
Azan maghrib baru saja berkumandang. Aku yang masih sibuk dengan laptop di depan, masih saja tak bergeming sedikit pun dari kursi yang berada di teras depan rumah. Sementara Danu ada di dalam, katanya hendak memasak camilan untuk kami santap berdua. Kebetulan Bu Heni dan Pak Karjo tidak berada di rumah. Aku masih berkutat dengan beberapa file yang sudah aku simpan di laptop milikku. Yang rencananya akan menjadi materi untuk anak-anak esok hari dan beberapa hari ke depan. Jadi nanti aku hanya tinggal mematangkan saja semua materi mentah yang sudah berhasil aku kumpulkan sebelum datang ke desa ini.
"Tha, masuk ih. Maghrib!" kata Danu yang muncul dari balik pintu.
Tanpa mengalihkan tatapan dari layar di depan, aku hanya menggeleng. " Bentar lagi, Dan. Tanggung. Kamu masak apa tadi? Udah jadi?" Aku masih sibuk mengetik dan hanya fokus ada apa yang ada di depanku ini.
"Udah. Lah ini, mau dimakan sini saja?" tanya Danu lalu ikut keluar rumah dan membiarkan pintu terbuka lebar. Aroma pisang cokelat keju membuat perhatianku teralihkan. Dengan mata berbinar aku menyambut makanan buatan Danu.
Kami berdua menikmati camilan ini sambil berdiskusi tentang kegiatan esok hari.
"Udah, salat?" tanyaku sambil melirik pria di samping, yang tengah menikmati teh hangat dan pisang cokelat keju perdananya.
"Udah dong."
Senja mulai bergeser digantikan oleh malam. Azan magrib seolah bersahutan dari berbagai tempat. Pandangan ku teralih, ke halaman rumah yang mulai gelap.
"Kenapa, Tha?" tanya Danu ikut memperhatikan apa yang sedang aku lakukan. Aku yang awalnya masih duduk di kursi, kini justru memutuskan berdiri. Berjalan lebih mendekat ke halaman di depan rumah. Entah kenapa ada perasaan was-was, ada sesuatu di sana yang belum terlihat olehku sekarang.
"Tha? Kenapa?" tanya Danu lagi. Dia sudah berdiri di samping ku dan ikut mencari apa yang sedang aku telusuri.
"Ngapain kamu?" tanyaku menoleh padanya.
"Lah, elu ngapain? Aneh. Ada setan?" tanyanya spontan dan selalu menjurus ke perdemitan.
"Setan terus pikiranmu!" cetus ku lalu memukul lengannya pelan. Aku lantas kembali ke kursi, berniat membereskan semua barang di atas meja. Tapi aku kembali menoleh, dan itu membuat Danu ikut curiga dengan sekitar.
"Tha, kalau ada setan, tinggal ngomong, jadi gue siap-siap ini," ujarnya.
"Siap-siap ngapain?"
"Masuk lah!"
Aku menyipitkan mata lalu menutup laptop dan berjalan masuk ke dalam. Seseorang melempar kerikil ke jendela. Terdengar jelas dan nyaring sehingga membuat kami berdua berhenti berjalan dan menoleh ke sumber suara tadi.
"Astaga, Tha! Lupa! Kan kita nggak boleh keluar rumah pas magrib!" pekik Danu melotot padaku. "Yuk, buruan masuk!" ajaknya sambil menarik tanganku.
Aku menuruti Danu dan masuk ke dalam rumah walau ragu. "Tha, korden di tutup heh!" cetusnya mirip ibu tiri dalam sinetron. Laptop kuletakkan di meja, pikiranku masih menerawang entah ke mana, tapi gerak tubuhku mengikuti apa yang Danu suruh. Dari ujung ruangan, aku mulai menarik korden dengan motif bunga yang rasanya cukup panjang dan mampu menutupi jendela ruang tamu ini. Perlahan aku mulai menarik kain tersebut, sambil terus mengawasi keadaan di luar.
"Gimana? Lihat sesuatu nggak, Tha?" tanya Danu yang kini berdiri di sampingku. Aku diam beberapa saat, lalu menggeleng yakin. Tapi tetap merasa kalau sesuatu yang aneh di luar.
"Dan, kamu merasa dingin nggak?" Aku mulai merasa tidak nyaman, menatap sekeliling ruang tamu yang terasa sunyi. Hanya kami berdua di sini sekarang.
"Iya, perasaan jendela udah ditutup semua. Ini angin dari mana, ya?" tanya Danu memperhatikan celah celah lubang angin di sekitar ruang tamu.
Aku melirik Danu saat suara cicak terdengar nyaring di sekitar kami. Tapi rasanya suara ini aneh. Tidak seperti cicak yang biasa aku temui sebelumnya.
"Denger nggak?" tanyaku menatap dinding dan mencari sumber suara itu.
"Denger. Suara cicak gede amat ya, Tha."
"Kayaknya bukan cicak, Dan."
"Serius lu?" tanyanya, makin mendekat padaku.
"Perhatikan sekitar! Hati-hati! Perasaan gue nggak enak!" cetusku. Danu mengangguk dan menyapu pandang ke sekitar. Mencari pergerakan aneh yang mungkin terjadi secara mendadak.
"Tha ... Itu apa?!" tanya Danu menunjuk ke sudut ruang tamu yang terhubung ke koridor belakang rumah.
Sesosok wanita terlihat menempel di tembok, berjalan dengan cara merayap layaknya cicak. Mulutnya bergerak dan mengeluarkan suara yang mang mirip cicak. Aku dan Danu mundur, karena kami yakin makhluk di sana bukan manusia.
"Setan apa ini, Tha?" bisik Danu dengan pertanyaan yang ingin kulontarkan juga. Wajahnya tampak tua dengan menyeringai dengan ekspresi menakutkan.
"Dan, sepertinya itu yang namanya ... Ummu Sibyan!"