Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
32. Fakta baru


"Hen! Hendra! Bangun!" panggil Radit sambil terus mengguncang tubuh temannya itu.


Hendra langsung terperanjat dan melompat dari sofa. "Lepasin gue! Lepasin!" jerit nya yang berusaha melepaskan diri dari Radit.


"Heh! Ini gue! Radit!"


"Hah? Radit? Aretha? Gue... Gue udah bangun atau masih mimpi?" tanyanya.


"Tenang, Hen. Tenang. Emangnya lo mimpi apa?" tanya Radit.


"Gue mimpi aneh. Gue, Aretha, elo... Di rumah ini, terus...."


"Lo mimpiin Keisha sama Kinanti juga, kan?" tanya Aretha. 


"Lo juga, Tha?" 


"Iya, berarti kita bertiga mengalami mimpi yang sama!" cetus Aretha.


"Tapi kenapa Radit muncul belakangan, ya?" 


"Mungkin kita melewatkan poin lain, seperti mayat Kinanti yang ternyata ditemukan sama Mas Ratno itu."


"Oh iya, bener juga. Tapi artinya Radit juga nggak tahu tentang pembunuhan tadi dong?" tanya Hendra.


"Pembunuhan? Pembunuhan apa? Siapa yang dibunuh?" tanya Radit kebingungan.


"Hem, sebaiknya kita duduk dulu. Aku pengen bikin kopi, kalian mau nggak?" tanya Aretha.


"Ide yang bagus!" tukas Hendra.


Mereka bertiga duduk di meja makan, dengan secangkir kopi hitam pekat yang masih mengepulkan asap. Aroma kopi yang khas menyeruak ke seisi ruangan. Udara dingin sudah menjadi sesuatu yang biasa bagi Radit dan Aretha, berbeda dengan Hendra yang masih membalut tubuhnya dengan selimut sambil menyeruput kopi miliknya. 


"Jadi maksud kalian apa? Pembunuhan? Kinanti itu dibunuh, kan? Tapi siapa pelakunya? Aku soalnya nggak lihat, Sayang," tutur Radit.


"Awal mula kamu masuk ke mimpi itu, kamu di mana dan lagi ngapain, Dit?"


"Aku tiba tiba aja udah ada di pertigaan dekat rumah ini, terus aku jalan ke rumah. Nah, dari kejauhan aku memang udah lihat Mas Ratno, karena di situ cuma dia aja yang aku lihat. Nggak ada orang lain lagi, jadi aku coba samperin dia. Tapi dia justru lagi ngintipin sesuatu, aku curiga dong, dan aku ikutin dia terus. Ternyata dia gali sesuatu di kebun teh depan rumah. Pas aku tunggu ternyata itu tubuh perempuan. Sepertinya itu sosok yang sering kamu lihat di depan rumah deh, Tha," tutur Radit. 


"Yah, itu Kinanti, dan dia dibunuh sama seseorang yang namanya Pak Purno."


"Hah? Dibunuh? Pak Purno siapa sih? Warga desa ini juga?" 


"Aku nggak tahu, Dit. Apakah dia warga desa ini juga atau bukan, karena dia juga sudah meninggal, kalau mimpi yang kita alami memang sebuah petunjuk."


"Loh, kok malah dia ikut meninggal?"


"Dit, informasi yang satu ini gue yakin bakal bikin lo kaget setengah mati!" tukas Hendra serius.


"Informasi apa? Pembunuhnya? Siapa memangnya?"


"Yah, rentetan semua kejadian di rumah ini sampai bikin banyak nyawa melayang itu karena ulah satu orang yang lo kenal baik!" kata Hendra dengan tampang serius.


"Siapa? Gue kenal? Siapa ih! JAngan bikin penasaran!"


"Bu Jum!" timpal Aretha.


"Hah!! Yang bener? Bu Jum yang bunuh anaknya sendiri? Gitu maksud kamu, Tha?"


"Bukan gitu. Hem, masalah ini bukan cuma bersumber dari kematian Kinanti aja, tapi berawal dari Keisha!"


"Keisha?"


"Yah, jadi pembantu lo itu nyuruh Pak Purno bunuh Keisha, terus Pak Purno juga yang bunuh Kinanti, tapi pada akhirnya Pak Purno dibunuh sama Bu Jum."


"What? Alasannya?" tanya Radit sambil menatap Hendra dan Aretha bergantian.


"Jadi Bu Jum ternyata sering mencuri uang keluarga Pak Ibrahim, Dit. Dia ketahuan sama Keisha, dan karena takut Keisha mengadukan perbuatan nya itu, Bu Jum suruh Pak Purno, yang ternyata adalah selingkuhan Bu Jum, untuk membunuh Keisha dan menjadikannya seperti sebuah kecelakaan."


"Jadi yang kamu lihat sebelumnya itu memang ini? Keisha di jatuhkan dari balkon sama seseorang itu?"


"Iya, dia dibunuh dulu baru dijatuhkan. Mereka pakai racun. Apa tadi ya, namanya, Sodium petotal sama ... ah, aku lupa. Namanya susah diingat! Yang jelas efek dari racun yang mereka suntikkan ke tubuh korban itu membuat kelumpuhan otot pernafasan dan berakhir dengan kematian. Apalagi saat Keisha jatuh dari balkon. Mungkin kalau saat itu dia langsung tertolong maka dia bisa saja masih hidup," pungkas Aretha.


"Jadi Bu Jum yang melakukan itu semua? Hem, apa jangan jangan uang kamu yang hilang kemarin karena diambil Bu Jum, ya?" tanya Radit.


"Oh iya, ya! Bisa jadi tuh!"


"Duit lo ilang juga?" tanya Hendra.


"Iya, Hen. Duit gue kan ditaruh di dompet lain, emang sih dompet itu selalu di tas jadi nggak pernah dikeluarin dari sana. Tapi pas kemarin mau gue lihat, hilang! Mana banyak banget lagi!" sungut Aretha.


"Yah, bukannya menuduh sih, tapi melihat alasan Bu Jum sampai tega menghabisi Keisha karena uang, ya bisa aja dia masih melakukan kebiasaan itu pas bareng kita, kan?" tanya Radit. 


"Iya, setuju sih gue. Toh, mencuri itu kadang emang penyakit. Susah dihilangkan. Terus langkah kalian selanjutnya apa? Mau laporin hal ini ke polisi?" tanya Hendra. 


"Enggak."


"Loh, kok enggak?"


"Buktinya apa coba, Hen? Masa nanti kalau ditanya polisi buktinya dari mimpi. Lo pikir lo itu nabi!" cemooh Radit.


"Iya, yang ada nanti kita dilaporin balik karena pencemaran nama baik," tambah Aretha.


"Hem, bener juga, ya. Terus masa mau dibiarin gitu aja?" 


"Ya enggak dong. Kita tetap harus bertindak untuk mengumpulkan bukti. Bahkan kalau bisa kita buat Bu Jum sendiri yang mengakui semua perbuatannya."


"Langkah pertama kita, sepertinya kita harus temui Mas Ratno. Gimana pun juga, dia pasti tahu kan tentang apa yang terjadi sama Kinanti, walau dia nggak tahu tragedi yang di alami Keisha," cakap Radit.


"Iya, sebaiknya kita temui Mas Ratno hari ini juga!"


"Ya udah suruh ke sini aja sekarang. Jangan kelamaan," sanggah Hendra.


"Assalamualaikum," panggil seseorang di luar. 


Mereka bertiga saling tatap dengan dahi berkerut. Suara salam yang ada di depan rumah membuat mereka bertanya tanya siapa yang bertamu di pagi hari begini. 


"Bukan suaranya Pak Slamet sih," kata Aretha.


"Iya, masih muda. Aku lihat dulu ke depan deh," ucap Radit.


"Oke. Aku bikin roti bakar buat sarapan," tutur Aretha. 


"Tha, gue masih bingung, kenapa kita bisa bermimpi sesuatu yang sama, bahkan seakan akan runtut. Biasanya, kalau gue mimpi indah, terus kebangun, dan pengen lanjutin mimpi itu aja nggak bisa. Tapi ini kok bisa sama sih?" tanya Hendra.


"Iya, sama. Gue juga bingung. Tapi menurut gue sih, nggak perlu kita cari tahu bagaimana dan kenapa, tapi poin pentingnya kan kita dikasih tahu mengenai sesuatu yang mungkin bisa aja terkubur selamanya karena sampai sekarang kejadian itu pun belum terungkap."


"Iya, bener sih. Tapi gue masih nggak habis pikir, kok bisa Bu Jum melakukan hal sekeji itu. Gila sih menurut gue. Jadi bikin gue takut mau nikah," gumam Hendra.


"Halah, alasan aja. Bilang aja lo emang belum nemu jodoh," ejek Areta.


"Sayang, sayang! Ada Mas Ratno nih!" jerit Radit.


"Hah? Siapa, Hen?" tanya Aretha menanyakan lagi ke Hendra.


"Mas Ratno? Kalau gue nggak salah denger. Ini Mas Ratno yang ... itu?" tanya Hendra.


"Iya!" pekik Aretha.


Lalu langkah kaki terdengar masuk ke dalam. Suara Radit dan Ratno pun terdengar tak lama kemudian. Hendra dan Aretha menoleh dan melihat pemuda itu berjalan bersama Radit menuju ke dapur.


"Wah, kebetulan banget," ucap Aretha.


"Ini, tadi kami lagi ngobrol, dan pengen menemui Mas Ratno, tapi malah Mas Ratno datang sendiri ke sini," tutur Radit.


"Oh, ya? Memangnya ada apa, Mas, Mbak?"


"Eh, Mas Ratno sendiri ke sini ada perlu apa? Mungkin penting?" tanya Aretha. 


"Oh itu, saya cuma mau memberikan rincian bahan material yang kemarin dipakai untuk renovasi kamar mandi dan kamar atas. Terus ini ada kembaliannya. Saya mau serahkan kemarin, tapi Mas Radit belum pulang. Jadi saya berniat untuk memberikannya hari ini sebelum Mas Radit berangkat kerja. Eum, tapi ngomong-ngomong ada apa ya Kenapa Mbak Areta dan Mas Radit berniat untuk mencari saya? Apakah ada masalah atau Saya memiliki kesalahan selamanya bekerja kemarin?" tanya Ratno hati hati.


"Oh, enggak, Mas. Sama sekali bukan karena hal itu. Ini tentang hal lain," sahut Radit.


"Oh, begitu. Lalu ada apa, Mas?"


"Ini tentang Kinanti," timpal Aretha sambil memperhatikan wajah Ratno serius.


"Kinanti? Kinanti yang mana, Mbak? Kinanti anaknya Pak Slamet?"


"Iya. Sepertinya Mas Ratno dan Kinanti seumuran, ya?" tanya Aretha dengan sebuah pertanyaan yang ringan agar Ratno tidak terlalu berpikir yang tidak tidak.


"Oh, Kami memang dulu pernah satu sekolah. Dari TK SD SMP dan SMA. Karena sekolah di desa ini kan cuman satu dan nggak ada pilihan lain Jadi kami ini kenal sebagai teman sekolah."


"Oh, begitu, ya."


"Udah, jangan berbelit-belit kenapa sih, Ta. Langsung aja tanya ke poin intinya! Kelamaan lo ah!" sindir Hendra.


"Diem lo ih! Hehe. Maaf, ya, Mas. Temen saya ini emang kadang suka sedikit kurang ajar. Oh iya, ini Hendra temen kerja Radit. Semalam dia nginap di sini karena ...." kalimat aretha terhenti karena dia tidak tahu harus memberikan alasan Hendra menginap semalam.


"Karena diganggu setan!" sahut Hendra enteng tanpa tendeng aling aling.


Radit, Areta dan Ratno pun menatap Hendra dengan tatapan bingung. Apalagi dengan gaya ceplas-ceplosnya membuat Aretha sedikit tidak enak pada Ratno.


"Di ganggu setan? Di mana, Mas?" tanya Ratno yang justru menanggapi dengan serius perkataan Hendra.


"Di kantor. Tapi itu nggak penting sekarang. Gini gini, biar gue aja yang ngomong ah!" sambar Hendra.


"Hen, omongan lu disaring dulu. Jangan sembarangan ngomong lo!" titah Radit.


Ratno makin bingung dengan sikap tiga orang yang kini ada di sekitarnya itu. Hanya saja Dia pun hanya menunggu sampai mereka bertiga menceritakan kepadanya alasan dirinya sedang dicari saat ini.


"Jadi, semalam Kami bertiga mimpi satu kejadian yang sama. Di salah satu adegan mimpi Kami bertiga, ada Mas Ratno," tukas Hendra.


"Ada saya?"


"Iya, Mas. Jadi kami melihat Mas Ratno menggali makam Kinanti yang ternyata ada di kebun teh depan rumah ini. Apakah itu benar, Mas?" tanya Radit yang akhirnya menggantikan Hendra untuk menanyakan hal ini kepada Ratno.


Ratno membeku. Dia tampak tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut dan Hal itu membuat Areta, Radit, dan Hendra meyakini kalau apa yang mereka lihat di mimpi semalam adalah sebuah petunjuk.


"Eum, kalian bertiga bermimpi seperti itu? Kok aneh, ya, mimpinya," timpal Ratno yang justru tidak menjawab pertanyaan Radit tadi. Dia seakan-akan sengaja menghindari pertanyaan tersebut dengan sebuah pernyataan yang tidak menjawab apapun.


"Kami tahu kalau Kinanti dibunuh oleh seseorang. Dan, Mas Ratno yang menggali makam Kinanti, kan?" tanya Aretha.


"Mbak Aretha... Tahu dari mana kalau Kinanti dibunuh?"


"Kan gue tadi sudah bilang, kalau Kami bertiga mengalami mimpi yang sama dan lo ada di dalam mimpi kami. Sekarang mendingan lo Jawab jujur aja deh. Bener nggak Kalau lu itu menggali makam Kinanti dan mengambil mayatnya?" tanya Hendra tegas.


Ratno kembali diam sambil memperhatikan Hendra, Radit, dan Aretha.


"Hem, sebenarnya Kinanti belum meninggal. Dia masih hidup dan sekarang ada di tempat yang aman."


"Hah? Serius lo? Jadi Kinanti masih hidup?" tanya Hendra.


"Mas Ratno mengambil mayat Kinanti dan mengobatinya?" tanya Aretha.


"Terus dia di mana sekarang, Mas? Tunggu, berarti selama ini yang Areta pikir itu adalah sosok arwahnya Kinanti, itu sebenarnya memang Kinanti?" tanya Radit.


Merasa kewalahan karena di brondong pertanyaan bertubi-tubi oleh mereka bertiga, Ratno pun akhirnya menjelaskan Semuanya dari awal hingga akhir.


"Sebenarnya saya saat itu nggak sengaja melihat peristiwa itu. Awalnya saya memang mau pulang, setelah mencari rumput di dekat Dusun Kalimati. Tapi saat itu saya melihat Kinanti berdiri di kebun teh dan tiba-tiba di belakangnya ada sosok laki-laki yang menabraknya. Saat itu sebenarnya saya mau mendekat dan langsung menolong Kinanti. Tapi entah mengapa mendadak keberanian saya hilang, dan yang saya lakukan hanya melihat dari kejauhan Apa yang sebenarnya terjadi. Setelah Kinanti dikumpulkan oleh laki-laki itu saya langsung mendekat dan menggali kuburan itu untuk mengeluarkan tubuh Kinanti. Ternyata memang Kinanti sebenarnya belum Meninggal saat itu. Akhirnya diam-diam saya membawa Kinanti pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya."


"Kalau memang Kinanti masih hidup Kenapa dia tidak pulang dan memberitahukan tentang kejahatan itu ke polisi?" tanya Radit.


"Dia nggak mau melukai hati bapaknya, Mas. Mas Radit tahu sendiri kan Kalau Pak Slamet itu orang yang sangat baik. Kinanti itu sayang sekali sama bapaknya. Dia juga menceritakan semuanya kepada saya tentang apa yang sebenarnya terjadi hari itu. Tentang perselingkuhan ibunya dengan laki-laki pembunuh Kinanti tersebut. Kami berdua memang merencanakan untuk membongkar kebusukan Bu Jum. Hanya saja laki-laki itu justru tidak lagi pernah terlihat. Bahkan saya juga sudah mencari ke seluruh desa dan desa-desa yang ada di sekitar. Saya sebenarnya sudah mengetahui di mana dia tinggal. Tapi saat saya ke rumahnya, rumahnya justru kosong. Dia nggak ada di rumah. Kata tetangganya kemungkinan besar Pak Purno itu sudah pergi ke luar kota untuk bekerja. Karena dia memang sering kerja proyek di kota-kota besar jadi hal itu tampak biasa bagi tetangga-tetangganya."


"Pak Purno sudah meninggal, Mas," kata Aretha.


"Hah? Meninggal? Yang benar, Mbak? Meninggal kenapa? Kapan?" tanya Ratno balik menyerang Aretha dengan pertanyaan beruntun.


"Setelah dia menabrak Kinanti, dia dan Bu Jum terlibat perdebatan. Karena Bu Jum ternyata nggak Terima kalau Pak Purno membunuh Kinanti. Akhirnya, Bu Jum membunuh Pak Purno dan menguburkan mayatnya di halaman belakang rumah ini, bersebelahan sama makam Keisha," jelas Aretha.


"Ya Allah. Yang benar, Mbak? Bu Jum membunuh selingkuhannya sendiri?" tanya Ratno yang seakan-akan tidak percaya dengan penjelasan Areta.


Memang hal itu terdengar tidak masuk akal. Tetapi itulah yang benar-benar terjadi dan Kinanti serta Ratno tidak mengetahuinya.


"Terus Kinanti di mana sekarang?" tanya Hendra.


"Ada. Di rumah saudara saya yang memang tidak dipakai. Selama ini Kinanti tinggal di sana dan saya yang selalu memberikan kebutuhannya sehari-hari. Tujuan Kinanti memang ingin memberikan pelajaran kepada laki-laki itu dan juga ibunya. Dia juga sebenarnya ingin pulang tapi banyak pertimbangan yang membuatnya mengurungkan niatnya maka dari itu Kinanti hanya bisa berdiri di kebun teh depan. Dia ingin melihat bapaknya."


"Tapi apakah Pak selamat selama ini sama sekali nggak pernah melihat Kinanti? Padahal kalau memang Kinanti masih hidup seharusnya dia akan bisa terlihat dengan jelas kalau dia berdiri di depan sana, kan?" tanya Aretha.


"Kinanti memang muncul di waktu-waktu tertentu saja, Mbak. Jadi sejauh ini dia memang jarang sekali terlihat oleh orang lain terutama warga desa. Saya juga menyuruh dia untuk lebih berhati-hati karena takut kalau rahasia ini bisa terbongkar kalau dia ceroboh. Sekalipun ada yang melihat Kinanti maka saya akan membuat itu seperti sebuah peristiwa penampakan makhluk halus agar Kinanti aman."


" Oh Jadi sebenarnya yang membuat orang-orang berpikiran arwah Kinanti gentayangan itu adalah Mas Ratno sendiri?"


"Iya, Mbak."


"Oh ya, apa Kinanti juga tahu kalau yang membunuh Keisha adalah Pak Purno juga?" tanya Radit.


"Wah, kalau gitu sepertinya Kinanti nggak tahu. Jadi Keisha dibunuh oleh Pak Purno? Astaga, dia benar-benar orang yang jahat, bahkan anak sekecil Keisha saja dihabisi!"


"Oke, kalau gitu kita semua harus bersatu untuk mengungkapkan kejahatan ini!" tandas Hendra.


"Tapi, saya tanya Kinanti dulu, ya, Mas. Saya tidak yakin kalau dia mau mengungkapkan kejahatan ibunya."


"Tapi, Mas, kejahatan seperti itu seharusnya diungkapkan saja. Apalagi korbannya bukan hanya satu orang. Bagaimanapun kalau kita membiarkan di ujung bebas berkeliaran maka saya yakin kalau kejadian seperti ini pasti suatu saat nanti akan terulang lagi."


Ratno diam setelah mendengarkan kata-kata dari Areta. Dia sendiri tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Karena dari awal Ratna menolong Kinanti dia memang tidak ingin menjauhi urusan dan masalah Kinanti.


" Baiklah nanti saya akan sampaikan kepada Kinanti. Saya juga akan berusaha untuk membujuk dia untuk membongkar semua kebusukan ibunya. Kalau begitu saya pamit dulu. Sepertinya saya harus secepatnya menemui Kinanti untuk memberitahukan kabar ini," tutur Ratno.


"Iya, Mas. Kalau gitu hati-hati di jalan dan kami tunggu kabar selanjutnya dari Kinanti. Kalau bisa mungkin nanti sebaiknya bertemu dengan kami juga, Siapa tahu kami juga bisa membujuk Kinanti," tutur Radit.


"Baik, Mas Radit. Nanti akan saya kabari lagi. Saya permisi dulu. Assalamualaikum."


Setidaknya mereka bertiga sedikit lega karena mengetahui kalau Kinanti Sebenarnya masih hidup. Kini Tinggal mencari cara agar Bu Jum mau mengakui seluruh perbuatannya di masa lalu.


***


"Lo nanti balik ke sini lagi, Hen?" tanya Aretha.


"Hem, gimana, ya? Gue juga bingung, Tha. Soalnya gua juga sebenarnya masih takut kalau tinggal sendirian di mess. Lihat nanti deh ya. Kalau teman-teman yang lain Balik ke mess ya gue juga bakalan ikut balik ke mess. Walau Sebenarnya rumah ini dan mess sama-sama mengerikan sih. Tapi kalau di sini gue lebih tenang Soalnya ada lo sama Radit. Jadi kalau gue kenapa-napa kalian berdua bisa ikut bantuin gue kayak Jadian semalam tuh!"


"Iya, terserah lo deh. Ya udah, kalian berdua hati-hati ya. Sayang, tapi jangan pulang telat."


"Iya, Sayang. Nanti aku usahain pulang cepet deh."


"Oke deh."


Kedua pria tersebut akhirnya pergi meninggalkan rumah dan kembali ke rutinitas seperti biasanya. Walaupun menurut penuturan Hendra kalau kantor mereka berhantu, Tapi tentu saja tidak membuat mereka semua bolos bekerja hari ini.


Aretha sendirian di rumah. Karena hari ini memang bukan jatah Bu Jum dan Pak Slamet untuk datang ke rumahnya. Mereka berdua baru datang besok. Sehingga Areta pun memiliki persiapan untuk melakukan beberapa hal sebelum bertemu dengan Bu Jum.