
Sudah beberapa minggu ini kak Yusuf semakin dekat dengan kak Rahma. Wanita yang kami kenal lewat mamahnya Indra.
Kak Rahma bekerja sebagai bidan disebuah puskesmas disudut kota.
Dia berpenampilan sederhana, anggun dan sopan.
Hari ini kami sekeluarga akan melamar kak Rahma ke rumahnya.
Dengan membawa 3 mobil kami menyusuri jalan di kota kami.
1 mobil diisi oleh Papah, Mamah, kak Adam, kak Shinta dan Aim lalu kak Yusuf.
Sedangkan mobil 1 nya Aku, Indra, mamah dan Papah Indra.
1 mobil terakhir diisi oleh penjaga papahnya Indra yang terdiri dari 5 orang yang berbadan kekar dan berwajah sangar tapi mereka ramah kepada keluarga ku.
30 menit kami sampai di rumah kak Rahma.
Rumahnya sederhana, kak rahma adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Ketiga kakaknya wanita semua dan sudah menikah.
Rumah kak Rahma sudah ramai oleh sanak saudaranya.
Setelah papah menyampaikan maksud kedatangan kami, acara pun dilanjutkan dengan menyematkan cincin pertunangan.
Alhasil pernikahanku dengan Indra harus dimundurkan lagi beberapa bulan. Karena lebih baik jika kak Yusuf yang menikah lebih dulu.
Indra sedikit kecewa tapi dia masih bisa berlapang dada menerimanya.
Ada seorang pria yang berumur 30 tahunan menatapku lekat lekat.
Aku sedikit risih ditatap begitu olehnya, sepertinya dia saudara kak Rahma.
Acara selesai pukul 21.00.
Kami undur diri akan pulang.
Di mobil Indra terlihat lebih pendiam dari biasanya.
Dia sangat fokus menyetir dengan pikirannya sendiri.
Ku genggam tangan Indra. Dia menatapku dan tersenyum.
"Kamu nggak apa apa?"tanyaku.
Dia hanya menggeleng.
"Sabar ya, Ndra.. Kita pasti menikah."kataku lagi.
"Iya Nis."dia membelai pipiku.
Sampailah kami di rumahku.
Keluarga Indra langsung pamit pulang karena memang hari sudah malam.
Setelah bersih bersih aku bermain laptop sebentar lalu ku putuskan tidur. Agar besok lebih segar saat di kantor.
***
Seperti biasa Indra menjemput ku diwaktu yang sama setiap hari nya.
"Udah sarapan?"tanyaku saat dia duduk di teras dengan papah.
"Udah kok Nis.."katanya
"Ya udah, yuk berangkat, Pah, Nisa berangkat ya." lalu aku menjabat tangan papah dan menciumnya.
Saat di mobil...
"Ndraaa..."panggilku.
"Iya, kenapa sayang?" kulihat raut wajahnya sudah lebih baik dari semalam.
"Pernikahan kita diundur nggak apa apa kan?" tanyaku mencoba melihat reaksinya.
Dia terdiam sesaat.
"Nggak apa apa kok, Nis. aku bisa nunggu.." katanya tegas.
Aku bernafas lega.
Tak lama kami sampai di kantorku.
Indra pamit pulang dan aku masuk ke kantor.
Dia memang sedang libur hari ini.
Di dalam lift tidak ada kejadian seperti sebelumnya. Aman..
Masuk ke ruangan ku, kulihat ada seseorang yang familiar duduk di meja kerja Anjar dulu.
"Lho.. kamu?" tanyaku sambil menunjuknya.
Dia pun mengernyitkan kening nya melihatku datang.
Seperti mengingat ingat di mana kami pernah bertemu.
"Yang semalem di rumah kak Rahma kan?" tanyaku menyadarkannya.
"Oh iya.. kamu adiknya Mas Yusuf ya?" tanyanya sumringah.
Kami pun berjabat tangan.
"Wah udah kenal aja, Nis?" kata Dimas yang baru masuk ruangan.
"Kenal sih enggak, cuma semalem ketemu di acara lamaran kakakku " terangku.
"Aku Dani.."bkatanya kemudian mengulurkan tangannya.
"Nisaa.." ku sambut sambil melebarkan senyum di bibirku.
Mia, Yuli, Fitra pun masuk ruangan bersamaan.
Mereka juga berkenalan dengan Dani. Dia yang akan menggantikan Anjar sekarang.
Kami kembali bekerja di meja kami masing masing.
Tiba tiba Pak Dicki masuk ke ruangan kami lalu memberikan beberapa map kepada Yuli.
Kulihat ada anak kecil melingkar disalah 1 kakinya. Membuat jalan Pak Dicki terseret seret.
Aku sedikit melongok ke bawah melihat lebih jelas sosok anak kecil itu.
Dia menyeringai ke arahku lalu ke arah Dani.
Aku menoleh ke Dani, dia pun sedang melihat anak kecil itu.
Dani bisa melihatnya juga ternyata. Batinku.
Pak Dicki pergi dari ruangan kami dengan kaki masih diseret juga.
Apa ya yang sebenarnya terjadi?
Hm.. aku tidak mau ikut campur ah.
"Pak Dicki kenapa ya? kok jalannya gitu? habis keseleo?" Dimas menyeletuk di tengah keheningan kami yang sibuk dengan pekerjaan di hadapan kami.
Aku dan Dani hanya diam saja.
"Kemaren kan habis kecelakaan guys.. Anaknya mati" kata Mia berbisik.
Akhirnya istirahat juga. Aku sudah laper tingkat kecamatan nih.
Tadi sarapan pakai roti tawar aja soalnya.
"Nis, makan yuk." ajak Yuli..
"Ayuk" kututup map yang tadi ku tatap. Lebih baik ku lanjut nanti sajalah, pikirku.
"Ikut," teriak Mia manja.
Aku gandeng Mia dan Yuli, kami jalan bertiga ke kantin.
Kami makan di kantin kantor saja yang letaknya dekat dengan mushola, karena setengah jam lagi akan ada rapat.
Aku memesan bakso sama dengan Yuli, Mia memesan capcay.
Kantin agak sepi sekarang, hanya terlihat beberapa orang saja yang sedang makan.
"Anjar gimana kabar?" tanyaku ke mereka sambil mengaduk bakso yang ku campur kecap dan sambal.
Mereka yang hendak menyuap makanan ke mulut terhenti lalu menatapku heran.
"Ngapain kamu nanyain orang sableng itu Nis?"yuli terlihat ketus.
"Kabarnya dia sekarang keluar kota Nis. Udah kerja juga sih" lain dengan Mia yang terlihat sedih Anjar pergi.
"Ih Mia.. kamu tuh masih deket deket dia??" tanya Yuli heran.
"Kenapa? nggak boleh?" tanya Mia tak kalah sinisnya.
"Heh!! Kalian malah ribut!" aku jadi ikut sebel melihatnya.
Namanya cinta memang buta ya. Walau yang dicintai berbuat jahat masih aja dibela.
Cinta oh cinta.
"Udah ah bahas lainnya aja," kata Yuli sambil memakan bakso dihadapannya. Malas sepertinya membahas Anjar lagi.
"Eh.. anak baru lumayan juga ya," kata Mia sedikit berbisik.
Kali ini aku dan Yuli menatapnya sebal. Ini anak cowok mulu yang dipikirannya. Perasaan baru aja dia keliatan suka sama Anjar, eh sekarang dia malah tertarik sama orang lain lagi.
Laki laki yang baru disebut itu malah duduk di sampingku membawa nampan yang berisi makanan, lalu disusul Dimas dan Fitra.
"Eh.. nggak di ruangan nggak di kantin.. ketemu nya orang orang ini mulu yah.." kata Yuli sedikit terkekeh.
"Kan kompak kita Yul" kataku.
"Dani,, udah punya pacar belum."tanya Mia.
Kami serempak menatap mia heran.
"Kumat" gerutu Fitra.
Astaga Miaaa... Hatimu sebenarnya milik siapa sih. Sana sini oke..
Dani hanya tersenyum menanggapi Mia.
"Mii.. Baru aja kamu bahas Anjar, eh mau PDKT sama Dani juga? gila yah..." Yuli makin kesal melihat tingkah Mia.
"Lagian kan Anjar nggak ada hati ke aku.. dia sukanya sama Nisa doang. Jadi ngapain aku mikirin dia terus.."kata Mia melirik ke Dani.
"Husss.. lagi makan tuh diem.. jangan ngomong terus!!" kataku sebal namaku ikut disebut sebut.
Dani menatapku sambil tersenyum. Dia ini irit ngomong juga kali yaah.
Saat asik makan, aku sedikit menghentikan makan ku karena kulihat ada rambut panjang tergerai di rengah meja kami.
Aku menatapnya hingga ke atas , terlihat seorang wanita sedang tergantung dengan posisi terbalik. Badannya kotor penuh dengan tanah dan darah.
Aku mual.
Spontan aku menutup mulutku menahan muntah.
Keringat dinginku keluar lagi.
Aku menutup hidungku dengan ujung hijabku.
Dani juga melihat sosok itu lalu membacakan beberapa doa karena aku mendengar dia bergumam lirih.
"Bau apa sih, ya? nggak enak banget,"kata Dimas yang menyadarinya.
"Kamu juga nyium kan Nis?"kata Fitra.
Aku hanya mengangguk dan memalingkan wajahku dari sosok itu.
Tak lama bau ini menghilang dan kulirik di atas meja makhluk itu juga sudah pergi.
Aku tidak jadi melanjutkan makanku. Karena sudah ilfeel pake banget deh.
"Kamu kentut kali Fit!"kata Mia.
"Enak aja! kentut ku wangi tau!!"kata Fitra membela diri.
"Lho Nis, makannya nggak dihabisin"tanya Yuli.
"Kenyang aku.."kataku masih memegang perutku.
Bukan kenyang sebenarnya, mual lebih tepatnya. Untung saja makanan yang sudah kutelan tidak keluar lagi.
***
Selesai makan kami bersama sama naik ke lantai 3 dengan menggunakan lift.
Saat Fitra menekan tombol lift, lift terbuka,.namun bukan itu yang membuat aneh tapi ada sosok wanita memakai baju celaning service yang sudah kumal.
Aku dan Dani saling tatap.
Teman temanku sudah masuk ke lift.
Duh.. kenapa lagi ini. Aku kira sudah berakhir penderitaanku menghadapi makhluk astral dikantor ini. Kenapa muncul lagi, malah lebih banyak.
"Ayo Nis..nggak apa apa"ajak Dani menarikku masuk lift.
Aku mepet mepet ke Dimas yang berdiri dipojok yang jauh dari sosok itu.
"Ngapain sih Nis.. di sana aja luas kok. Malah mepet mepet aku.. Eh jangan jangan..." Dimas memandang ke sudut dimana sosok itu berdiri.
"Iiiihhhh" teriak teman temen yang lain, lalu mepet juga ke Dimas karena tau kenapa aku menghindari sudut itu.
"Kalian kenapa sih?"tanya Dani heran.
"Pasti ada setan nih Dan.."kata Fitra agak takut.
"Nggak ada ih.. jangan disitu semua lah.. nanti lift ya miring lho"
Kata kata Dani membuat beberapa temanku geser ke arahnya.
Ini pada mau mau nya dibegoin Dani.
Mana bisa lift miring.. emangnya ini balon udara apa?
Aku sedikit tertawa kecil mendengarnya.
Aku agak lega, di kantor ini ada yang sama sepertiku. Setidaknya ada yang bisa kuajak diskusi jika aku bingung dan takut menghadapi 'mereka'.
Dani kulihat juga baik.