mobilnya.
Aku berdiri di sisi yg agak jauh dari eyang eyangku dan 2 makhluk mengerikan itu.
Kulihat eyang Prabumulih masih terus berusaha melawan makhluk itu begitu juga dengan eyang Lestari.
Entah sampai kapan pertarungan ini akan terus berlangsung. Kedua belah pihak sama sama kuat.
"Kak!!" aku menoleh dan mendapati Aretha sedang berdiri di belakangku dibantu Radit.
"Ngapain ke sini? sana ke mobil aja!!" pintaku.
"Kak, mereka kuat banget. Aku takut eyang kewalahan!"
"Iya, kakak juga merasakan itu. Kecuali kita tau titik kelemahannya."
Taaaannnggg!!!
Trisula milik makhluk yg dilawan eyang Letari terpental dan jatuh di depan kami.
"Diit..." panggil Aretha.
"Kenapa?"
"Ambil trisulanya," pinta Aretha.
"What? Buat apa???"
"Udah, ambil aja."
Radit mengambil trisula itu dan memberikannya ke Aretha.
Aku sedikit paham maksudnya.
"Kamu yakin bisa?" tanyaku.
"insya Allah."sahutnya yakin.
"Mau ngapain sih?" tanya Radit.
"Kita lakuin, sama kaya sebelum nya, Dit. "Kata Aretha.
Radit menatap Aretha lalu menatapku bergantian.
Tak lama dia mengangguk.
Radit dan Aretha memegang trisula itu bersama sama sambil berpegangan tangan satu sama lain. Mereka memejamkan mata terlebih dahulu.
Badan mereka bergetar hebat, dan membuat pegangan mereka pun makin kuat saja.
Tak lama, mereka berdua membuka mata dan menyeringai bersama sama.
"Gimana? Apa yg kalian lihat??" tanyaku penasaran.