Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
47 sosok pelindung


Malam ini entah mengapa aku tidak bisa tidur nyenyak. Kebetulan ayah dan bunda sedang tidak ada di rumah, dan hanya ada aku dan Kak Arden di rumah. Aku memutuskan menonton film dari laptop saja, sambil menunggu rasa kantuk datang. Suara gerisik ranting pohon dekat kamar mengusik malamku yang sunyi. Angin berembus agak kencang, sepertinya akan hujan besar malam ini.


Entah kenapa perasaanku tidak enak sejak tadi. Saat asik menonton film, aku mendengar bunyi sesuatu yang sedang menggaruk-garuk. Aku menengok mueza yang sudah terlelap tidur di sampingku. "Terus itu suara apa, ya?" tanyaku menggumam dalam hati. Suara tersebut tak kunjung hilang, malah makin kencang saja terdengar. Aku yang penasaran lantas turun dari ranjang dan mencari asal muasal sumber suara tersebut.


Aku menyibak korden kamar yang terhubung ke halaman depan rumah. Di sana gelap, lampu taman beberapa kali berkedip-kedip dan membuatku berpikir yang tidak-tidak. Tiba-tiba ada suara salam dari arah pintu rumah. "Waalaikumsalam," sahutku sambil buru-buru keluar kamar.


Saat aku membuka pintu, ternyata tidak ada seorang pun di sana. Hal itu membuat dahiku mengerut sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Aku sangat yakin kalau tadi ada suara orang dari pintu, mengucapkan salam dengan lantang. Sadar ada yang aneh, aku segera kembali masuk ke dalam rumah, dan mengunci kembali pintu rumahku. Masih berpikir dan memahami suara siapa tadi, kini bau wangi yang cukup khas tercium di pangkal hidungku. "Eyang?" gumamku pelan.


Aku lantas mencari keberadaan Eyang. Aku yakin Eyang yang datang barusan. Wangi ini, wangi khas Eyang. Seluruh ruangan di penjuru rumah sudah kutelusuri, bahkan saat ke kamar kak Arden, dia justru sudah tidur nyenyak, dan tidak ada eyang di sana. Akhirnya aku memutuskan kembali ke kamarku.


Saat pintu kamar kubuka, rupanya ada sosok yang sedang duduk di atas ranjangku. Eyang! Dengan ragu aku masuk ke dalam dan menutup kembali pintu kamar. Anehnya kali ini eyang tidak sendirian, ada sosok lain di dekatnya. Bentuknya sama, seperti Eyang saat tidak berwujud manusia. Yah, macan. Kini macan putih dengan belang hitam sedang duduk di dekat eyang, menatapku tajam, Eyang menatapku datar, sambil mengusap kepala macan tersebut.


"Eum, eyang ...," panggilku ragu.


Eyang yang sejak awal duduk membelakangiku, kini menoleh dan tersenyum. "Eyang tunggu dari tadi, ke mana saja kamu?"


"Aku nyari eyang ke mana-mana, eh ternyata di sini, hehe. " Perlahan aku melangkah masuk dan mendekat ke eyang. Agak sungkan karena momen seperti ini memang jarang sekali terjadi. Aku dan eyang bahkan tidak pernah ngobrol santai seperti ini, kecuali dalam aksi penyelamatan atau musibah. Seperti kemarin.


"Sini duduk," suruh Eyang menepuk pinggir ranjang sampingnya. Aku lantas menurut dan duduk di samping eyang, yang tentunya berhadapan dengan sosok macan yang dibawa eyang tersebut. "Nggak usah takut," kata Eyang yang tau apa yang ada dalam benakku.


"Dia siapa eyang? Tumben eyang ke sini, sambil bawa teman lagi," timpalku ragu. Dan kini aku mulai merutuki kebodohanku karena menanyakan hal seperti tadi pada eyang.


"Eyang sengaja datang, mau ketemu kamu, nduk."


"Aku? Eum, kenapa eyang?"


"Kamu kenalan dulu sama dia coba?"


"Hah? Dia? Kenalan?" tanyaku sambil menunjuk macan tersebut.


"Iya."


"Duh, eyang, bagaimana caranya? Kan Aretha nggak bisa bahasa macan," elakku sambil mengelus tengkuk.


"Kamu pikir dia macan betulan? Dia itu seperti eyang, namanya Arkana. Arkana ini mulai sekarang akan menjaga kamu."


"Menjaga aku? Maksud eyang?"


"Kamu ingat, bukan, kejadian-kejadian yang sudah kalian alami kemarin? Itulah alasan eyang mengirim Arkana untuk menjagamu, Aretha. Karena eyang tidak bisa selamanya ada untuk menolong kalian, terutama kamu."


"...."


"Coba kamu sapa Arkana, dia agak pendiam dan tidak suka basa basi."


Aku menatap Arkana tersebut. Dia terus menatapku dingin tanpa ekspresi, Yah, sesekali mulutnya terbuka lebar dan menampilkan giginya yang runcing. Huh, itu membuatku takut.


"Tidak perlu takut, aku tidak akan menggigit!" cetus suara yang berasal dari makhluk berbulu tersebut. Aku melotot sambil menahan getaran tubuhku saat mendengar suaranya.


"Belai kepalanya, nduk," suruh eyang. Aku melirik ke eyang tanpa menggerakkan tubuh, lalu menatap Arkana dengan wajah tegang. "Ayok!" Kembali suara eyang membuatku terkejut dan membuat tangan kananku mulai menjulur, mendekat ke pucuk kepala Arkana. Akhirnya aku berhasil sampai ke kepala Arkana, membelai kepalanya lembut dan reaksi Arkana di luar dugaanku. Dia menutup matanya, lalu makin menurunkan tubuhnya ke lantai.


"Jangan lupa salat, baca al quran. Arkana bakal selalu mengingatkan kalau kamu ingkar!"


"..."


"Ya sudah, sekarang kamu tidur."


"Eum, iya, eyang."


"Aretha! Bangun! Salat subuh!" Suara yang sangat asing di telingku, membuat mataku langsung terbuka. Aku bahkan langsung duduk, dan mencari sumber suara tersebut.


Anehnya, sajadahku sudah tergelar di lantai, dengan mukena yang biasa kuletakkan di lemari setiap selesai salat. Aku diam, sambil mengamati sekitar. Namun suara sesuatu yang sedang menggaruk-garuk tembok terdengar jelas. Hal itu membuatku bergegas lari menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


_____


Semua sibuk dengan sarapan di hadapan mereka, dan juga benda pipih yang kini menyita waktu dan perhatian semua orang. Bunda masih sibuk mondar mandir menyiapkan sarapan kami, juga bekal untuk dibawa ayah ke kantor. Kebiasaan itu tidak pernah lekang oleh waktu, bahkan jika ayah tidak sempat membawa bekal makan siang, maka bunda akan mengirimkan bekal makan siang ke kantor ayah.


Aku memainkan sendok yang berisi nasi goreng spesial buatan bunda. Mengaduk-aduk butiran nasi berwarna cokelat muda tersebut, tanpa berniat menyantapnya.


"Arerha, kenapa nggak makan?" tanya bunda yang kini duduk di hadapanku.


"Hm? Makan kok, Bun. Makan, nih," elakku sambil memasukan sendok yang berisi nasi goreng ke dalam mulutku. Bunda terus menatapku heran. Kini tidak hanya bunda, tapi juga ayah.


"Kamu lesu banget, nduk? Ada apa? Masih sakit?" tanya ayah lalu meletakan ponselnya di meja.


"Enggak kok, aku baik-baik aja."


"Hayo kenapa? Berantem sama Radit?" tanya Kak Arden ikut-ikutan.


"Ih, bukan!"


"Terus?"


Aku diam sesaat lalu menatap wajah ketiga orang itu satu persatu. Mereka terus menungguku menceritakan apa yang sedang kurisaukan sekarang.


"Semalem, aku mimpi eyang," ucapku pelan.


"Mimpi apa?"


"Tapi eyang nggak sendiri, Bunda."


"Eyang sama siapa?" tanya Kak Arden penasaran.


"Ar ... Arkana."


"Arkana? Arkana siapa sih?" ayah menatapku dan bunda bergantian. Bunda yang awalnya diam, tak lama tersenyum.


"Pantas saja. Ada yang aneh sama kamu pagi ini."


"Karena Aretha jadi pendiem gitu, Nda?" tanya ayah.


"Bukan, sayang. Tapi ada aura yang cukup kuat di dalam diri Aretha. Kalau diibaratkan, tubuh Aretha seperti terselubung cahaya."


"Tapi kok Kak Arden enggak, Bunda?"


"Belum. Kamu tau kenapa eyang mengirim seseorang untuk menjagamu?" tanya bunda lembut. Aku menggeleng pelan. Bunda lantas tersenyum.


"Karena kamu yang paling sering mendapat gangguan dari mereka. Kamu bukan lemah, Aretha, tapi kamu masih takut untuk mengeluarkan semua kemampuan kamu selama ini. Kamu hanya fokus sama sekitar dan ketakutan kamu, sehingga kemampuan yang seharusnya muncul dari diri kamu, tertahan. Dan itu yang membuat kamu mudah diganggu dan diteror."


"Terus si Arkana ini terus nempel aku gitu, Bun? Bukannya nggak baik, dekat sama makhluk seperti mereka?" tanyaku sambil berbisik, takut Arkana mendengarnya.


"Enggak. Bukan begitu konsepnya Aretha. Dia memang menempel, tapi bukan berarti selalu melekat sama kamu. Bukan. Tetapi dia akan datang saat kamu benar-benar kesulitan. Saat kamu mulai bersikap tidak seperti biasanya. Dia jin muslim. Jadi kamu nggak perlu takut. Bersikaplah seperti biasanya. Aretha yang biasa. Toh, dia tetap bisa mendengar dan tau apa yang ada di pikiranmu, nduk. Tetapi, dia nggak akan ikut campur terlalu jauh, apalagi jika kamu tidak mengijinkannya."


Aku mulai paham dan kini makan dengan lahap.